41. Pria yang sulit ditebak

660 37 3
                                        

Kenapa Gea bersikukuh mendekatiku walau beberapa kali kulempari bantal? Akh! Dia membuatku kesal saja.

Gadis itu menghela napas panjang kemudian duduk di tepi kasur empuk kesayanganku.

Lihat! Padahal aku tidak mengizinkannya untuk berada di kamarku. Apa lagi sampai duduk di dekatku. Kemudian terdengar suara ketukan pintu dan tidak lama setelahnya, Mama masuk. Ia membawa puding dan sirup jeruk dengan es untuk dua orang.

"Ya ampun, Tan. Repot-repot amat," kata Gea.

"Sama sekali gak kok," sahut Mama sembari meletakkan nampan tersebut di atas nakas. "Mama tinggal ya, Sayang," ucap Mama sambil mengusap kepalaku.

"Kalian ngobrol-ngobrol aja dulu," ucap Mama lagi sebelum meninggalkan kamar, tak lupa menutup pintunya.

"Eh, gue minum ya?" Aku mengangguk dan Gea langsung meminumnya. Sepertinya ia memang haus dan dilihat dari kantung matanya yang sipit itu tebal, sepertinya ia baru saja menangis. Ah, terserah! Aku tidak ingin memedulikannya.

"Jadi, lo mau apa datang ke sini?" tanyaku langsung ke inti setelah Gea meneguk minumannya.

"Jujur, sejak awal gue lihat lo datang ke rumah, gue udah gak suka sama lo."

Sudah kuduga. Aku pun merasa seperti itu, bahwa Gea memang tak suka denganku.

"Gue jelasin kenapa gue kesel banget sampe minta lo cabut dari rumah." Gea mulai menjelaskan. Ia mendongakkan wajah, mengerutkan dahi dan kedua alisnya nyaris bertaut.

"Adit," ujarnya.

"Adit?" Aku mengernyitkan hidung. Gea mengangguk. "Apa hubungannya gue sama cowok itu?"

"Lo inget buket bunga mawar yang tadi sore lo dapet dari Gilang?"

"Ya, gue inget."

"Sebenarnya ... Adit mau kasih bunga itu ke gue. Tapi Gilang nipu dia, bilang kalo gue udah punya pacar. Jadi, Adit ngasih bunga itu ke Gilang karena sayang kalo dibuang. Nah, kata kakak gue, Gilang, dia liat lo dan kepikiran buat ngasih bunganya ke lo tanpa lihat-lihat dulu kalo di bunga itu ada kartu ucapannya. Dan ... Lo tahu gak kalimat yang ada di kartu itu?" Gea melontarkan pertanyaan setelah menjelaskan panjang lebar. Dan tentu saja aku tidak tahu.

Aku menggeleng sebagai respon. "Isinya gini, 'kamu mau gak jadi pacar aku? -Adit'. Gue yang naksir dia dari awal ketemu dia cemburu dong. Gue remes-remes tuh kertas sebelum lo baca biar lo sama Adit gak jadian," lanjutnya.

Aku mengangguk beberapa kali. "Jadi yang salah di sini Gilang?"

"Ya," jawabnya.

"Gue gak ngerti. Kenapa dia malah ngalangin Adit buat deket sama lo? Apa dia suka sama lo dan gak rela lo pacaran sama cowok yang namanya Adit itu?"

Terdengar suara tawa singkat. Kenapa? Memangnya pertanyaan yang kulontarkan itu terdengar lucu?

"Dia gak suka sama gue kaya orang-orang pacaran kok," jawabnya.

"Terus?"

"Katanya, semua yang Gilang lakuin itu demi sahabatnya, Bang Adi." Lagi-lagi aku hanya menganggukkan kepala beberapa kali tanda kalau aku paham.

Gea berdecak. "By the way, punggung gue sakit nih," ujarnya sambil mengelus punggungnya yang terlihat seperti agak sulit dijangkau dengan tangannya.

"Sorry," ucapku lalu menyengir kuda.

Gea merebahkan tubuhnya di atas kasurku, matanya menatap kosong langit-langit kamarku seperti sedang menerawang. "Gue tuh suka kesel punya tiga saudara laki-laki semua. Gue gak pernah pacaran. Dulu ada cowok yang deketin gue dan nembak gue pas gue lagi sama si Alif. Lo tahu apa yang terjadi?"

Harta Tahta AlitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang