HAPPY 14

82K 6.9K 318
                                        

Happy reading teman teman🖤

Alvaro duduk di sofa balkon sambil menatap ponselnya. Wajahnya kelihatan serius. Aku datang membawa satu gelas teh hangat dan satu gelas susu untukku. Aku duduk di sampingnya. Sembari membaca buku yang sempat tertunda. Mumpung masih jam delapan malam.

"Py, ambilin laptop gue deh." Aku mengangguk, lalu berdiri. Namun, tanganku lebih dulu dicekal.

"Nggak jadi, gue aja," katanya kemudian berjalan mengambil laptop.

Aku duduk menatap Alvaro yang kelihatan semakin sibuk menatap layar laptop. Kuikat rambut, kemudian mengelus perutku. Menatap langit malam yang kelihatannya cerah sekali. Bintang gemintang, rembulan bersinar terang. Tak pernah terbayang kalau akhirnya akan menjadi seperti ini. Mungkin saja jika Alvaro tidak menolongku, malam ini aku sedang sibuk membersihkan rumah, dimarahi, menangis, dicaci maki tanpa sebab, dan masih banyak lagi.

"Py," panggilnya aku menoleh. Bersiap berdiri, hendak menuruti perintahnya.

"Mau ke mana?" tanyanya bingung. Aku duduk lagi, sedikit malu dengan sikapku.

"Pager rumah tuh bagusnya warna apa?" tanya Alvaro. Aku bingung.

"Hitam bagus. Kayak pagar rumah kamu," jawabku sekenanya, kembali menyeruput susu yang sedikit lagi habis. Dia mengangguk, kembali menatap layar laptopnya.

"Emang kenapa? Mau ganti warna pag–" ucapanku terpotong karena ponsel Alvaro berbunyi.

"Malam."

"..."

"Oke."

"..."

"Hitam."

"..."

"Itu urusan Pak Vidi."

"..."

"Ya."

Alvaro menutup ponselnya. Menutup laptopnya, merilekskan tubuhnya. Aku tersenyum simpul, kembali menatap awan gelap dengan tangan yang tak henti-hentinya mengelus perut.

Aku menoleh, agak ragu berkata, "Al, besok boleh keluar rumah nggak?" Alvaro menoleh, menaikkan satu alisnya. "Mau ketemu Sofi. Boleh, ya?"

"Suruh ke rumah aja," katanya singkat. Aku mengangguk, setidaknya aku bisa ketemu Sofi walaupun bukan ke Cafe atau jalan-jalan ke mall.

Sedari tadi mulutku gatal sekali ingin bertanya, tapi takut saja. Entah karena takut soal jawaban, atau pertanyaan yang salah. Hanya satu pertanyaan, membuat deru napasku tak terkendali. "Al," nyaliku berani.

"Hah?" sahutnya dengan tatapan lurus menatap awan.

"Aku boleh nanya?" tanyaku tanpa jawaban. Berarti boleh, mungkin.

Kutahan napas, bersiap. Semoga tidak salah. "Cewek yang suka ke sini itu siapa?" Dia menoleh, menatapku intens. Alis kirinya naik dengan wajah datar. Refleks kugigit bibir bawahku guna menahan rasa takut. "Nggak jadi nanya, nggak usah dijawab."

Alvaro berdiri, kemudian meninggalkan aku yang sedang sumpah serapah dalam hati. Aku salah pertanyaan.

.

.

.

Sinar matahari masuk melalui celah jendela membuat Alvaro mengerjapkan matanya kemudian duduk di pinggir ranjang tidur. Mengucak matanya kemudian bergegas menuju kamar mandi. Aku sibuk membuat sarapan pagi bersama Bik Nani.

HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang