Selamat membaca.
•
Diperjalanan lumayan macet karena ini hari libur. Aku menatap ke arah jendela melihati mobil yang sejajar juga dengan mobil Alvaro. Sesekali ada motor yang menyalip dan membuat mataku mengikuti arah perginya. Begitu saja terus sampai lampu merah berubah warna menjadi hijau.
Mobil masuk ke area parkir kemudian memberhentikannya tepat di tengah dua garis putih. Aku turun, dia juga. Sepanjang jalan basement, banyak sekali yang melihat ke arah Alvaro tapi ia tidak menanggapinya.
"Pilih terserah yang mana," katanya dengan wajah datar.
Beberapa kali aku menyukai baju berwarna soft pink namun setelah kulihat harganya, kuurungkan niat. Coba saja Alvaro mengajakku ke toko baju biasa, pasti harganya masuk akal semua. "Kalau lo suka ambil," katanya kemudian berdiri di sampingku.
Aku menggeleng. "Mahal banget."
Dia memegang baju yang sedang kupegang, "Ambil aja, ini bagus."
"Tapi kan mah–"
"Lo tuh tinggal ambil doang aja susah ya?" tanyanya dengan wajah yang mulai kesal.
Alvaro membayar sekiranya enam baju juga dua celana panjang dan dua celana hotpants. Aku berdiri di belakangnya sambil terus menatap punggung kekarnya. Tiba-tiba ada segerombolan cewek kisaran kelas 10 SMA datang menghampiri Alvaro. Aku tidak kenal, hanya menebak perkiraan usia jika dilihat dari wajah dan cara berpakaiannya.
"Kak Alvaro ya?" Ia menoleh sembari memberi pelayan kartu Atmnya. "Aku Nita, ini Zizah, ini Indy, ini Malla, dan ini Zahra. Kakak ketua Lion ya? Boleh minta foto nggak kak? Boleh ya kak?" Rengeknya disahut teman-temannya.
Alvaro mengambil tiga kantong belanja lalu yang satunya dikasih padaku. Segerombolan cewek itu menoleh melihatku. Mereka tampak bingung. "Kak boleh minta foto nggak? Aku ngefans sama kakak tau! Kak foto kak," rengeknya terus menerus.
Tiba-tiba tanganku terasa ada yang memegang. Kulihat, astaga Alvaro menggenggam tanganku.
"Gue sibuk!"
Mereka terlihat cemberut, namun terus berusaha mengejar Alvaro yang wajahnya sudah kesal sekali. Seketika menjadi riuh. Semua pengunjung menoleh dan menyorot melihatiku. Satpam datang dan menyuruh segerombolan cewek itu untuk jangan berisik. Tapi tetap saja, mereka mengejar Alvaro.
Kuhentikan langkah, kemudian menoleh. "Al, dia cuma minta foto kok, udah sana. Kasihan." Ia menaikkan satu alisnya.
"Apaan sih!" Dengan cepat kuraih tangannya.
"Kasihan mereka, Al."
Kupanggil segerombolan cewek itu kemudian menyuruh Alvaro untuk mau di foto walau wajahnya terlihat kesal di saat tangannya digelendoti oleh cewek-cewek. Aku terkekeh geli melihat Alvaro yang bersikap seperti itu. Bahkan, aku nggak pernah menyangka bahwa Alvaro punya fans di luar sana. Kukira hanya anak SMA Trinity doang yang suka sama dia. Padahal, jika mereka tau sifat Alvaro dulu, bisa jadi mereka mengurung niat untuk nge-fans sama Alvaro.
Aku bergegas menuju pusat perbelanjaan kebutuhan bulanan hendak membeli susu. Ah, aku jadi nyesek lagi kan. Bayangkan, seusiaku membeli susu ibu hamil? Sudahlah, aku tidak perduli dengan orang sekitar yang sempat-sempatnya melirik perutku juga Alvaro yang berdiri di belakang. Terserah mereka berpikir apa. Aku sih udah siap pasang muka.
Aku tidak hanya membeli susu ibu hamil, tapi juga seperti minyak wangi, bedak bayi, conditioner, shampoo, ah, pokoknya kebutuhan cewek lah, kalian pasti bisa menyebutkannya sendiri. Lagi-lagi Alvaro yang membayar. Sebenarnya, aku punya uang di tabungan karena setiap sekolah aku jarang makan walau Sofi mengajakku ke kantin. Paling hanya membeli es teh atau bakso saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]
RomanceNovel Happy Story sudah bisa dipesan! Ikutan juga Pre-order keduanya pada tanggal 18 Januari 2022. Semua berubah ketika aku dinyatakan : hamil. Kenyataan pahit itu harus kuterima walau sakit yang mendalam. Namun, semua kembali berubah ketika dia, m...
![HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/219210002-64-k723781.jpg)