Sumpah ga nyangka udah 10k ajaaa padahal baru kemarin baru mau 5k🥺🥺😭 seneng bangettt😫
hal yang biasa menurut kamu, tapi bener2 bikin seneng buat akuuuu🥺🥺
terima kasih banyaaakkkkkkk💛💛💛
• • •
Semua sibuk menata perlengkapan untuk acara bakar-bakar ikan dan ayam. Eh, tidak. Baru saja tadi salah satu temanku ke pasar dan membeli kepiting, jagung juga udang untuk dibakar. Tidak enak kan jika hanya dua menu saja. Warganya banyak. Menunya juga harus banyak. Sedari tadi aku merasa kurang nyaman ketika setiap aku ingin membantu, mereka membantahnya, menyuruhku untuk duduk saja. Hey, apa maksud kalian bersikap seperti itu? Aku bukan wanita tua yang sudah rapuh, teman!
Sekarang sekitar pukul setengah delapan lebih empat menit. Sofi, tentu sudah pasti berdiri di sampingku. Dan yang aku kesalkan sekarang adalah jika ada Sofi, pasti ada Iqbal. Aku merasa tidak leluasa untuk berbicara padanya. Tadi, saat aku kembali dari kolam renang menuju kamar, Sofi sempat bertanya tentang keluargaku. Keluarga yang seperti bayangan samar yang sulit kulihat. Aku hanya menjawab mereka baik-baik saja. Itu jawaban nyata yang kudapat dari Calvin. Bagaimanapun mereka memperlakukanku, mereka tetap orang tua yang aku sayangi.
Bahkan, sampai detik ini setelah hari pernikahanku, sekatapun aku belum mendengar suara dari ibu atau ayahku. Mereka benar-benar disibukkan oleh jadwal pekerjaan yang padat. Makan bersama, walaupun aku dianggap seperti tidak ada di meja makan. Aku merindukan mereka. Tapi entah, mereka merindukan aku juga atau tidak. Sepertinya tidak sih.
Miguel menarik tanganku, menyuruhnya untuk ikut menemani membuat sirup. Katanya, dari pada aku membantu menyiangi ikan, lebih baik membuat sirup saja. Tidak terlalu merepotkan. Biarkan teman-temanku saja. Ha ha. Maaf teman-teman.
Aku tidak berdua, ada dua orang temanku yang sedang menggetuk es batu ke lantai. Sesekali Miguel mengejekku tentang kebiasaanku di saat masih sekolah dulu. Pulang lebih awal ketika ekskul mading. Ya, tentu aku mengingatnya. Setiap ekskul mading, di hari itu juga Kakek ada jadwal terapi.
Oh ya, soal Kakek dan nenekku, dia baik-baik saja. Kadang, nenek meneleponku di malam hari sekitar pukul sembilan malam, menanyakan kabarku. Kalau kakek sedang kangen, biasanya akan video call untuk menyambut wajahku. Sekarang, mereka sedang berada di Subang, rumah adik dari nenekku. Katanya, ingin menikmati suasana yang sunyi di masa tuanya. Bosan selalu di kota.
"Tiga hari di sini lo mau ngapain aja, Py?" tanya salah satu temanku.
Aku berpikir sebentar. "Mungkin, jalan-jalan keliling penginapan."
"Iya juga ya, seru tuh. Pagi-pagi sambil olahraga," sahut yang satunya.
Miguel menatapku sambil mengaduk sirup jeruknya. "Sama gue yuk?"
Aku tersenyum, kemudian mengangguk. "Boleh."
Aku menoleh ke arah tangga ketika terdengar suara Ricca dan Sara yang tengah tertawa dan di belakangnya ada Rian dan Alvaro. Mereka menatap kilas, kemudian melambaikan tangan ke arah kami. Alvaro berjalan menghampiriku. Yang tiganya keluar pintu menuju area kolam renang.
Alvaro duduk di samping kiriku. Aku tersenyum menatap wajahnya. Seketika terasa sedikit canggung dibanding sebelum ada dia. Buktinya, kedua temanku cepat-cepat membuat sirup kemudian izin keluar lebih dulu. Apa mungkin aura jahat Alvaro memang semenyeramkan itu? Ha ha.
"Besok mau ikut jalan-jalan keliling penginapan nggak?"
Alvaro menggeleng. "Mager amat."
Aku menuangkan segelas sirup untuknya. Dia tersenyum, mengurak-urak kilas rambutku. Kemudian menenggaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]
RomansaNovel Happy Story sudah bisa dipesan! Ikutan juga Pre-order keduanya pada tanggal 18 Januari 2022. Semua berubah ketika aku dinyatakan : hamil. Kenyataan pahit itu harus kuterima walau sakit yang mendalam. Namun, semua kembali berubah ketika dia, m...
![HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/219210002-64-k723781.jpg)