Katanya, rasa benci itu bisa jadi cinta?
Tapi lihat aku.
Aku pikir dengan menyembunyikan perasaan dan menjadi orang yang menyebalkan terhadap gadis yang aku cintai, maka cintaku akan berakhir manis seperti film Korea koleksi adikku yang pernah aku tonton. Ternyata tidak.
Aku menghembuskan napas panjang, kemudian menarik kedua sudut bibirku ke atas.
Ini lah aku. Pemuda menyedihkan yang hanya bisa melihat gadis yang aku sukai berdiri dengan Mas Adnan di sampingnya. Senyum terus mengembang di bibir gadis itu, begitu pun dengan Mas Adnan. Mereka terlihat serasi dan terlihat bahagia. Apa lagi saat mereka saling menatap sambil menyunggingkan senyum.
Jujur saja, aku belum bisa menghilangkan rasa yang mengganjal di hatiku ketika melihat sepasang suami istri yang baru syah hari ini setelah sebulan sebelumnya Mas Adnan melamar gadis yang kusukai.
Entahlah. Hatiku terasa memanas. Aku tidak bisa terus-menerus melihat sepasang suami-istri itu.
Aku mengalihkan pandanganku ke sosok adikku, Gea. Gadis itu tengah duduk manis bersama sahabatnya, Adit. Setelah Adit mengetahui kebenaran mengenai Gea yang sebenarnya tidak memiliki pacar, mereka kembali akrab. Bahkan mereka kini berpacaran. Gea menunduk dengan pipi merona, Adit pun menunduk dan pipinya merona. Mereka saling diam. Ah, mereka terlihat manis.
"Woy!"
Adi yang berteriak di dekat telingaku sambil menepuk keras pundak membuatku terlonjak kaget.
Aku menghembuskan napas perlahan sambil mengelus-elus dadaku. Untung saja nyawaku tidak terpisah dengan raga ini saat dikagetkan.
"Ngelamun mulu lo," kata Adi.
"Siapa kali yang ngelamun?"
Adi tertawa mengejek. "Udahlah. Ikhlasin aja deh," katanya. Kemudian ia menunjuk seorang gadis seumuran Alita melangkah ke arah kami, "Tuh cewek itu juga cakep."
Aku menatap kesal Adi, "Apaan sih?"
Lagi-lagi Adi terkekeh. "Ya udah. Gue tinggal ya. Gue ogah jadi obat nyamuk," katanya sebelum berlalu meninggalkanku.
Gadis itu mendengus kesal. "Kakak yang waktu itu bilang kalo kakak pacarnya Al, kan?" tanyanya.
"Iya kan, Kak?" tanyanya lagi memecahkan lamunanku.
Ah, iya! Dia kan teman Alita yang waktu di kantin kampus aku memberitahu bahwa aku adalah kekasih Alita.
"Kakak kenapa gak jawab?"
Beberapa detik aku diam, kemudian menghela napas panjang.
"Kakak kenapa biarin Al, pacar kakak sendiri nikah sama cowok lain sih?"
"Sebelumnya gue minta maaf." Gadis di depanku itu menaikan alis kirinya seolah menunggu ucapan yang sengaja aku gantung.
"Gue sama Al itu bu ...."
"Kak kenalan dong," teriak Alif memotong ucapanku. Bocah itu melangkah cepat ke arah kami seperti sedang mengejar-ngejar sahabat Alita.
Tangan Alif yang baru menyentuh tangan gadis di depanku itu langsung ditepis pemiliknya. Gadis itu berdecak, "Apaan sih," katanya sebelum berlalu dari hadapanku.
Bruk!
Gadis itu terhuyung setelah pundaknya menabrak pundak Adi. Jika Adi tak cepat meraih tangan gadis itu dan langsung memeluknya, mungkin gadis itu sudah jatuh.
Alif mendengus kesal. Aku Ingin tertawa, namun aku tahan. Betapa lucunya wajah adik bungsuku itu kala cemburu.
"Gue benci lo, Bang," ujar Alif sebelum berlalu dari hadapanku, menuju sahabatku dan sahabat Alita yang saling menatap. Dan aku pun berjalan mengekor di belakang bocah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harta Tahta Alita
RomantikCOMPLETED ✓ Ini bukan cerita tentang perebutan harta, bukan juga tentang berebut kedudukan atau tahta. Tapi ini cerita tentang tiga laki-laki tampan dalam satu rumah yang berebut hati Alita. "Gue dulu, jadi Alita itu milik gue!" hardik pria yang men...
