Selamat membaca☺
•
Aku terlonjak kaget ketika melihat jam mengarah pukul sembilan pagi. Kutengok ke kanan, sudah tidak ada Alvaro. Aku berlari tergesa-gesa turun ke bawah, hendak menanyakan pada Bik Nani.
"Den udah berangkat sekolah, Non. Kamu kesiangan ya?"
Aku mengangguk cepat. Menyeka keringat dipelipisku. Kemudian duduk sebentar di meja makan. Sembari beristirahat, menyeruput teh hangat buatan Bik Nani. Setelah habis, aku segera ke kamar untuk mandi.
Setelah membersihkan dan merapikan kamar, aku duduk di atas kursi. Seperti biasa. Tertarik untuk duduk di sofa balkon kamar Alvaro. Menikmati cuaca cerah dengan matahari yang belum tertalu terik.
Tiba-tiba saja terlintas soal semalam. Alvaro berhasil membuatku gugup segugup-gugupnya. Dia memelukku, memberi kehangatan yang terus menjalar di setiap aliran darah tubuhku. Membuatku ketakutan jika dia mendengar degup jantungku yang tak karuan.
Kuembuskan napas perlahan. Untuk kedua kalinya dia mengatakan hal yang sama. Menyayangiku? Sungguh, aku senang. Menyayangi dan disayangi indah bukan? Tapi jika rasa sayang itu hanya ucapan semata bagaimana? Lebih baik tidak disayangi daripada disayangi namun hanya omongan belaka, apalagi karena rasa iba. Itu lebih menyedihkan, bukan?
Ponselku berdering. Menampilkan nama Sofiya di sana. Aku tersenyum senang, langsung kuangkat teleponnya.
"Tataaaaa!!!"
Refleks aku menjauhkan telepon dari telingaku. Kebiasaan, suara Sofi tidak bisa dikondisikan.
"Berisik banget!"
"Galak ih tuan puteriiii!"
Aku mendelik.
"Kenapa telfon? Kangen ya? Ha ha ha."
"Dih, najong kangen sama lo. Eh, Ta. Gue nelfon lo ada tujuan. Gue mau ngasih tau lo soal Ricca and the geng."
Keningku mengerut. And the geng? Berarti Alvaro juga termasuk dong? Kan Alvaro leadernya. Seketika aku bergidik ngeri mengingat perlakuan mereka dulu.
"Woy!"
"Eh? Iya, apa?"
"Jadi gini. Semenjak lo nikah sama Alvaro, Ricca, Sara sama Rian jadi beda gitu tau. Dia sering senyum ke gue, nggak pernah nyari masalah lagi sama gue. Sumpah, aneh banget, kan? Langka anjir."
Aku terdiam. Hal yang dirasakan Sofi sama denganku. Saat kemarin malam, di restaurant, mereka juga tersenyum padaku. Menawarkan roti, juga mengingatkanku minum susu sebelum dingin. Juga Rian yang memprotes di saat Amanda menyenderkan kepalanya di bahu Alvaro.
"Raffa?"
Entah darimana aku bisa menyebut nama itu. Nama yang sampai detik ini masih kubenci.
"Raffa? Hm.. Dia jarang masuk, Ta. Tapi tetep masih kumpul se geng gitu sih. Tapi kayak nggak deket sama Al."
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]
RomansaNovel Happy Story sudah bisa dipesan! Ikutan juga Pre-order keduanya pada tanggal 18 Januari 2022. Semua berubah ketika aku dinyatakan : hamil. Kenyataan pahit itu harus kuterima walau sakit yang mendalam. Namun, semua kembali berubah ketika dia, m...
![HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/219210002-64-k723781.jpg)