HAPPY 29

68.8K 5.5K 492
                                        

Mudah2an ada yang kangen. He he.

Gak mau banyak omong. Cuma mau update dan selamat membaca🤗

• •

Tatapanmu seperti membawa luka, bersamaan dengan hadirnya senja yang hanya sementara.

• •

"Akhirnya nyampe jugaaaa," teriak Sofi
sambil berjalan menghampiriku.

"Woi! Angkutin cemilan dari mobil Alvaro tuh," teriak Sofi kepada teman-teman yang lain.

Aku merangkul tangan Sofi. Menatap sekitar yang masih dipenuhi pohon rimbun. Memang Miguel pintar untuk memilih tempat yang amat nyaman ini. Udara siang ini terasa jauh sekali saat di kota. Sejuk dan tenang. Jauh dari kebisingan dan riuh suara deruman kendaraan.

"Gue nggak sabar nanti malem deh," ucap Sofi.

"Kenapa emang?" tanyaku.

"Nanti malem kan bakar-bakar. Pasti nanti gue sama babang ibal romantis banget." Aku mendelik, bergaya seperti orang geli.

"Alay," cibirku.

Sofi menyuruhku untuk tidur satu kamar dengannya. Aku menyetujui hal itu. Aku belum merapikan tas karena tasnya masih dengan Alvaro. Setelah selesai mencuci muka, aku keluar bersama teman yang lain menyusul anak laki-laki.

Miguel melambaikan tangannya. Membuatku sedikit mendongak. Kita bergegas belok ke kanan kemudian menaiki anak tangga menuju kolam renang yang letaknya lebih tinggi dari kamar.

Aku menatap kilas Alvaro yang tengah merokok dengan gengnya. Alvaro menatap kilas, kemudian aku mengalihkan pandangan karena merasa kegep sedang melihatinya.

"Nanti acaranya di mana?" tanyaku.

Sofi bilang akan mengadakan acaranya di sini. Di dekat kolam renang. Beberapa teman yang lain sibuk mendekor sambil mengobrol santai. Tertawa jika diantara mereka tengah melawak. Seru. Tentunya. Sempat aku termenung, tentang indahnya jika statusku masih jadi seorang pelajar SMA Trinity. Tidak, aku tidak bisa selalu begini. Jalan hidupku unik, dan aku harus menjalaninya dengan senyum di setiap waktu.

Ricca dan Sara membantu yang lain merapikan segala persiapan. Alvaro memanggilku. Tanpa ragu, aku menghampirinya.

"Bau rokok," cibirku tanpa jawaban.

Aku duduk di sampingnya. Rian persis di depanku. "Apa?" tanyaku.

"Gue laper." Aku mendengus. Malas sekali rasanya harus menyiapkan Alvaro makan. Masih punya kaki dan tangan, kenapa tidak jalan sendiri saja? Tapi mau bagaimana. Gimanapun aku istrinya. Melayani, tugas seorang istri.

"Mie?" tanyaku, Alvaro mengangguk.

"Dua, sama gue," sambar Rian.

Alvaro memicingkan matanya ke arah Rian. "Satu aja. Lo bikin sendiri." Mau tidak mau Rian mengangguk daripada harus beradu mulut dengan seseorang yang sudah pasti akan menang.

Aku pamit ke Sofi yang dibalas anggukan kepala. Beberapa teman yang sedang di dapur mengajakku berbincang sambil menunggu mie matang. Membicarakan tentang peringkat pertama kelas yang sekarang digantikan dengan Iqbal yang tidak lain kekasih Sofi. Benar-benar menyenangkan. Kukira, setelah kejadian waktu itu, semua teman-temanku menjauh dan melupakan kalimat bahwa kami pernah berteman.

HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang