HAPPY READING TEMAN-TEMAN💗
•
•
Aku menoleh ke arah jendela kamar yang memberikan pemandangan langit biru menjelang terang. Matahari belum sepenuhnya hadir. Aku bergegas mandi lebih dulu, kemudian turun hendak memasak sarapan sederhana.
Setelah selesai memasak nasi goreng, aku bergegas menuju kamar hendak membangunkan Alvaro. Namun, langkahku terhenti persis di depan ranjang ketika mataku memandang tubuh laki-laki itu sedang menggigil.
Segera kuberanjak, kemudian dengan sigap menempelkan punggung tanganku di dahinya. Panas. Kubuka selimut yang menutupi tubuhnya, kemudian kupengang lengannya, hendak memastikan. Panas juga.
Alvaro membuka matanya perlahan. Aku menatap bingung. Aku yakin, laki-laki di depanku terkena demam. Dia sakit.
Segera kumatikan AC. Membuka jendela, membiarkan matahari yang mulai hadir pagi ini masuk melalui celah jendela kamar.
"Kamu sakit Al," ucapku tanpa balasan.
Aku bergegas mengambil baskom berisikan air hangat. Kemudian beralih menempelkan sapu tangan basah di dahi Alvaro.
"Apaan sih!" Alvaro menolak kemudian menjatuhkan sapu tangannya.
"Kamu demam Al!" jawabku kesal.
"Gak usah sekolah dulu aja. Nanti aku bilang ke Sofi buat izinnya." Alvaro menggeleng.
Alvaro merubah posisinya menjadi duduk. Dia kekeh ingin sekolah. Qku menggeleng tegas. Bagaimana mungkin sekolah dengan keadaan seperti ini? Alvaro benar-benar sakit.
Namun, tiba-tiba Alvaro berdiri lantas ngibrit ke toilet. Refleks aku menyusul. Alvaro muntah. Yang bisa kulakukan hanya memijit leher belakangnya pelan-pelan.
Sepuluh menit berlalu, Alvaro menoleh, menatapku. Wajahnya pucat pasi. Aku menuntunnya, menyuruhnya membaringkan tubuhnya kembali. Alvaro tidak banyak cakap. Hanya mengangguk, menurut.
Kutempel lagi sapu tangan di dahinya. Kali ini ia tidak menolak. Kutarik selimut sampai menutupi dadanya. Dia butuh kehangatan.
"Aku ke bawah dulu ya."
Belum Alvaro menjawab, aku sudah beranjak dari kamar. Aku hendak buat jahe hangat. Karena waktu aku sedang mual-mualnya, lalu Bik Nani memberiku jahe hangat itu berhasil. Membuat mual terasa mereda.
Saat aku kembali ke kamar, Alvaro tengah berdiri di depan wastafel. Dia muntah lagi. Segera kuletakkan gelas jahenya. Kemudian bergegas menghampiri Alvaro. Dulu aku juga pernah begini. Tidak lain, masuk angin. Perasaan kemarin Alvaro makan tepat waktu. Trus, kemarin keadaannya baik-baik saja.
Alvaro merebahkan tubuhnya lemah di atas ranjang. Ternyata, manusia garang yang kukenal ini bisa sakit juga ya. Begitu pikirku di saat hendak menyodorkan jahe hangat untuknya.
"Gue nggak doyan!" katanya ketus, menolak.
"Obat abis Al. Udah minum dulu aja," kataku.
Alvaro menggeleng, seperti orang yang jijik melihat gelas jahe itu. "Gue nggak doyan, Py!"
Aku menghela napas pelan. Kadang suka capek jika bicara sama orang seperti ini.
"Terserah kalau nggak mau diminum juga." Aku berdiri, hendak meninggalkan Alvaro. Namun, tanganku lebih dulu dicekal olehnya.
Aku menoleh, memasang raut wajah datar. "Apa?"
"Rasanya gimana?" Aku mendelik. Kemudian duduk di pinggir ranjang. Menyodorkan jahe hangat. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Mau tau rasanya? Minum aja. Nanti juga tau.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]
RomanceNovel Happy Story sudah bisa dipesan! Ikutan juga Pre-order keduanya pada tanggal 18 Januari 2022. Semua berubah ketika aku dinyatakan : hamil. Kenyataan pahit itu harus kuterima walau sakit yang mendalam. Namun, semua kembali berubah ketika dia, m...
![HAPPY STORY [SUDAH TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/219210002-64-k723781.jpg)