Aku tersenyum menatap pria yang berusia cukup matang dan tampan di depanku. Adnan, ia memperlakukan dengan baik di rumah ini seperti seorang ratu. Padahal aku hanyalah seorang babu di sini.
Pria itu meminta ponselku dan aku pun memberinya. Lalu ia menarikan jari-jemarinya pada layar ponselku setelahnya menyerahkan kembali ponselku.
Nomor telepon?
Pria itu tersenyum. “Kalo ada apa-apa, kamu hubungin saya ya, Al,” ucapnya sambil mengusap lembut ujung kepalaku.
Aku hanya mengangguk sambil mengembangkan senyum, kemudian Mas Adnan berlalu meninggalkan kamarku. Ya, aku bersyukur dipertemukan-Nya dengan orang-orang baik seperti Mas Adnan. Perhatiannya bertambah setelah kakiku terkilir saat keluar dari restoran milik Kakak pertamaku, Mas Andi.
Setelah Mas Adnan keluar, aku menyimpan nomor ponselnya dengan memberi nama 'Future Husband' yang aku beri ikon 'love' merah di akhir kata tersebut, sekaligus doa. Ya semoga saja itu terkabulkan. Hehe
Setelah nomornya berhasil tersimpan, aku melihat foto yang dijadikan profil whatsapp-nya. Dan...
Ya Tuhan. Ini beneran manusia?
Mas Adnan terlihat perfect, tubuh yang gagah serta wajahnya yang tampan sungguh memesona. Ah. Aku rasa aku telah dibuatnya tergila-gila.
Dan tadi Mas Adnan mengatakan bahwa ia bermaksud mengenalkanku kepada Mas Andi sebagai calon istri itu apakah benar?
Sungguh. Aku merasa bahagia bukan main mendengarnya, dan aku harap ia tidak asal berbicara.
Alita 🤡
Aku mengirimkan satu kata dengan muka badut itu ke nomor Mas Adnan agar ia menyimpan nomorku.
Tunggu. Ada chat masuk?
Astaga, aku lupa membalas chat dari sahabatku, Dea. Dan aku hanya membacanya saja. Semoga saja dia tidak kesal ataupun merasa sakit hati karena tidak aku hiraukan.
Gue gak ada hubungan apapun sama mas Adnan. Gue sama mas Adnan gak lebih dari hubungan atasan dan bawahan aja kok.
PS : Sorry baru bales 😜
Usai mengetik kalimat tadi, aku langsung mengirimkannya ke Dea.
Beberapa menit kemudian, aku mendapatkan balasan darinya.
Cabe :
Seriusan lo?
Aku memberi nama kontak Dea dengan kata cabe bukan berarti dia seperti remaja yang suka berkeliaran di jalan, tapi karena cara berbicara Dea yang frontal bahkan pedas sehingga mendorongku untuk menamai kontaknya dengan kata 'cabe' dan selama ini ia tidak pernah mengetahui itu. Andai ia tahu, ia pasti akan meledak-ledak.
Iya, gue serius.
Tidak biasanya Dea peduli dengan kehidupan seseorang, apalagi orang itu laki-laki. Apa jangan-jangan...
Ponselku tiba-tiba bergetar dan beberapa detik kemudian terdengar lagu Korea, Ddu-du Ddu-du yang dipopulerkan Black Pink.
Dengan sigap aku mengangkat panggilan dari sahabatku, Dea.
“Sebenarnya gue seneng lo gak ada hubungan spesial sama pak Adnan, tapi bukan berarti gue seneng lo jadi ART di rumahnya.”
Suara yang terdengar dari ponsel itu, aku bisa menebak bahwa Dea merasa tidak enak. Entah kenapa, aku merasa Dea mengasihaniku. Aku tidak suka itu!
“Apaan sih lo?” kataku sambil tertawa pelan.
“Ah, lupakan. Sebenarnya ...,” katanya menggantung, membuatku penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harta Tahta Alita
RomanceCOMPLETED ✓ Ini bukan cerita tentang perebutan harta, bukan juga tentang berebut kedudukan atau tahta. Tapi ini cerita tentang tiga laki-laki tampan dalam satu rumah yang berebut hati Alita. "Gue dulu, jadi Alita itu milik gue!" hardik pria yang men...
