36. Godaan

794 38 0
                                        

Jangan jadi silent readers ya 😊







Adnan melepaskan ciumannya. Ia memutar tubuh membelakangi Alita, "Ma-maafin saya, Al," ucapnya tanpa menoleh sedikit pun.

Alita tersenyum. Ia memahami betul apa yang dirasakan Adnan saat ini. Ya, pria itu sedang cemburu.

"Aku maafin tapi ...." Alita menjeda ucapannya sambil turun dari countertop.

Sontak, Adnan memutar tubuh. "Tapi apa? Kamu gak terima apa yang telah saya lakukan?" tanyanya dengan ekspresi menyesal.

Lagi-lagi Alita tersenyum dan menggeleng pelan. "Tapi apa Mas Adnan bisa jangan ngomong 'saya' lagi? Ganti pake 'aku' aja, biar kedengaran manis."

Adnan menghela napas lega. Ia mengangguk antusias sambil tersenyum. Kemudian ia mendekati Alita. Tangannya terulur menangkup lembut pipi kiri gadis itu, kemudian mencium bibirnya dan menahannya beberapa detik sebelum melepaskan ciuman.

Gadis itu tersenyum menatap Adnan, kemudian mereka berpelukan. "Mas gak tega lihat kamu kecapean. Kita tidur yuk." Adnan berbisik di kalimat terakhir yang ia ucapkan hingga membuat tubuh Alita meremang.

Tangan Alita terulur mendorong pelan dada Adnan hingga pria itu mundur spontan. Kedua alis gadis itu sedikit terangkat, "T-tapi ... Kita kan bukan muhrim." ucapnya sambil menunduk. Alita berusaha menyembunyikan rona merah tanda ia sedang malu.

Adnan terkekeh. Alita mengangkat wajahnya spontan dan menatap pria dewasa itu. "Siapa yang bilang aku sama kamu bakalan tidur bersama?" tanyanya.

Seketika itu senyum di bibir Alita mengembang dan pipinya lebih merona dari sebelumnya. Bukan karena maksud dari pertanyaan Adnan yang membuat pipinya semakin merona, tapi karena Adnan menyebut dirinya dengan sebutan 'aku' lah. Menurutnya, itu terdengar manis.

Adnan tersenyum menatap Alita. Ia menggusel rambut gadis itu gemas. "Ayo kita kembali ke kamar masing-masing." Adnan mengecup kening Alita setelah mengucapkannya. Kemudian ia melangkahkan kaki dan Alita melangkah pula setelahnya.

Gadis itu mengingat fantasinya saat dibacakan surat Yasin. Di bayangannya, Adnan mengatakan ia tidak akan membiarkan orang lain mendekatinya. Dan itu sama seperti sekarang, Adnan menunjukannya lewat rasa cemburunya dengan Gilang.

***


Kring..

Kring..

Kring..

Weker di atas nakas samping tempat tidur Alita mengamuk, meminta gadis itu segera bangun sebelum matahari terbit.

Gadis yang tidur dalam posisi telengkup itu mengulurkan tangan mencari benda rewel itu seperti orang buta. Setelah berhasil mengambil benda itu, ia langsung membungkamnya. Alita membalikkan tubuh dan meregangkan otot-ototnya kemudian membuka mata. Rasanya ia baru saja tidur dan sekarang harus bangun lagi.

Matahari semakin menjukkan wujudnya, semua sudah berkumpul di ruang makan, tidak terkecuali Adnan. Matanya merah karena hanya tidur tiga jam saja malam tadi. Ia masih mengantuk, namun profesinya memaksa untuk bangun pagi.

"Kamu kelihatan kurang sehat, Adnan," ucap Heo Sung yang diangguki Arumi dan Gea tanda mereka satu pemikiran.

Adnan menatap Heo Sung, Arumi dan Gea bergantian sambil menggeleng. "Adnan cuma pusing aja kok karena kurang tidur," jelasnya.

"Pasti sibuk sama urusan kampus ya, Mas?" tanya Gea.

Adnan mengangguk sambil tersenyum. Sementara Gilang yang melihatnya hanya tersenyum sinis. Ia menerka-nerka setelah makan tengah malam itu, Adnan dan Alita tidak langsung tidur. Itu mengapa waktu tidur Adnan berkurang. Namun ia harap, mereka tidak melakukan apapun setelah ia berlalu dari meja makan semalam.

Setelah menghabiskan sarapan, Arumi bergegas mengantar Alif ke sekolah sebelum ia ke kantor, Adnan dan Gea pun bergegas ke kampus, sementara Heo Sung pergi ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah semalaman terjaga di rumah sakit karena profesinya, dan Gilang...

Hari ini Gilang tidak ada kelas. Ia akan bermalas-malasan di rumah, mengamati gadis manis tanpa dua lelaki yang juga menginginkan gadis itu.

Gilang melangkah ke arah Alita. Gadis itu baru saja menyapu debu. Ia tidak terlihat baik hari ini. Matanya agak merah dan tidak terlihat bersemangat.

"Istirahat bentar, ah. Mumpung gak ada orang. Muehehe," gumamnya. Alita menyandarkan sapu ke lengan bangku empuk, kemudian ia tidur di bangku tersebut. Ia tidak tahu bahwa Gilang sedang memperhatikannya.

Gilang menarik satu sudut bibirnya ke atas. Di kepalanya ada rencana untuk menjahili gadis yang sedang tidur di bangku empuk ruang tamu. Ia berjalan pelan hingga kedua kakinya tak menghasilkan suara.

Gilang meniup telinga Alita. Sayangnya, usahanya itu tak berpengaruh. Alita masih tidur. Kemudian jari tangan Gilang menggelitiki telinga Alita. Ia berhasil. Alita beringsut duduk, lalu menggeram dan menatap tajam Gilang.

"Apa lo? Dasar pemalas lo!" ucap Gilang yang diakhiri dengan menjulurkan lidahnya seakan memancing emosi Alita.

Pemuda itu beringsut mudur saat Alita berdiri tiba-tiba. Gadis itu menarik napas dalam-dalam sambil mengerjap pelan, lalu tangannya terulur memegang kuat tangan Gilang. Ia bersiap membanting tubuh Gilang.

Namun, seperti tahu apa yang akan Alita lakukan, Gilang lebih menahan tangannya dan mencoba menjatuhkan tubuh Alita, akan tetapi tangannya yang lain menahan pinggul gadis itu sehingga posisi mereka terlihat sangat manis. Apalagi mereka saling menatap dan jantung mereka berdetak sama cepatnya.

Gilang mengeratkan tangannya di pinggul Alita, menepis jarak di antara mereka.

"Hmmpp..."

Mata Alita membulat lebar tatkala Gilang tiba-tiba menciumnya beberapa detik kemudian dilepaskan kembali.

"Berani banget lo ci—" Alita memotong ucapannya. Ia menghela napas sambil menipiskan bibirnya dan mengerjap perlahan, mencoba menahan emosinya. "Lepasin gue sekarang."

Gilang tak menghiraukan permintaan Alita. Gadis itu menghela napas kembali, "lepasin!" hardiknya.

Gdebuk!

Alita merintih saat Gilang melepaskan tubuhnya. Gadis itu mengusap-usap bokongnya sambil menatap kesal Gilang. Kemudian Alita berdiri dan Gilang berlalu meninggalkannya.

"Heh! Beruntung lo anak majikan gue, kalo bukan ... GUE BUNUH LO!" Gadis itu berteriak di kalimat terakhir yang diucapkannya.

Sementara Gilang tak menghentikan langkahnya. Ia hanya mengangkat tangan kanan sambil menggibaskannya. Pria itu sama sekali tidak takut dengan apa yang dikatakan gadis itu. Ia menyeringai, "Sebelum lo bunuh gue, gue bakalan buat lo jatuh cinta terlebih dahulu sampe niatan lo bunuh gue dibatalin," gumamnya dalam hati.

"Gak boleh gitu, Al."

Suara yang terdengar tiba-tiba itu membuat Alita terlonjak kaget. Ia memutar tubuhnya ke asal suara tersebut, "I-Ibu."

Tubuh Alita menegang dan matanya membulat. Gadis itu menelan ludahnya, "Sejak kapan dia di sini? Apa tadi dia lihat Gilang cium bibir gue?" batinnya.

Wanita paruh baya itu tersenyum. Ia melangkah mendekati Alita kemudian mengelus pundak gadis itu. "Kamu gak boleh marah-marah sampe mau bunuh Mas Gilang segala," ucapnya.

Alita mendengus. Ia melipat kedua tangannya di depan perut. "Tapi dia nyebelin, Bu. Masa dia tadi ...," ucapnya sengaja dipotong. Untung tidak kebablasan.

Bi Asih terkekeh. "Hati-hati, Al. Biasanya rasa benci itu bisa jadi cinta loh," ucapnya menggoda Alita sambil mencubit gemas hidungnya.

Seketika itu wajah Alita memerah. "Apaan sih, Bu. Ya gak mungkin lah Al cinta sama cowok nyebelin kaya Mas Gilang."

Mendengar itu Bi Asih hanya tersenyum kemudian berlalu dari Alita.

"Ya. Gak mungkin, kan?" gumamnya dengan tatapan kosong. Kemudian ia menampar pipinya sendiri berkali-kali agar rasa panas di pipinya menghilang.

Tanpa Alita sadari, pemuda yang telah mencium bibirnya sedang memperhatikannya, tidak jauh darinya. Ya, Gilang tertawa kecil melihat tingkah Alita. Gilang puas.






To be continued,-

Harta Tahta AlitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang