Happy reading teman-teman✨
•
•
"Makasih El, Nenek Kakek jadi ngerepotin kamu, mau mampir dulu?" tanya Nenek pada Miguel.
"Saya nggak ngerasa begitu kok, Nek. Lain kali, saya masih ada urusan," tolak Miguel lalu mereka turun dari mobil terlebih dahulu.
"Makasih ya Guel, makasih banyak," ucapku padanya.
"Santai, Py. Oh iya, kalau lo lagi butuh bantuan apapun itu, lo bisa minta tolong sama gue, akan gue bantu. Pasti," katanya dengan mantap. Aku tersenyum lalu mengangguk. Kemudian turun dan menyusul Nenek yang sudah masuk ke dalam rumah.
Hari ini aku menginap di rumah Nenek. Mumpung besok libur sekolah, itung-itung main. Nenek dan Kakek sudah tidur di kamarnya. Sedangkan aku, belum bisa tertidur. Aku duduk di sofa sambil menonton tv. Aku baru ingat, tadi masih ada bakwan sisa. Segera kuambil juga nasinya. Lalu kumakan sambil menonton tv. Lama kelamaan rasa kantuk pun menghampiri. Segera bergegas menuju kamar untuk bergurau dengan alam mimpi.
Aku bangun sekitar pukul sepuluh siang. Sempat solat shubuh tapi tertidur lagi. Astaga. Aku lupa. Aku ada janji. Sebenarnya bukan janji sih, karena aku belum menyetujuinya. Namun, sipenelepon kemarin seperti memaksaku untuk menuruti kemauannya.
Setelah menemui Nenek dan Kakek yang sedang menonton tv, aku bergegas menuju ruang makan untuk sekedar mengisi perutku agar tidak masuk angin. Aku mandi dan bersiap untuk berangkat ke tempat tujuanku.
"Tata jalan dulu ya, Nek," ucapku sambil menyalimi kedua tangan mereka.
"Nenek sama kakek jaga diri baik-baik. Mungkin lusa, Tata bisa ke sini lagi. Tapi Tata nggak janji ya," kataku kemudian mencium pipi mereka berdua.
Nenek mengangguk. "Iya, Ta. Nenek malah maunya setiap hari kamu ke sini. Tapi nenek ngerti, kamu sekolah." Aku tersenyum lalu mengangguk.
Belum sampai keluar gerbang, Nenek memanggilku.
"Ta, Nenek mau tanya sebentar," ucap Nenek lalu aku mengangguk.
"Mamah sama Papah masih kasar sama kamu?"
Aku terdiam. Sebenarnya sudah kuduga Nenek akan melontarkan pertanyaan ini. Semenjak enam bulan yang lalu sejak Kakek dinyatakan terkena penyakit stroke, ibu dan ayahku sudah tidak pernah mengunjungi rumah Nenek. Lagipula, Nenek juga enggan menemuinya. Berkali-kali kutawarkan untuk sekali-kali menengok keadaan Kakek tapi ibu selalu beralasan sibuk mengurus Cafe. Begitupun dengan ayah, sibuk dengan urusannya.
"Ta, kok diam?" Lamunanku tersadar di saat Nenek menegurku.
"Eng-enggak kok Nek," jawabku bohong. Aku tidak mau menambah beban pikiran nenekku. Berharap ia tenang menikmati usia tuanya walaupun sang anak enggan sekalipun menjenguknya.
"Nenek tau kamu lagi bohong Ta," ucap Nenek seraya mengelus rambut panjangku.
"Tata baik-baik aja, Nek. Nenek nggak perlu khawatir soal Tata. Oke?" jelasku dengan wajah yang kubuat baik-baik saja.
"Yasudah pulang sana, nanti mamahmu marah," kata Nenek lalu aku tersenyum.
Kutunggu bus untuk berangkat. Bukan pulang ke rumah, aku hendak pergi ke tempat yang dikirimkan penelepon kemarin sore. Aku duduk di paling belakang, berdampingan dengan satu orang bapak-bapak juga satu orang ibu yang sedang mengandung sekitar enam bulanan. Bus berhenti menandakan ada penumpang yang hendak duduk. Kakek tua itu mencari-cari tempat yang masih kosong tetapi sudah penuh semua. Kuteringat soal Kakekku yang sedang sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]
RomanceNovel Happy Story sudah bisa dipesan! Ikutan juga Pre-order keduanya pada tanggal 18 Januari 2022. Semua berubah ketika aku dinyatakan : hamil. Kenyataan pahit itu harus kuterima walau sakit yang mendalam. Namun, semua kembali berubah ketika dia, m...
![HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/219210002-64-k723781.jpg)