Alita mematung dan mulutnya menganga. Ia masih terkejut setelah mendapat kecupan singkat dari Gilang. Gadis itu bingung, apakah ciuman tadi hanya bentuk dari pembalasan atau—
Di kampus...
Adnan tersenyum menatap gadis yang duduk di barisan tengah, paling belakang. Dea yang merasa diperhatikan oleh Adnan pun tersenyum dan wajahnya memerah. Padahal tatapan itu kosong karena Adnan membayangkan Alita, terutama ketika mereka berciuman di pantai.
Siulan demi siulan saling bersahutan hingga akhirnya Adnan tersadar dari lamunannya.
"Kayaknya bakalan ada kisah-kasih di kampus nih," ujar Mahasiswa yang duduk di depan Dea.
"Lebih tepatnya cinta antara Dosen dan Mahasiswi. Uwwuuu," sahut Mahasiswi yang duduk di kursi pojok kanan paling depan.
Adnan menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal. Sementara itu Dea menundukkan kepala saat teman-teman di samping kanan dan kirinya menggodanya dengan menyenggolkan siku mereka.
"Kalian ngomong apa sih?" tanya Adnan. Pria itu menatap dingin satu persatu Mahasiswa dan Mahasiswi di kelas ini.
Semua terdiam saat melihat Adnan mulai serius. "Karena tadi kalian berisik, saya kasih hukuman buat kalian."
Mendengar itu, mereka mendesah lesuh. "Kalian baca-baca dan pelajari ini," ujar Adnan sambil melangkah menebar kertas berisikan materi yang cukup sulit.
Pria itu berhenti di kursi barisan tengah, paling belakang— tempat Dea duduk. Ia menaruh kertas di atas meja sempit yang menyatu dengan kursi, dengan satu hentakkan hingga membuat Dea terbelalak.
"Setelah 15 menit kalian baca, lalu saya akan kasih pertanyaan yang harus dijawab dengan benar. Dan kalian tenang aja, hanya satu orang yang saya tunjuk. Tapi ...." Adnan menjeda sambil membungkukkan tubuh dan lengannya bertopang pada meja Dea.
Adnan menatap singkat Dea hingga membuat jantung gadis itu seperti berpacu pada adrenalin "... Tapi saya akan menunjuk kalian secara acak. Jadi bersiaplah!" lanjutnya tegas sambil menatap tajam semua Mahasiswa dan Mahasiswi secara bergantian. Kali ini bukan Dea saja yang dibuat deg-degan, tapi seluruh isi kelas ... Kecuali dirinya sendiri.
Dea menekan dadanya setelah Dosen seksi itu berjalan menuju tempatnya.
"Tadi gue bisa lihat Pak Adnan dari dekat. Hidungnya dan bibirnya yang ...." Gea bergumam sambil mengingat Adnan, lalu menggeleng kasar, menepis semua pikiran mesum yang berusaha memasuki kepalanya.
***
Alif, Bi Asih, Alita, Pak Satpam, Bapak yang ditugaskan memebersihkan halaman serta tanaman agar terawat rapih, serta supir pribadi di rumah ini tengah berkerumun membentuk sebuah lingkaran kecil.
Para pekerja di rumah ini dan adik bungsunya yang sedang berkumpul tersebut menarik perhatian Adnan untuk gabung dengan mereka.
"Saya boleh gabung?" tanya Adnan. Mereka yang sedang berbincang ria pun terdiam sejenak menatap Adnan yang mereka tidak sadar bahwa pria itu sudah berdiri di sini dengan gagahnya.
"Boleh," ucap Alita, matanya berbinar-binar tatkala mendapati pria seksi idamannya tersebut.
"Ayo gabung, Den," seru pak Satpam ramah.
Akhirnya mereka melebarkan lingkaran dan mempersilahkan Adnan duduk di antara mereka. Entah apa yang ada di pikiran para pekerja, mereka memberi celah di samping kanan Alita hingga Adnan bisa berdekatan dengan gadis itu. Sementara di samping kiri Alita, ada Alif yang mengerucutkan bibir dan ekor matanya melirik Adnan dan Alita bergantian.
"Ayo lanjut," tukas Alif. Ia mulai mengambil irisan-irisan dari berbagai jenis buah-buahan yang rasanya asam, lalu mencoelnya ke sambal yang dibuat dari gula merah, asam Jawa, garam, beberapa cabe rawit dan terasi yang sudah dibakar dan diuleg bersamaan. Kemudian dikunyahnya kasar agar bisa menepis sesuatu yang mengganjal di hati saat melihat Alita dan Adnan yang seperti sepasang kekasih itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harta Tahta Alita
RomanceCOMPLETED ✓ Ini bukan cerita tentang perebutan harta, bukan juga tentang berebut kedudukan atau tahta. Tapi ini cerita tentang tiga laki-laki tampan dalam satu rumah yang berebut hati Alita. "Gue dulu, jadi Alita itu milik gue!" hardik pria yang men...
