43. Pria pilihan

2.6K 65 0
                                        

Keputusan Adnan yang rela mengorbankan hatinya membuat Gea menitikkan air mata.

Tapi tidak! Ini bukan waktunya buat Gea menangis. Gadis itu menghapus bulir bening yang membasahi pipinya. Kemudian ia ikut merebahkan tubuhnya dan merangkul tubuh Adnan dari belakang hingga pria dewasa itu terkesiap, namun detik berikutnya ia mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.

"Gimana rasanya?" tanya Gea. Ia menempelkan kepalanya ke kepala Adnan.

"Biasa aja," jawab Adnan.

Gea melepas tangannya dari tubuh kekar Adnan, lalu menelentangkan tubuhnya dan kedua lengannya ia jadikan bantal. "Itu sama seperti yang Gea rasakan. Begitu juga dengan Gilang," ujarnya.

Adnan membalikkan tubuhnya menghadap gadis yang tengah menatap langit-langit kamarnya. Gea menoleh ke samping, kemudian dua sudut bibirnya ia tarik ke atas hingga membentuk senyuman.

Wajahnya ia luruskan kembali menatap langit-langit. "Gea sama Bang Gilang itu gak punya hubungan selain adik-kakak aja, Mas. Kalo dibilang saling sayang sih iya. Kita saling sayang sebagaimana seorang adik dan kakak aja. Sama kaya Gea ke Mas Adnan. Malah Gea juga sering kan cium pipi Mas Adnan?" Adnan mengangguk. Selama ini ia sudah salah sangka dengan kedua adiknya itu.

Gea beringsut duduk. Ia juga menarik lembut tangan Adnan hingga duduk juga. Kemudian Gea mengambil tangan Adnan lantas melebarkan telapak tangan pria dewasa itu.

"Mas jangan gagalin rencana buat ngehalalin Al, ya. Gea udah bilang ke Bang Gilang kok soal hubungan Mas sama Al yang udah resmi berpacaran," pinta Gea sambil meletakkan kotak beludru merah berbentuk hati di atas telapak tangan Adnan lantas membantunya menggenggam benda tersebut.

"Mas pernah nasehatin Gea kalo pacaran itu gak baik, kan?" tanya Gea. Adnan mengangguk.

"Maka dari itu, halalin Al secepatnya." Adnan mengangguk antusias dan senyumnya mengembang. Kemudian pria itu memeluk erat tubuh ramping Gea, ia juga mengecup ujung kepala Gea beberapa kali.

Akhirnya semangat Adnan kembali. Semangat untuk mendapatkan Alita seutuhnya.

"By the way, kamu habis nangis ya, Ge?"

Buru-buru Gea melepaskan pelukan Adnan. "I-iya nih, Mas. Emang ke-keliatan ya?" Kedua telapak tangan Gea menutupi wajahnya usai bertanya.

Adnan terkekeh. "Keliatan banget dari kantung mata kamu yang tebel," kata Adnan. Gea menebalkan bibir bawahnya.

"Makin sipit tuh mata." Adnan tertawa setelah mengatakannya. Gea memukuli lengan Adnan beberapa kali, sesekali ia juga mencubit manja lengan kekar pria itu.

"Ok, ok. Mas minta maaf," ucap Adnan sambil tertawa.

Gea melipat kedua tangannya di depan perut. "Gak! Gea gak mau maafin," ucapnya.

"Kamu nangis kenapa, Ge?" Kali ini Adnan lebih serius.

Gea menghela napas panjang dan merebahkan tubuhnya kembali. "Gea nangis karena Gilang udah nipu Adit yang mau nembak Gea pake bunga. Jadi bunganya dikasih Gilang. Tapi Gilang malah kasih lagi bunganya ke Al. Itu yang buat Gea benci banget sama Al, Mas," jelasnya panjang lebar.

"Sebuket mawar merah?" tanya Adnan, Gea mengangguk.

"Iya. Yang bikin Gea kesel lagi, Al buang bunganya ke tong sampah," katanya lagi.

Adnan tertawa kecil. "Sebenarnya Al buang bunga itu karena Mas yang nyuruh. Jelas! Mas cemburu sama Gilang lah. Mas kan pacarnya Al."

"Hmmm ... Ya ya ya," sahut Gea. Gadis itu menguap.

Adnan menghela napas panjang. "Kamu tahu gak, Ge..."

Tidak ada jawaban. Adnan menoleh ke belakang. Ia menepuk kening. Ternyata adiknya itu sudah terlelap. Padahal ia baru saja hendak mencurahkan hatinya.

Harta Tahta AlitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang