"Oh ya, saya bakalan deketin kamu terus. Gak peduli kalau kamu punya ...."
Alisku sedikit terangkat saat Mas Adnan menggantung kalimatnya, "... pacar," lanjutnya sambil memutar bola matanya.
Aku menghembuskan napas kasar dan memutar bola mata. Kemudian berlalu meninggalkannya. Apa-apaan dia berbicara seperti itu? Dia sendiri sudah memiliki kekasih sampai menimbulkan gosip karena tanda merah di lehernya. Dan sekarang malah seakan-akan ia cemburu dengan temanku tadi dan berasumsi bahwa laki-laki tadi pacarku.
Entahlah. Hari ini Mas Adnan menyebalkan. Biarlah aku memilih duduk di belakang dan pura-pura tidur. Tentu saja aku tidak mengantuk karena pikiran-pikiran tentang Mas Adnan memenuhi kepalaku.
Mobil yang ditumpangi kami akhirnya sampai di rumah.
"Oh udah sampe yah," gumamku sambil menepuk-nepuk mulutku yang sedang menguap. Aku tahu tadi Mas Adnan hendak membangunkanku, namun tangannya yang sudah terulur ia tarik kembali karena aku lebih cepat darinya.
Buru-buru aku turun dari mobil, melangkah cepat sambil melambai-lambaikan tangan dan mengucapkan terimakasih. Namun langkahku terhenti ketika tanganku diraih. Aku melihat sekilas tangan kekar yang memegang pergelangan tanganku, lalu menaikan pandanganku hingga ke tatapan kami bertemu.
Wajahnya terlihat sendu. "Saya gak peduli kalo kamu pacaran sama adik saya, Gilang. Saya bakalan perjuangin kamu," ucapnya. Kali ini wajahnya terlihat serius.
Aku terkekeh. Jadi Mas Adnan begini karena mengira aku pacaran sama Gilang? Tapi, bagaimana bisa ia berasumsi seperti itu?
"Ke-kenapa kamu ketawa? Apa saya terlihat lucu?"
Aku menggelengkan pelan beberapa kali sambil tertawa kecil. "Mas, aku gak pacaran sama Mas Gilang," ucapku.
Seketika itu wajah sendu Mas Adnan berubah. Kini matanya berbinar-binar seakan menaruh banyak harapan di sana. "Tapi di kampus itu ...."
"Oh, jadi Mas Adnan lihat aku di kampus yah." Aku menunduk sambil menggaruk tengkuk leherku yang sama sekali tidak gatal karena malu ketahuan ke kampus di jam kerja.
"Itu ... Sebenernya Mas Gilang hanya asal ngomong. Dia cuma ngaku-ngaku bahwa dia pacar aku. Katanya sih cuma ngejahilin aku karena aku ke kampus padahal aku harusnya kerja." Mas Adnan hanya ber-oh panjang sambil mengangguk-angguk.
Aku menghembuskan napas kasar hingga ia menatapku, sepertinya ia bingung melihat ekspresi wajahku.
"Ngapain juga sih Mas Adnan ngomong mau perjuangin aku segala?" tanyaku, menatap sisi lain selain Mas Adnan sambil mengerucutkan bibir.
Katakan aku bodoh karena mempertanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.
Tangan Mas Adnan menggenggam tanganku dan sedikit menaikannya hingga membuatku tersentak dan menatap tanganku, lalu beralih pandang pada dua bola mata Mas Adnan. Ia menatapku dalam dan entah kenapa jantung ini mulai berdetak kencang.
"Karena saya cinta kamu, Al," katanya yang diakhiri dengan mengecup punggung tanganku bergantian.
Andai aku bisa melihat diriku sendiri. Pasti pipiku sudah memerah seperti tomat. Tapi tunggu! Cinta? Bagaimana bisa?
"Tapi, bukannya Mas Adnan sudah punya pacar ya?"
Ia terkekeh. Apa pertanyaanku lucu?
Aku menepis pelan tangan Mas Adnan kemudian melipat kedua tanganku di depan perut. Kini tatapanku beralih ke sisi lain.
Lagi. Mas Adnan menggenggam kedua tanganku, membuatku kembali menatapnya.
"Mas." Keningnya mengkerut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harta Tahta Alita
RomanceCOMPLETED ✓ Ini bukan cerita tentang perebutan harta, bukan juga tentang berebut kedudukan atau tahta. Tapi ini cerita tentang tiga laki-laki tampan dalam satu rumah yang berebut hati Alita. "Gue dulu, jadi Alita itu milik gue!" hardik pria yang men...
