Marah adalah awal mula hadirnya perasaan yang nyata.
Aku masuk ke dalam kamar hendak mandi. Untung saja tadi aku bisa mengelaknya. Jadi aku tidak menuruti permintaannya. Selama aku mandi, otakku dipenuhi oleh permintaan Alvaro yang berhasil kutolak. Bukannya kesal, tapi aku malah senyum-senyum sendiri. Aku tidak menyangka kalau Alvaro meminta seperti itu. Ah, sudahlah. Lupakan.
Aku bergegas menuju meja makan untuk sarapan pagi. Di sana sepi. Bik Nani sedang ke pasar membeli kebutuhan dapur yang sudah hampir habis. Pak Husin juga sedang jaga di depan. Ruangan besar ini sudah bersih. Kulahap nasi goreng itu kemudian kucuci setelah selesai makan. Aku bingung mau ngapain setelah ini. Mau jalan-jalan keluar, tapi Alvaro menyuruhku di rumah saja. Kalau aku membantah, bisa-bisa aku di bully kayak dulu. Nggak deh, udah kapok. Akhirnya, aku memutuskan ke kamar Alvaro saja.
Karena tidak ada kerjaan, aku merapikan kamarnya sampai benar-benar rapih. Mulai dari lemari sepatunya yang besar, lemari tasnya, menyikat kamar mandi, menyapu balkon, merapikan bunga hiasan di balkon dan lain-lain sampai selesai sekitar pukul setengah sepuluh siang. Aku bergegas menuju balkon, kemudian hendak memainkan ponsel. Tiba-tiba ponselku berdering dan tertera nama Sofiya.
"Haiiiiii Tatakuuuhh!" Suara kencang itu dari arah sana.
"Kok nelfon, Sof? Nggak ada guru?"
"Ih pea! Jangan bilang gara-gara udah nggak sekolah jadi lupa kalau jam segini lagi istirahat, ha ha ha." Aku menepuk kening karena memang benar lupa.
"Ha ha ha, sekarang lagi di mana?"
"Kantin sama anak kelas."
"Oh."
"Eh iya gue mau cerita sama lo." Nada bicara Sofi berubah menjadi agak serius.
"Cerita apa?"
"Soal laki lo."
"Laki siapa?"
"Laki lo goblok, si Alvaro." Aku menepuk kening untuk kedua kalinya.
"Kenapa?"
"Dia sekarang lebih sering main berempat tau. Raffa jarang nimbrung sekarang. Waktu pas kapan ya?? Hm.. Kalo nggak salah hari rabu deh, si Alvaro berantem sama Raffa." Aku diam sejenak. Kaget maksudnya.
"Berantem?"
"Iya. Tapi nggak lama, bu Asih langsung ngelerai. Tapi gue denger Alvaro nyebut nama lo, Ta. Tapi nggak tau kelanjutannya gimana." Keningku mengerut. Mereka berantem karena aku?
Kriingg...
Kudengar dari seberang sana bunyi bel masuk.
"Eh udah ya, Ta. Bel masuk, bye!"
Tut tut tut
Kututup ponselku kemudian menatap langit yang sangat cerah hari ini. Tidak terlalu panas juga tidak mendung. Cuaca yang mendukung. Bel kamar Alvaro berbunyi. Aku menoleh lalu keluar menemui siapa yang ingin datang.
"Ada temen Den Al mau ketemu neng," kata Bik Nani.
"Eh? Aku?" Si bibik mengangguk.
Segera kututup pintu kemudian menuju ruang tamu. Betapa terkejutnya aku, di saat kulihat Raffa sudah duduk di sofa. Dia mendongak menyadari kedatanganku. Aku ingin lari tapi aku lupa di sini ada Bik Nani. Bisa repot urusannya nanti. Aku duduk berhadapan dengan Raffa. Bik Nani menawarkan minum tapi Raffa menolak.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]
RomanceNovel Happy Story sudah bisa dipesan! Ikutan juga Pre-order keduanya pada tanggal 18 Januari 2022. Semua berubah ketika aku dinyatakan : hamil. Kenyataan pahit itu harus kuterima walau sakit yang mendalam. Namun, semua kembali berubah ketika dia, m...
![HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/219210002-64-k723781.jpg)