HAPPY 2

115K 7.8K 360
                                        

Selamat membaca!

Setelah selesai memakai seragam, aku bergegas menuju meja makan untuk sarapan. Tiba-tiba Calvin menarik tanganku dan memintaku untuk menyelesaikan pr matematikanya. Aku bilang ke dia bahwa aku akan menyelesaikannya tapi setelah aku sarapan, namun Evi meneriakiku untuk membantu Calvin lebih dulu. Yasudah, aku mengiyakan. Menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk menyelesaikan 47 soal. kutengok jam sudah mengarah ke pukul 06:40.

Ya Tuhan,

Aku telat. Aku langsung pamit dan membatalkan niatku untuk sarapan. Kujalan ke arah depan gang komplek untuk menemui ojek.

"Buruan Bang, saya telat nih!" suruhku dengan wajah mulai panik.

"Ke mana dek?" tanya abang ojeknya sambil menyalakan motornya.

"SMA Trinity, Bang."

kusuruh si abang ojek untuk membawa laju cepat motornya. Dan benar saja, ketika sampai pintu gerbang sudah ditutup. Setelah kubayar pada ojek, kuhampiri satpam sekolahku dan ingin memohon untuk membukanya. Namun, pak satpam sedang tidak ada. Kupanggil-panggil namun tak ada satupun orang yang mendengarnya. Ah ... bisa semakin telat nih. Kuputar tubuhku dan melihat Miguel—siketua osis yang mau lengser— turun dari mobilnya.

"Kenapa? Telat ya?" tanyanya padaku.

"Hm ... iyanih Guel."

Dia mengambil kunci di saku celananya, lalu membuka gerbang pintu sekolah. Katanya kunci gerbang ada dua, yang satu dia simpan karena hari ini ia sudah izin ke guru piket bahwa ia akan telat. Kuucapkan terima kasih lalu bergegas masuk ke dalam kelas.

"Maaf bu, saya telat," mohonku sambil menunduk takut.

"Kamu kenapa sih sering banget telat?! Jadi perempuan itu bangun yang pagi! Hukuman buat kamu, bersihkan lapangan sampai saya selesai mengajar. Nanti saya cek sudah bersih atau belum!" perintahnya padaku begitu.

"Berarti saya nggak ikut pelajaran ibu?" tanyaku sedih.

"Udah sana!" suruhnya. Kuletakkan tasku kemudian segera keluar kelas menuju lapangan.

"MAMPUS LO HAHAHA," teriak Ricca.

Sudah setengah lapangan kusapu sampai lumayan agak bersih. Sesekali kuambil sampah yang berterbangan akibat tiupan angin. Kepalaku pusing sekali. Mungkin efek lelah. Sebenarnya aku sudah tahu jika aku akan dihukum seperti ini, apalagi ini jam guru fisika yang galaknya minta ampun. Huh.

Kusapu lagi pelan-pelan berharap semuanya cepat selesai.

"Lo ngapain di sini?" Tiba-tiba Miguel datang dan bertanya padaku.

"Dihukum Bu Siti." Miguel tertawa sebentar lalu menyuruhku untuk duduk saja.

"Nggak, ini belum selesai," tolakku.

"Happy, lo cewek, ya kali lo sendirian ngebersihin lapangan sebesar ini? Udah duduk aja." Aku pun mengangguk pasrah.

Kami duduk di tangga dekat lapangan, dia memberiku air putih yang katanya dia beli untuk diminum namun untukku saja. Tadinya aku menolak, tapi karena dia memaksa yasudah aku minum.

"Makasih," ucapku lalu dia mengangguk.

"Lo ngapain di sini?" tanyaku sambil menguncir rambut.

"Duduk," katanya datar.

"Ih maksudnya lo—"

"Ngurusin data siswa baru," jawabnya lalu aku ber-oh ria saja.

Suasana sepi. Hanya angin yang bertiup kencang dan mengeringkan keringat yang mengucur di dahi dan leherku.

HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang