HAPPY 22

75.7K 5.9K 973
                                        

Selamat membaca.

•••
Malam semakin larut. Tapi aku juga belum bisa tidur. Selepas menangis terisak, aku ke depan jendela. Menatap waktu yang terus bergerak maju. Sudah pukul dua belas, tapi Alvaro juga belum pulang. Menatap awan gelap dan jalanan yang basah sambil menopang dagu dengan kedua tangan. Menatap sendu.

Apa aku sudah terlanjur sayang dengan Alvaro? Kenapa akhir-akhir ini, semenjak kehadiran Amanda aku jadi terusik? Atau terbalik? Kehadiran aku membuat Amanda jadi terusik?

Kudengar suara tapak kaki melangkah menaiki anak tangga selangkah demi selangkah. Namun, bukannya menunggu, aku malah beringsut ke ranjang. Menarik selimut sampai menutupi kepala. Pura-pura tidur.

Pintu kamar terbuka. Alvaro berdiri di depan ranjang. Menarik handuk, mandi. Aku belum juga bisa tidur. Malah menunggu, mendengarkan dan mengamati gerak-gerik Alvaro dari dalam selimut.

Kudengar, dia membuka lemari. Mengambil kaus. Kemudian mendekat ke arah ranjang. Aku pura-pura mendengkur. Berharap tidak ketahuan. Aku tahu, Alvaro mau melakukan apa.

Perlahan, tangannya membuka selimut. Menampilkan wajah dengan mata tertutup rapat. Alvaro menarik selimut sampai menutupi dadaku. Aku kira dia akan tidur. Ternyata, tidak. Aku mengintip. Dia duduk di sofa. Menatap ke arah luar jendela. Wajahnya tidak bisa kujelaskan.

Tangannya meraih ponsel, menelepon seseorang.

"Apaan?"

"..."

"Nggak tau!"

"..."

"Gue nggak tau anjing!"

"..."

"Au ah!"

Tanpa sadar, Alvaro menendang meja belajarnya. Aku tersentak kaget, langsung bangun dari tidur. Alvaro menoleh ke arahku. Wajahnya memerah. Dia mendekat, duduk di depanku.

"Tadi pulang sama siapa?" tanyanya dengan wajah dingin. Aku terdiam sejenak.

Tanpa takut, aku menjawab, "Raffa."

Untuk kedua kalinya dia menendang meja belajarnya. Membuat beberapa peralatan yang kususun rapih berjatuhan. Aku berdiri, takut-takut mendekat. Memegang lengannya.

"Kamu kenapa sih?" tanyaku panik.

"Lo tanya gue kenapa?! Lo tadi berduaan sama bajingan! Sebenernya, mau lo itu apa sih?!"

Aku terdiam, membeku.

"Lo inget nggak, siapa yang bikin lo jadi kayak gini?! Lo selalu bilang, kalo lo benci dia! Tapi apa? Setiap ketemu Raffa, pasti mau ikutin permintaan dia!" Alvaro berkata ketus.

"Tadi ujan, Al. Taksi nggak ada yang lewat." Aku berucap dengan gemetar.

Wajah sangar Alvaro kulihat lagi setelah sekian lama ia menimbunnya. Alvaro menghempas tanganku.

"Bukan alasan, Py! Apa susahnya lo naik taksi online?! Apa susahnya, hah? Atau emang lo nya aja yang mau berduaan sama Raffa?!"

Aku menggeleng tegas. Aku tahu, aku salah. Dari awal aku selalu bilang tentang kebencianku terhadap Raffa. Tapi, apa aku harus menunjukkan di depan tentang kebencian itu padanya? Tidak, aku masih punya perasaan.

Wajar, Alvaro marah. Wajar. Semua kemarahan Alvaro itu wajar. Dia bebas benar. Dia sudah melebihi kata baik bagiku. Dia sudah menolong dan merubah segalanya.

"Maaf."

Hanya kalimat itu yang terucap. Selalu kalimat itu. Aku mengalah. Sebenarnya, dalam hati aku merutuki diriku sendiri yang tak gerak meraih ponsel, menunjukan foto itu.

HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang