10. Calon istri?

1.9K 111 5
                                        

"Akh!"

Aku menoleh dan menghentikan langkahku melihat Gilang yang mengacak rambutnya seakan merasa sangat bersalah padaku.

Memang, dia sudah salah. Mencium bibirku tanpa memikirkan bagaimana perasaanku saat itu. Jantungku hampir saja berhenti berdetak dan terasa pipiku terasa hangat, akan tetapi ia malah mengatakan bahwa ia hanya bercanda.

Ah bukan. Lebih tepatnya ia hanya mengerjaiku hingga membuatku malu. Padahal saat itu aku berpikir ia mencium bibirku karena ia mencintaiku. Bodoh! Betapa percaya dirinya aku saat itu.

Aku melanjutkan langkah kaki sebelum ia menangkap mataku yang tengah melihatnya.

Aku menghindar darinya bukan karena aku marah atas berbuatannya, aku malah senang. Hanya saja aku merasa malu untuk menghadapnya setelah mengingat kejadian kemarin semenjak pagi ketika aku bangun tidur sampai malam tadi. Sungguh, itu memalukan. Apalagi saat wajahnya mendarat di atas dadaku yang hanya mengenakan tank top putih saja.

"Al.." panggilnya lagi, ia meraih tanganku namun aku melepas tangannya.

"Mas, saya harus cepet-cepet nyuci biar pas jemur bajunya nggak kepanasan," ujarku. Wajahnya terlihat muram. "Permisi, Mas."

Lalu aku segera meninggalkannya. Entah kenapa, aku jadi merasa bersalah bersikap acuh seperti ini. Dan anehnya, kenapa ia sampai seperti itu hanya ingin meminta maaf padaku yang hanyalah seorang ART? Seperti orang yang memohon kepada kekasihnya agar tidak ditinggalkan saja. Jangan-jangan dia—
Ah, sudahlah. Mana mungkin, bukan?

Aku tertegun tatkala mendapati sosok Bu Arumi yang sudah rapih yang baru saja keluar dari kamarnya dengan membawa koper. Sekilas wanita paruh baya itu melihat jam tangan yang ia kenakan, ia terlihat sedang tergesa-gesa. Mau pergi ke mana dia?

"Eh, Al," sapanya sambil tersenyum ramah.

Kemudian terlihat Gea yang berjalan cepat mendekati Bu Arumi, ia menggenggam tangan wanita paruh baya itu. "Ayo, Mah. Nanti kita bisa telat," tukasnya dan berlalu meninggalkanku. Mereka akan pergi jauh dan lama juga, mungkin.

Secepatnya aku harus mengumpulkan pakaian milik Bu Arumi dan juga anak-anaknya.

***


Langkah Adnan terhenti ketika hendak menuju meja makan untuk sarapan di sana. Ia menatap bingung dua perempuan yang berjalan cepat sambil membawa koper masing-masing.

"Mah, Ge," panggilnya menghentikan langkah Gea dan ibunya, Arumi. Kemudian Adnan berjalan cepat menghampiri mereka dan berhenti tepat di depan.

"Kalian mau ke mana? Kenapa gak bilang-bilang dulu?"

Gea menghela napas. "Mas, kita buru-buru, takut ketinggalan pesat." Setelahnya Gea menyingkirkan tubuh besar dan tinggi milik Adnan lantas berjalan melewatinya dengan tangan yang masih menggenggam tangan Arumi.

Sekilas Gea berhenti dan menoleh ke belakang. "Nanti Gea kasih tau kalo kita udah sampe Korea," katanya.

Kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju mobil sedan yang sudah siap di depan rumah.

Alif yang baru saja datang, menganga melihat Gea dan Arumi yang membawa koper.
"Mereka mau ke mana, Mas?" tanyanya.

Adnan menoleh ke samping, sedikit menunduk karena tingginya tidak sama dengan Alif. "Ke bandara. Katanya mereka mau ke Korea."

"Hah? Korea?" Adnan mengangguk. "Terus gue berangkat ke sekolahnya gimana dong, Mas?"

Kebetulan sekali Gilang datang. Adnan melirik Adnan, diikuti dengan dua bola mata Alif yang mengikuti arah pandangnya.

Harta Tahta AlitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang