3. Salah tingkah

2.7K 166 0
                                        

"Dasar caper!" ucap Gea ketus yang langsung memudarkan lengkungan bibir Alita.

"Ge.." lirih Adnan, ia tidak ingin adiknya itu terus-terusan bersikap seperti itu kepada Alita.

Hal sama yang dirasakan Gilang, ia juga malas melihat Alita yang mencari perhatian kepada Alif tadi.

Alita hanya menundudukan kepalanya setelah melihat dua orang yang menatapnya tidak suka.

"Permisi, Bu," ucap Alita melihat ke arah Arumi lalu mengalihkan pandangannya ke anak-anaknya sambil mengangguk. Ia memutar tubuhnya lantas meninggalkan mereka.

Gea sama sekali tidak merasa bersalah, ia melanjutkan kembali menikmati dua helai roti di piringnya yang sudah ditaruh selai cokelat. Setelah itu ia beranjak dari meja makan lantas mencium punggung tangan Arumi dan juga Gilang.

"Ma, Kak Gilang. Gea pamit yah," ucap Gea. Ibu dan Kakaknya itu mengangguk sambil tersenyum.

"Ayo, Mas," ajak Gea kepada Adnan.
Adnan juga mencium punggung Arumi lantas menyodorkan punggung tangannya di depan wajah Gilang, ia pun menyalami Adnan.

Adnan tersenyum kepada Gilang sambil mengacak-acak rambutnya.

"Assalamu'alaikum," ucap Adnan dan Gea kompak.

"Wa'alaikum salam," sahut Arumi dan Gilang.

Gea kuliah di universitas yang sama dengan kakak tertuanya yang mengajar disana, namun tidak di kelas yang Adnan ajar.

"Kamu gak kuliah, Lang?" tanya Arumi seraya merobek roti isi selai dengan pisau, matanya tertuju pada roti.

"Kuliah, Ma. Berangkatnya agak siang, udah dirubah jadwalnya," jelas Gilang.

Arumi bergumam sambil manggut-manggut tanda paham.

Setelah menghabiskan sarapan, Gilang mengantar Arumi sampai depan rumah. Ia akan pergi ke perusahaan yang bergerak dalam penerbitan buku.

Arumi harus memimpin perusahaan yang sudah dirintis dari nol bersama mendiang suaminya, Adam Malik Ibrahim, ayah dari Adnan.

Harusnya Adnan yang menggantikan mendiang ayah kandungnya untuk memimpin PT. Graha Malik Media.
Namun, impiannya yang ingin menjadi seorang Dosen membuatnya menolak menggantikan posisi ayahnya. Dan dia malah melemparnya pada Gilang, adik yang berbeda ayah. Akan tetapi, pemilik perusahaan diatas namakan Adnan Malik sebagai pewarisnya.

Mobil yang dikendarai supir pribadinya usai mengantar Alif ke sekolah sudah ada di depan rumah.

"Kamu mau ikut Mama ke kantor, gak?" tanya Arumi, namun Gilang menggeleng.

"Gilang kan udah semester tujuh, gak lama lagi lulus kuliah. Jadi, Gilang ikut aja, ya. Biar Gilang tahu cara mengelola perusahaan tuh kayak gimana."

"Nanti aja, Ma. Biar sekalian terjun langsung aja. Gak papa kan, Ma?" Gilang menaik-turunkan alisnya kompak sambil menyengir kuda.

Arumi tertawa kecil. "Ya udah, kalo gitu Mama berangkat, ya," tukas Arumi sambil mengusap lembut kepala Gilang. Kemudian Gilang mencium punggung Arumi, dan Arumi pun mengecup kening Gilang.

"Assalamu'alaikum, Sayang," ucap Arumi lembut.

"Wa'alaikum salam. Hati-hati, ya, Ma," balasnya.

Setelah mobil telah berlalu, Gilang langsung masuk ke rumah. Padahal sebelumnya ia sudah berencana akan menengok kantor Graha Malik Media, namun ia berubah pikiran setelah kehadiran Alita di rumahnya. Entahlah, ia sendiri tidak mengerti mengapa dirinya ingin berlama-lama bersama gadis itu.

***

"Al...," panggil Bi Asih ketika Alita tengah menyapu lantai kamarnya, gadis itu menengok. "Ayo sarapan dulu biar gak lemes kerjanya."

Harta Tahta AlitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang