HAPPY 18

79.8K 6.5K 380
                                        

Selamat membaca teman-teman!💗

•••

Aku baru tahu, ternyata rumah itu sudah dipersiapkan Alvaro sejak dua hari sebelum aku dan dia ketemuan dengan dua orang laki-laki di restaurant Alvaro. Aku juga ingat, ketika waktu itu dia menanyakan soal warna pagar. Dan saat malam sebelum tidur, ia sempat bertanya soal balkon yang aku suka. Kujawab, aku suka balkon yang memiliki ruangan sendiri. Bukan menyatu dari kamar. Cukup balkon kecil saja kalau untuk kamar.

Karena penasaran, kutanya berapa harga rumah ini. Dia melotot, menjawab kasar : kepo! Ya, aku lancang memang. Untuk apa aku tanya soal itu? Mau bayarin?

Alvaro bilang, hari ini hanya untuk ngecek rumah saja. Besok pagi barang-barang baru datang dan diletakkan sesuai skenario yang diberikan Alvaro. Aku baru tahu, ternyata dia sibuk memainkan laptopnya untuk mendesign bersama arsitektur. Hebat juga ya.

Kemarin malam memang aku kembali tidur di rumah orang tua Alvaro. Berencana untuk mengemas pakaian juga barang-barang untuk dibawa ke rumah yang baru. Semalaman aku merapihkan barang Alvaro yang ternyata banyak sekali. Jauh berbanding banyak dari punyaku.

Bunda, Bik Nani dan Pak Husin juga turut membantu. Sebagian dimasukan ke dalam koper, dan selebihnya ke dalam karung dan kardus besar. Walau aku tidak terlalu turut membantu, tapi tetap saja aku capek. Sesekali menyeruput susu disela-sela kegiatan.

Selesai sekitar pukul dua malam, kemudian karena terlalu lelah, aku tertidur di atas sofa dekat lemari Alvaro. Dan saat matahari pagi kembali hadir, tubuhku sudah terbaring di atas ranjang Alvaro.

Aku sempat kaget, dan ternyata Alvaro yang menggendongku. Ya ampun.

"Semalem lo tidur ngorok." Aku terlonjak kaget. Memutar tubuh saat hendak turun dari tangga.

"Serius? Bohong!" Aku baru saja kesenangan. Tiba-tiba dia bilang begitu. Haduh, mau ditaro mana muka aku?

"Lah serius! Gila berisik banget."

Aku melotot, berpura-pura tidak mendengar itu. Berlari menuju meja makan untuk sarapan. Bodo amat lah Alvaro mau ngetawain aku juga. Untung nggak ngiler juga.

Mobil pengangkut barang sudah berangkat pada pukul delapan pagi. Pukul sepuluh menjelang siang, Alvaro menyuruhku bersiap.

"Bunda nggak nyangka, Al. Kamu udah punya keluarga," kata bunda tersenyum bangga.

"Pokoknya, Bunda nggak mau tau! Kalian harus sering-sering ke sini!"

"Nggak bisa lah Bun," tukas Alvaro.

"Lah? Kenapa? Jangan bilang mau berduaan terus ya."

"Udah ya Bun, mau berangkat. Keburu macet." Bunda mendengus sebil. Kemudian mengangguk.

"Jaga istri kamu, Al. Inget dia lagi hamil lho. Dijaga kondisinya."

"Hm." Bunda mendengus lagi. Kesal melihat perlakuan anaknya.

Bik Nani menyalamiku, juga Pak Husin. Papah menepuk bahuku, kemudian bunda memelukku, mengecup kilas keningku.

"Kalau Alvaro nakal, apalagi bikin kamu sedih, tendang aja tulang keringnya! Biar tahu rasa!" pekik bunda membuat Alvaro memicingkan matanya.

"Hehehe ... iya Bun," jawabku seadanya.

"Alvaro, jangan lupa belajar. Jangan nganu mulu." Bunda melotot ke arah papah yang baru saja melontarkan kalimat yang aku nggak ngerti maksudnya apa. Bukannya nganu itu punya banyak pengertian?

"Papah!" tukas bunda.

"Siap, Pah! Tenang, udah dijadwalin kok," jawab Alvaro terkekeh.

"Jadwal apa?" tanyaku polos.

HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang