13. Hot position

1.8K 82 1
                                        

Setelah Adnan berlalu, Alita mengangkat wajahnya menatap Gilang sambil tersenyum. “Terima kasih, Mas Gilang,” ucap Alita dengan suara yang pelan, matanya masih menitik bulir bening.

Adnan mengangguk membalas senyum gadis itu. Masih dengan kedua tangannya yang membopong tubuh Alita yang tidak ringan, Gilang membawa gadis itu ke kamar dengan tenaganya yang semakin berkurang. Pria itu tidak peduli sekalipun kedua tangannya patah, yang ia pedulikan hanyalah kondisi gadis yang sedang terluka itu.

“Gue tinggal, ya. Lo istirahat. Ok?” tukas Gilang setelah tubuh gadis itu didudukkan di tempat tidurnya. Namun gadis itu menggeleng menatap sendu Gilang, membuat pria itu bingung.

Tanpa mengatakan apa pun, Alita menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan Gilang, tangannya melingkar erat di punggung pria itu dan tangisnya kembali pecah dengan wajah yang bersembunyi di dada pria itu. Entah mengapa, yang diinginkan Alita saat ini hanyalah seseorang yang bisa menemaninya.

Gilang mengusap lembut rambut Alita. “Gak tau kenapa, gue ngerasa hancur pas lo marah dan gak terima permintaan maaf gue. Dan lo tahu?”

Alita melonggarkan pelukannya, ia menatap Gilang dengan mata yang masih meneteskan bulir bening.

“Gue lebih hancur lagi lihat lo terluka gini,” lanjutnya.

Alita memeluk kembali Gilang, semakin erat. Ia menggeleng-gelengkan kepala yang menempel di dada pria itu. “Mas, aku sama sekali gak marah. Aku cuma malu.” Suaranya bergetar.

“Dan mengenai ini, maafin aku yang udah bikin kamu ikut sedih,” ucap Alita, lalu melepaskan pelukan.

Namun Gilang menarik tubuh gadis itu ke pelukannya kembali. “Nggak papa, nangis aja selama yang lo mau.”

Gadis itu menangis terisak-isak membayangkan yang sudah terjadi padanya saat di restoran tanpa menghiraukan rasa malu dengan Gilang yang melihatnya menangis. Entah kenapa, rasa nyaman itu muncul saat bersama Gilang.

Hening.

“Al....” Gilang membuka suara pelan sambil mengusap lembut rambut Alita yang masih memeluknya, namun tidak lagi erat. Ya. Gadis itu ketiduran.

Kemudian Gilang merebahkan tubuh Alita, meluruskan kaki jenjang gadis itu dan menyelimutinya dari ujung kaki hingga dadanya. Dilihatnya air mata yang belum mengering di pipi Alita, Gilang menghapus bekas air mata itu dengan hati-hati agar gadis itu tidak terbangun.

Gilang menghela napas panjang, senyumnya mengembang menatap gadis yang sudah tertidur pulas dengan make up yang masih melekat di wajahnya. Ia tidak akan membiarkan kulit wajah Alita akan rusak karena make up yang tidak dihapus ketika tidur.

Ia keluar dari kamar gadis itu dan mencari pembersih make up di kamar adiknya, Gea. Namun sayangnya, kamarnya dikunci akhirnya ia pergi ke kamar Arumi, untungnya kamar Mamanya itu tidak dikunci dan ia juga menemukan produk untuk membersihkan make up. Lalu ia segera kembali ke kamar Alita dan membersihkan make up yang masih melekat di kulit mulusnya.

Lagi-lagi senyum pria itu mengembang tatkala membersihkan warna merah pekat di bibir Alita, bahkan tertawa kecil ketika membersihkan benda kenyal itu sambil memainkannya.

Menggemaskan. Ada hasrat untuk menggigit bibir itu, namun Gilang mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin gadis itu terbangun dan mungkin parahnya lagi, Alita akan membencinya kalau Gilang ketahuan menciumnya. Ah. Itu ide buruk, bukan?

Entah mengapa, rasanya berat meninggalkan Alita walau ia sudah membersihkan make up-nya.
Bagaimana kalau gadis itu jatuh dari tempat tidurnya? Sebab, guling saja tidak cukup menjaganya agar tidak jatuh.

Harta Tahta AlitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang