HAPPY 35

77.8K 5.5K 687
                                        

Kangen ga?

Kalian bukan lagi naik mobil di tol, jadi bacanya pelan-pelan aja ya😋

Selamat membaca teman-teman❤

Sudah pukul dua belas, namun Alvaro belum juga sampai di rumah. Tiga hari sebelumnya ia selalu pulang di pukul sebelas dan berangkat ke rumah sakit pada pukul satu siang. Raffa pulang hari selasa dan istirahat satu hari di rumahnya. Dihitung empat hari ia akan ikut ujian susulan.

Setiap pulang, selalu kutanya bagaimana ujiannya dan Alvaro selalu menjawab bahwa semua soalnya mudah. Halah, bohong kalau dia bisa menyelesaikan soal kalau tidak aku berkoar, ia tidak belajar.

Ini hari ke empat. Besok adalah hari terakhir ujian sekolah. Aku duduk di sofa balkon bersama adikku yang datang di pukul delapan pagi. Kaget bukan main ketika dia datang ke sini, berdua dengan temannya yang baru kutahu bernama Lugie. Kesal ketika ku tahu mereka bolos hanya untuk bertemu denganku.

Calvin bilang, dia datang ke rumah orang tua Alvaro dan bertemu dengan si bibik, menanyakan keberadaanku. Kehadirannya di sini bukan tanpa ada maksud tertentu. Ia menceritakan segalanya. Tentang orang tuaku yang sering bertengkar, juga Ayahku, yang mulai sakit-sakitan.

Aku kaget, khawatir mendadak. Bagaimanapun mereka, ya tetap orang tuaku. Ayah sering pusing dan marah-marah tidak karuan. Ditambah lagi kondisi kakek yang semakin parah. Setiap tiga hari sekali, nenek selalu meneleponku, mengabarkan kakek yang semakin rapuh. Sudah kuminta kembali ke Jakarta, namun kakek menolak. Bersikukuh ingin selalu di kampung.

"Vin makan gih. Lugie juga. Dari pagi belum makan. Nanti masuk angin," kataku.

"Lauknya apa?" tanya Calvin.

"Ya mana kakak tau. Lihat sendiri aja nanti. Lugie, makan gih."

"Iya kak, makasih."

Calvin dan Lugie bergegas menuju ruang makan meninggalkan aku sendiri yang masih bingung menunggu Alvaro. Kutelepon, namun tidak ada jawaban. Ragu-ragu aku menelepon Sara. Dan dia mengangkat.

"Handphonenya Alvaro hilang."

Aku tersentak ketika mendengar kalimat pertama Sara.

"Hilang di mana?"

"Dikit lagi juga nyampe rumah. Lo tanya aja sama dia."

"Oh. Oke."

"Tadi kita ke rumah Raffa dulu. Bokapnya baru balik."

"Oh. Oke. Makasih, Sar."

Tut

Mereka memang masih tidak bisa bersikap sedikit sopan. Pikirku begitu.

Karena kata Sara Alvaro akan sampai, lebih baik aku turun saja. Sekaligus menghampiri Calvin dan temannya. Ada rasa sedikit tidak enak jika Alvaro melihat adikku membawa temannya makan di rumah. Ah bodolah, aku yakin dia paham.

Sekarang hampir pukul setengah dua siang. Kakiku berhenti tepat di tangga terakhir. Tersenyum samar saat berpapasan dengan laki-laki di depanku. Wajahnya tidak terlihat seceria biasanya. Berpakaian urakan sudah biasa kulihat, namun tidak seurakan ini.

"Hilang di mana?" tanyaku lembut sebelum dia berucap lalu meraih tas dari bahu kanannya.

Dia menggeleng lemah, hendak memelukku namun aku menjauh. "Bau."

"Kenapa bisa hilang? Kamu lupa naronya?"

"Lain kali hati-hati kalau naro barang itu. Mending masukin tas atau kantong baju. Ya pokoknya yang aman deh. Kan kalau udah hilang nyesek. Mana mahal kan? Coba kalau dijaga. Pasti masih ada," celotehku.

HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang