HAPPY 24

75.9K 5.9K 85
                                        

Sekarang sudah pukul delapan malam. Alvaro sedang sibuk dengan laptop dikamar. Aku tidak menyusul. Jangankan untuk bicara, menatap saja malas. Aku duduk di ruang teve sendirian. Dengan pikiran yang masih berkecamuk soal jawaban Alvaro yang tidak memuaskan.

Aku menghela napas pelan. Susu yang kubuat terasa hambar diminum. Sama seperti jawaban Alvaro yang bukan seperti jawaban. Melainkan alasan. Dia selalu berhasil membuat pertanyaanku teralihkan. Kenapa ia selalu menutupi soal Amanda. Toh, sebenarnya aku sudah tahu dari Ricca dan Sara soal Amanda yang katanya mantan terindah.

Apa susahnya tidak mengatakannya? Atau memang Alvaro masih mencintai Amanda? Mereka sudah putus karena Amanda selingkuh. Lantas, kenapa Amanda masih terlihat dekat dengan Alvaro?

Aku beranjak ke dapur hendak mencuci gelas dan piring yang kupakai untuk meletakkan kue bolu tadi. Aku tersentak sedikit ketika melihat Alvaro sudah berdiri di sampingku. Aku melengos, diam.

"Ada kopi?" tanyanya, aku mengangguk kecil.

"Buatin, ya." Belum sempat aku jawab, dia sudah bergegas menuju balkon.

Setelah selesai, aku beranjak mematikan teve, kemudian menyusul Alvaro. Aku tidak berniat untuk duduk santai berdua dengannya. Buat apa? Pun dia juga sibuk dengan laptopnya.

Kulihat Alvaro sedang merokok. Kemudian, kutaruh kopinya di atas meja. Lantas hendak berlalu meninggalkannya. Namun sebelum itu, Alvaro lebih dulu memanggil namaku.

"Apa?" tanyaku dengan suara datar.

Alvaro dengan sigap mematikan rokoknya, menyuruhku untuk duduk di sampingnya.

Aku menggeleng. "Mau tidur."

Alvaro menatap jam tangannya. "Baru jam setengah sembilan?"

"Iya," jawabku lalu berlalu dari balkon.

Jujur, mungkin perubahan sikapku menjadi lebih berani memang aneh. Dulu, jangankan membantah. Menatapnya saja aku ragu-ragu. Tapi kini, aku berhasil menolak bahkan menjawab ucapannya dengan ketus.

Hari libur kali ini menyebalkan. Bukannya bersenang-senang, tapi malah bersedih-sedih. Aku cuma butuh Alvaro menjawab dan menjelaskan siapa Amanda di matanya. Aku penasaran, astaga.

Aku menoleh ke belakang, menampilkan Alvaro yang tengah menaruh laptop, bungkus rokok dan juga gelas kopinya. Aku tidak menggubris. Kembali menatap novel yang kupegang.

Langkah kaki terdengar mendekat ke arahku. Alvaro mengecup kilas puncak kepalaku, kemudian duduk di sampingku. Aku tidak menoleh. Entah, malas saja.

Alvaro tahu kan kalau aku mencintainya? Dan Alvaro juga tahu kalau ia menyayangiku. Tapi, apa dia lupa bahwa dalam sebuah hubungan ada juga kata cemburu yang membuntutinya?

Aku menutup novel, berdiri, menaruhnya di atas rak kemudian merebahkan tubuh diatas ranjang. Alvaro menyusul, merebahkan tubuhnya juga. Aku tidak menoleh. Keheningan melanda ruangan ini. Melanda satu sama lain.

"Kenapa?" tanya Alvaro memecah keheningan.

Apa Alvaro itu memang orang yang tidak peka, atau pura-pura tidak peka? Mengapa harus bertanya seperti itu. Pertanyaan bodoh yang tak akan kujawab.

"Lo kenapa sih?" tanyanya lagi kemudian merubah posisi menjadi miring menghadap ke arahku.

"Ngantuk," jawabku bohong. Gimana pula bisa tidur dengan pikiran yang acak adut?

"Yaudah tidur." Aku menghela napas pelan. Apa di otaknya tidak ada rasa bahwa aku sedang menyimpan sesuatu yang sulit kuutarakan?

"Iya," jawabku lagi.

HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang