HS
•
Aku berdiri menatap restaurant besar —bukan milik Alvaro— dengan mobil berderet rapi. Aku jalan menyusul Alvaro yang berjalan lebih dulu. Entah, ini ada acara apa. Mungkin pertemuan seperti tadi siang yang aku tidak tahu tujuannya apa.
Sesekali pelayan tersenyum akrab seperti sudah kenal dengan Alvaro. Kemudian pelayan itu menunjuk ke arah sudut pojok yang kulihat sudah ramai sekali. Alvaro mengangguk, lalu bergegas menghampiri tempat tersebut.
Aku melongo. Melihat Ricca, Sara, Rian dan sebagian besar lagi aku tidak mengenal. Raffa tidak ada. Namun, mataku tersorot pada seorang perempuan dengan tubuh dan wajah cantik sedang asik menyeruput soda. Dia, orang yang sudah dua kali ke rumah Alvaro, dan kalau tidak salah kudengar namanya Manda.
Semua menoleh ke arahku, wajah datar lalu tersenyum samar. Kubalas dengan senyuman kikuk. Aku duduk di samping Alvaro yang masih sibuk tosan dengan kawan-kawannya.
"Gila, ke mana aja lo, bos?!" ucap laki-laki bernama Qeenan sambil tertawa.
"Yang udah married mah beda, jing!" sahut laki-laki bernama Ricky.
"How are you, boss? Are you getting rich or not? Ha ha ha," ujar laki-laki bernama Revan tertawa. Alvaro bungkam, sesekali kulihat dia tersenyum simpul.
Ricca menoleh ke arahku. Bukannya melotot, tapi dia tersenyum. Senyum yang tulus, bukan seperti buatan. Seorang pelayan membawa dua gelas soda untuk aku dan Alvaro. "Give me one warm chocolate milk," ucap Alvaro pada si pelayan.
Tak lama kemudian, pelayan kembali dengan membawa pesanan itu. Alvaro mengganti minuman soda dengan susu coklat hangat untukku. Aku tersenyum. Dia lumayan perhatian.
Perempuan bernama Manda berpindah duduk menjadi di samping Alvaro. Tersenyum menatap aku. Namun, aku tersentak ketika tangannya meraih tangan Alvaro. Menggenggam erat. Menidurkan kepalanya di bahu kanan Alvaro.
"Manda! Are you still in your right mind?" teriak Rian dengan wajah bingung. Alvaro tidak mengelak, diam dan bersikap biasa saja.
"Aku kira kamu nggak akan ke sini," ucap Amanda pada Alvaro.
"Makasih ya udah luangin waktu kamu buat dateng kumpul," ucap Amanda lagi. Alvaro mengangguk samar.
Amanda memberikan satu botol minuman yang aku nggak tau itu minuman apa. Intinya, itu bukan air mineral. Alvaro meraih lalu menaruhnya di atas meja. "Kenapa nggak di minum?" tanya Amanda dengan nada agak manja.
"Nggak pengen," jawab Alvaro singkat.
Sara menawarkan roti padaku. Kuambil satu kemudian kumakan. Sebenarnya aku tidak nafsu, hanya saja aku menghargai pemberian dia. Bayangkan kalau tidak kuterima, lalu dia kesal, lalu melempar semua rotinya ke arahku, lalu menjabambakku, mendorongku sampai tersungkur, lalu mengguyurku dengan minuman gimana?
"Py!" Aku tersentak, menoleh ke arah Ricca yang baru saja memanggilku.
"Kenapa?" tanyaku kikuk.
"Itu susu lo di minum. Nanti dingin," katanya begitu, aku mengangguk.
Aku melirik ke arah Alvaro juga Amanda yang masih nyaman bersandar di bahu Alvaro yang kekar. Aku mendelik. Aku saja yang istrinya belum pernah bersandar seperti itu. Dia siapa? Bisa-bisanya.
"Can i kiss you?" bisik Amanda. Alvaro menaikkan satu alisnya. Belum dia menjawab, Amanda sudah lancang mencium bibir Alvaro.
Cup.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]
RomanceNovel Happy Story sudah bisa dipesan! Ikutan juga Pre-order keduanya pada tanggal 18 Januari 2022. Semua berubah ketika aku dinyatakan : hamil. Kenyataan pahit itu harus kuterima walau sakit yang mendalam. Namun, semua kembali berubah ketika dia, m...
![HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/219210002-64-k723781.jpg)