Selamat membaca teman-teman💗
•
"Nggak usah senyum! Senyum lo pait. Muka lo standard. Nggak ada menarik-nariknya sama sekali!" ketusnya padaku.
Brakk
Pak Budi menggebrak meja guru. Mungkin ia kesal karena ucapan Alvaro yang pedas. Padahal aku tak memperdulikannya. Toh, semua yang diucapkannya itu nyata.
Pak Budi memarahi sebentar Alvaro namun ucapannya terhenti di saat bel istirahat berbunyi.
"Udah Pak ngomongnya? Saya lapar, mau makan. Permisi Pak. Woi, ayo!" serunya pada kawannya lalu mereka membuntuti di belakang Alvaro.
Semua berhamburan menuju kantin, kecuali aku tetap berada di kelas. Sofi pergi ke ruang OSIS karena ia akan rapat. Sofi berperan sebagai bendahara OSIS. Kubuka novel lalu kubaca. Tiba-tiba, pintu terbuka menampilkan Raffa masuk sendirian. Hatiku berdegup kencang. Apa mungkin ini saatnya untuk bilang soal kehamilanku? Tapi bagaimana ngomongnya? Aku takut salah.
Dengan gemetar, kupanggil dia. "Raf," ucapku lalu dia menoleh. Ia mengambil ponselnya yang tertinggal di kolong mejanya. Itu sebabnya ia kembali ke kelas. Ia menjawab dengan raut wajah tanda tanya.
"Gue mau ngomong sesuatu."
"Kenapa?" tanyanya dengan suara datar. Ini beda sekali. Di saat ada kawannya, ia bersikap seolah tidak pernah mengenalku lebih jauh.
"Itu ... hm ...," ucapku gemetar.
"Apaan sih? Cepetan gue mau makan,"
kulihat kanan dan kiri juga seluruh sudut memastikan tidak ada satu orangpun yang mendengar percakapan ini. Setelah aman, aku siap bicara.
"Raf, gue hamil."
Dia diam. Tak bergerak sedikitpun. Matanya menyorot padaku. Lama-lama turun melihat ke arah perutku. Dia masih diam.
"Gue nggak percaya," jawabnya.
"Gue kemarin udah periksa Raf," ucapku lalu menunduk.
"Itu bukan urusan gue. Itu anak lo! Ada di perut lo! Jangan minta gue buat tanggung jawab, paham?! Awas aja lo! Dan inget, anak yang ada di perut lo, bukan anak gue! Ngerti?!" Aku mendongak. Melihat dia pergi meninggalkanku.
Kutarik tangannya kemudian kutanya lagi. "Raf, gimana?" kataku lesu.
"Bukan urusan gue anjing!" Lalu ia menghempas tubuhku sampai terjatuh du lantai. Aku tidak menangis. Peristiwa ini sudah bisa kuprediksi sebelum kurencanakan. Aku tahu pasti Raffa menolaknya. Lalu, bagaimana nasibku dan janinku?
Di sisi lain, Raffa tidak nafsu makan. Otaknya dipenuhi ucapanku barusan. Ini benar-benar terjadi. Astaga. Apa yang harus ia lakukan? Apa berpura-pura itu bukan anaknya. Atau tidak mengakui saja? Ricca menatap bingung melihat Raffa yang muram. Tapi setiap ditanya, Raffa selalu menggeleng.
"Eh, udah lama nih kita nggak ngerjain si Happy sampe nangis hihihi," kata Sara mengusulkan.
"Iya juga ya, udah lama hahaha," tawa Rian.
"Libur dua minggu lama juga ya rasanya, hahaha," ucap Ricca lalu terkekeh geli.
"Al, lo setuju nggak kalau kita bikin si anak tikus itu nangis lagi?" tanya Sara pada sang ketua geng. Belum Alvaro menjawab, Raffa sudah berdiri lalu pamit pergi.
"Gue duluan." Lalu dia pergi begitu saja. Hatinya acak-acakan. Bingung harus bersikap bagaimana atas pikirannya yang tengah berkecamuk.
Raffa beranjak menuju rooftop sekolah. Sejenak merilekskan otaknya agar tidak terlalu penat. Tiga kata yang dikeluarkanku tadi, berhasil membuatnya pusing tujuh keliling.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]
RomanceNovel Happy Story sudah bisa dipesan! Ikutan juga Pre-order keduanya pada tanggal 18 Januari 2022. Semua berubah ketika aku dinyatakan : hamil. Kenyataan pahit itu harus kuterima walau sakit yang mendalam. Namun, semua kembali berubah ketika dia, m...
![HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/219210002-64-k723781.jpg)