Langkah kaki Gea terhenti ketika hendak memasuki rumah. Pandangannya tertuju pada tubuh wanita paruh baya yang tengah membawa keranjang besar berisikan pakaian-pakaian yang dipadatkan dalam wadah tersebut.
Wajah yang sebelumnya berseri-seri dibuat kekasihnya, kini berubah menjadi kelihatan seperti hewan buas.
"Bi Asih," panggilnya. Bi Asih menoleh ke belakang spontan.
"Ini kan tugas Alita? Kemana dia?"
Bi Asih menggeleng, ia sendiri tidak tahu kalau Alita pergi dari rumah. "Saya permisi, Non," pamit Bi Asih, lalu ia melanjutkan langkahnya dan menuju meja setrika, disusul Gea yang berjalan di belakangnya.
Gadis itu memegang tangan Bi Asih, menahannya untuk tidak mengerjakan tugas Alita.
”Jangan, Bi. Itu kan tugas Alita,” tukas Gea, suaranya terdengar lembut. Sebenarnya dia gadis yang baik, namun sikapnya berubah apabila berhadapan dengan Alita.
“Gak papa, Non. Mungkin Al lagi ada urusan di luar."
“Tapi ini juga urusan dia, kerjaan dia.”
Bi Asih tersenyum menatap Gea. "Sesama manusia, harus saling tolong-menolong," jelasnya sambil mengusap lembut lengan gadis itu.
Gea mendengus kesal. "Dibilang nggak usah, ya gak usah!" hardiknya.
Suara Gea yang meninggi membuat bibir Bi Asih sedikit bergetar dan wajahnya menunduk seakan tengah menahan tangis. "Baik, Non. Kalo gitu Bibi permisi ke belakang," tukas Bi Asih, lantas berlalu meninggalkan Gea.
Wajah Gea meringis. Sebenarnya ia sendiri merasa bersalah telah berkata kasar kepada wanita paruh baya itu. Namun pembelaannya terhadap Alita membuat Gea geram hingga tidak sadar ia telah meninggikan suaranya.
***
Adi menutup mulutnya menahan tawa melihat pria setengah wanita sedang menata rambut sahabatnya, Gilang sambil menggoda.
Kurang lebih 30 menit waktu yang diperlukan, kini Gilang terlihat semakin memesona dengan penampilan barunya. Apa lagi alisnya yang dicukur seperti alis milik artis Charlie Puth.
Tidak ingin membuang waktu, Gilang menyeret temannya dan keluar dari tempat yang membuatnya bergidik itu.
Napasnya terengah-engah. Gilang berusaha mengatur napas, sementara Adi malah tertawa melihat Gilang yang ketakutan dengan pria yang menyerupai wanita itu. Ketakutan menghadapi banci Gilang lawan, hanya ingin terlihat menarik di depan Alita.
Adi menepuk pundak Gilang. "Habis ini kita kemana, Bro?"
"Pulang aja deh."
"Pulang?" Adi mengerutkan dahi.
"Ya. Emang kenapa? Salah?"
"Nggak sih. Cuma aneh aja. Biasanya lo itu paling nggak betah kalo diam di rumah, ya?"
"Ah... Mmm." Gilang bingung harus menjawabnya apa, sebab tidak mungkin kalau ia mengaku ingin secepatnya bertemu dengan asisten baru di rumahnya itu.
Sepasang alis diangkat Adi dengan kompak, ia menunggu lanjutan yang akan dikatakan Gilang.
"Ah, ya. Gue lupa sama amanah nyokap yang nyuruh gue biar pulang cepet," jawabnya bohong.
Adi mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, mencoba mengerti. Padahal ia tahu bahwa sahabatnya itu tidak seperti anak tauladan yang baru saja dikatakan. Gilang menebak, pasti karena Alita.
Namun, semangatnya memudar ketika melihat Alita yang baru saja turun dari mobil dengan dibantu Adnan yang membukakan pintu untuknya.
Kepalan tercipta di tangan Gilang. Andai gadis itu kekasihnya, ia akan menyingkirkan pria manapun yang mencoba untuk mendekatinya. Tidak terkecuali Adnan, pria yang masih sedarah dengannya itu. Akan tetapi, semua itu tidak mungkin ia lakukan karena ia tidak berhak menguasai Alita. Yang bisa ia lakukan hanyalah menahan rasa sakit di hatinya, ia tidak boleh cemburu pada gadis yang bukan siapa-siapanya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harta Tahta Alita
RomanceCOMPLETED ✓ Ini bukan cerita tentang perebutan harta, bukan juga tentang berebut kedudukan atau tahta. Tapi ini cerita tentang tiga laki-laki tampan dalam satu rumah yang berebut hati Alita. "Gue dulu, jadi Alita itu milik gue!" hardik pria yang men...
