Sunyi. Tak ada yang membuka suara. Hanya dentingan garpu dan sendok yang menemani kami pagi itu. Aku, Hema (ayahku), Evi (ibuku) dan Calvin.
Tepat hari ini, aku kembali masuk sekolah. Lebih tepatnya lagi, sekarang aku kelas 12. Astaga, aku tidak menyangka waktu berjalan secepat ini. Baru saja kemarin rasanya aku berperang menempuh ujian nasional saat SMP. Kudengar, ibuku menanyakan pada Calvin tentang sekolah barunya di SMP.
"Kamu rajin belajar ya, Vin. Mamah berharap kamu yang akan meneruskan perusahaan Papah nanti," katanya begitu.
"Iya, Papah mau kamu nerusin perusahaan Papah, Vin. Dan Papah juga berharap, Happy yang nerusin kedai kopi Papah." Aku menoleh ke arahnya. Meresapi perkataan ayahku.
"Hm ... kayaknya nggak bisa deh, Pah." Kami sontak menoleh ke arah sumber suara.
"Kenapa?" tanya ayahku pada ibuku.
"Kamu kan tau Pah, Happy itu nggak punya jiwa pemimpin. Dia lebih sibuk dengan dunianya sendiri. Mamah nggak yakin sama dia, yang ada perusahaan kedai kopi kita bisa bangkrut," katanya dengan tatapan sinis ke arahku. Aku tersenyum. Sudah kuduga akan seperti ini. Toh, aku nggak pernah mengharapkan harta orang tuaku diberikan padaku.
"Iya, aku juga belum siap," jawabku begitu.
Setelah itu keadaan hening. Calvin pamit berangkat ke sekolahnya, lalu menyalimi tangan mereka. Setelah itu aku, namun keduanya enggan menyambut salaman dariku. Aku tahu sih akan seperti ini, tapi setidaknya ada usahaku untuk mengharapkan mereka menyambut juluran tanganku.
Tiba-tiba saja di saat aku sedang memakai sepatu, perutku terasa mual. Kulepas sepatuku, kemudian berlari ke kamar mandi untuk muntah. Sudah dua minggu sejak kejadian itu, selama liburan ragaku dilanda ketakutan. Entah karena apa. Namun, anehnya aku lebih sering pusing dan mual-mual tidak jelas. Pikiranku menjurus pada satu titik. Tapi segera kusingkirkan jauh-jauh, dan berharap itu semua tidak akan pernah terjadi.
Aku berangkat naik bus kota menuju sekolahku. Sekitar lima belas menitan aku sampai di depan gerbang sekolah. Senang rasanya sudah jadi senior di sekolah ini. Pasti ramai anak baru. Aku bertanya pada salah satu siswa angkatanku di mana kelasku. Setelah kutahu, aku berjalan melewati lorong dan ruang guru untuk sampai ke kelasku. Kemudian belok kanan dan menaiki tangga. Setelah itu belok kanan lagi lalu sampai.
Kulihat beberapa temanku sudah duduk, ada juga yang sedang mengobrol. Aku duduk di barisan ketiga dan meja ke empat dari depan. Bukan ingin duduk di situ, tapi kulihat tidak ada lagi meja kosong. Yasudah terpaksa deh.
Brakk
Semua pasang mata mengarah pada pintu yang terbuka lebar. Hatiku berdegup kencang. Aku tahu siapa yang datang. Geng Lion. Astaga. Aku takuttt Tuhan. Aku takut harus bertemu dengan dia lagi. Aku jadi teringat lagi soal kejadian itu.
Sedikit kuceritakan tentang geng Lion. Lion berarti singa. Sama seperti sifat dan perilaku mereka. Terdiri dari lima orang dengan dua perempuan tiga laki-laki. Mereka ditakuti bahkan sejak pertama masuk. Paras tampan dan cantik yang mereka miliki membuat orang menyukainya diam-diam. Mereka dijuluki singanya SMA Trinity.
"Awas!" kata Sara padaku.
"Lo ngapain disini?!" tanya Ricca padaku.
"Duduk," jawabku polos.
"Awas! Ini tempat kita!" kata Sara lagi padaku. Aku diam. Lalu kuambil tasku lalu aku berdiri hendak keluar kelas.
"Nggak usah! Biarin dia di sini." Aku menoleh ke Raffa yang menahanku.
Semua diam. Aku duduk lagi. Sara dan Ricca duduk di belakangku. Raffa dan Alvaro duduk di meja sebelahku. Lalu Rian, duduk di samping Iqbal seksi keamanan di kelasku. Tak lama kemudian, Sofi datang lalu langsung duduk di sebelahku. Kulihat wajahnya bingung menatapku. Aku tahu maksud dari Sofi. Pasti dia bingung, kenapa aku pilih tempat duduk di sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]
RomansaNovel Happy Story sudah bisa dipesan! Ikutan juga Pre-order keduanya pada tanggal 18 Januari 2022. Semua berubah ketika aku dinyatakan : hamil. Kenyataan pahit itu harus kuterima walau sakit yang mendalam. Namun, semua kembali berubah ketika dia, m...
![HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/219210002-64-k723781.jpg)