SELAMAT MEMBACA TEMAN-TEMAN
Semoga kamu membaca bagian ini dengan kondisi perasaan hari ini sedang baik baik aja
💗
Alvaro meraih tasnya dari lenganku. Kemudian masuk ke dalam mobilnya. Dan bergegas melaju kecepatan mobilnya hingga menjauh dari pekarangan rumah.
Selepas mandi, aku turun ke bawah, mencuci piring bekas mangga sambil menunggu Bik Eti datang. Sekitar pukul delapan lebih lima belas menit ia datang bersama anaknya yang sengaja dibawa untuk menemaninya di saat aku tengah menonton TV. Aku tidak mempermasalahkan itu. Selagi itu bisa membuat Bik Eti lebih enak bekerjanya.
Aku bergegas mengganti baju, menorehkan sedikit make up, lalu mengambil tas selempang dan kembali turun.
"Nanti kalau bibik udah selesai semua, pulang aja. Nggak perlu sampai malam. Soalnya saya sama Alvaro mau ke rumah bunda. Daripada nanti di sini cuma berduaan kan? Tapi terserah bibik aja."
Pak Ma'ruf tengah mengobrol dengan dua orang security di pos depan. Aku meminta tolong untuk mencarikan taksi. Dan tiga menit kemudian taksi datang menjemput.
"Saya pamit ya, Pak. Titip rumah."
Selama perjalanan aku sibuk memainkan ponsel. Dan tidak terasa mobil berhenti persis di depan gang komplek. Aku menunjukkan arah. Dan sekarang aku berada di depan gerbang besar rumah orang tua Alvaro.
Pak Husin menyambut dengan wajah mengembang. Sudah lama tidak bertemu. Pak Husin bertanya kenapa aku naik taksi padahal dia bisa saja menjemput dengan satu mobil di garasi yang memang dipakai jarang sekali. Hanya untuk persiapan jika ada suatu yang mendadak. Aku hanya terkekeh.
Bik Nani terkejut ketika melihat wajahku dari balik pintu besar. Aku tersenyum. Kemudian memeluk kilas tubuhnya. Dia banyak berceloteh tentang rasa rindunya padaku. Ya, aku memang sering bertemu bunda dan papah. Tapi tidak dengan dua orang ini. Dua orang yang bingung ketika aku datang telat untuk mengajari matematika.
"Haduuuhhh ... semakin ke sini semakin geulis si non." ( Geulis maksudnya cantik. )
Aku tertawa. Dia juga.
Kata Bik Nani, bunda dan papah sudah berangkat dari jam enam pagi. Entah ada apa. Mereka pengusaha yang sibuk dan selalu banyak urusan. Aku tidak perduli soal itu.
"Berarti nanti malam nginap?"
Aku nggak tahu. Tapi kemarin Alvaro hanya bilang sampai malam. Aku sih ikut aja apa kata Alvaro. Tapi sejujurnya aku lebih suka di rumah daripada menginap. Sekalipun di rumah ini ada ruangan yang amat kusukai.
Balkon kamar Alvaro.
Ah senangnya. Aku berdiri dengan tangan menggenggam pembatas. Merindukan ruangan ini. Semilir angin pagi masih menyambut dengan amat baik. Kamar ini tidak berubah. Masih sama. Lantainya bersih karena mungkin bunda meminta Bik Nani membersihkannya saja. Pun, Alvaro sudah tidak tinggal di sana.
Kurebahkan tubuhku di kasur. Menatap sekeliling dan terdiam karena pikiranku berkabut bayang-bayang cerita. Aku memang belum satu tahun dengannya. Tapi kenapa aku merasa sudah lama sekali? Seperti sudah bertahun-tahun. Banyak cerita, banyak kejadian dan banyak kisah.
Aku masih ingat pertama kali dia bertanya mengapa aku tidak mau tidur bersamanya.
"Mau ke mana?"
"Kamar tamu."
"Lah kenapa nggak di sini aja?"
"Ngg-nggak ah. Gue di kamar tamu aja. Udah sana tidur, besok lo sekolah."
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]
RomanceNovel Happy Story sudah bisa dipesan! Ikutan juga Pre-order keduanya pada tanggal 18 Januari 2022. Semua berubah ketika aku dinyatakan : hamil. Kenyataan pahit itu harus kuterima walau sakit yang mendalam. Namun, semua kembali berubah ketika dia, m...
![HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/219210002-64-k723781.jpg)