Langkah kaki Gilang terhenti tatkala mendapati Adnan setelah keluar dari kamar Alita.
Adnan menyipitkan matanya. “Habis ngapain kamu, Lang? Tidur di kamar Alita ya semalem?”
Pertanyaan itu membuat Gilang gugup. Mengapa Adnan bertanya seolah ia mengetahuinya?
Gilang terkekeh, mencoba membuat dirinya tenang. “Mas ngaco. Gak mungkin lah Gilang tidur di kamar Alita. Kan bukan mahrom.”
Adnan manggut-manggut. “Terus?”
“Tadi Gilang habis liat kondisi Alita. Udah baikan atau belum gitu loh, itu pun cuma bentar,” jawabnya tenang dan lagi-lagi Adnan hanya manggut-manggut tanda paham, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Gilang, lantas mengetuk pintu kamar Alita yang tidak tertutup.
Gadis itu melihat Adnan sorot tajam. Mengingat kejadian semalam, tentu saja ia masih merasa kesal. Seandainya Adnan mengatakan akan makan malam bersama temannya juga, yang tidak lain kakak tertua Alita, sudah pasti ia akan menolak ajakannya walau dipaksa.
Adnan tersenyum lantas melangkah mendekati Alita. Sementara gadis itu membalas senyum pria itu dengan bibir mengerucut, menunjukkan bahwa ia kesal.
Tangan kekar Adnan yang hendak mengelus rambut hitam pendek Alita ditangkis sang empunya.
"Al, kamu marah ya?" tanyanya lembut sembari mendudukkan tubuh di atas kasur, di samping gadis itu. Alita hanya diam, membuang muka sambil melipat kedua tangannya di depan perut.
Adnan menghela napas. “Maafin saya. Saya benar-benar nggak tau kalau kalian ada hubungan. Saya cuma mau kenalin kamu ke temen saya sebagai calon istri,” ujarnya dengan wajah tertunduk.
“Saya mohon, beri saya penjelasan hubungan kalian. Dan kenapa dia sampe nampar kamu?” Tangan kanannya meremas tangan kirinya yang sudah mengepal.
“Mas Andi itu kakakku, Mas,” jawabnya membuat Adnan tersentak dan spontan menoleh ke samping.
Adnan menghela napas sambil mengangkat wajahnya. “Astaga. Jadi, Andi marah karena ngira ....”
Alita mengangguk. "Padahal aku belum selesai ngomong, tapi Mas Andi udah salah paham duluan kalau aku kumpul kebo sama Mas Adnan. Padahal kan aku sama Mas Adnan awalnya gak saling kenal, aku di sini juga cuma mau kerja sebagai ART.”
Adnan mengangguk paham. Sahabatnya itu memang sudah keterlaluan. Ia tidak ingin ada kesalah-pahaman sebab akan ada efek di antara persahabatan mereka, dan tentunya Alita.
Adnan menegakkan tubuh, kemudian berlalu meninggalkan kamar Alita setelah mendengar penjelasannya tersebut. Setelah keluar dari kamar, Adnan merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Andi, menjelaskan hal yang sebenarnya agar sahabatnya itu mau meminta maaf pada Alita.
---
“Astaga, Mas. Ngapain pake nyamperin Gilang ke sini?” tanyanya sambil mengelus dada.
“Gini, Lang. Hari ini Alita diliburkan dari tugasnya, begitu pula dengan Bi Asih.” Gilang mengerutkan dahi, menunggu lanjutan kalimat yang digantung kakak tertuanya itu.
“Jadi hari ini yang bikin sarapan Mas sama kamu. Ok?”
“Nggak,” jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Adnan mengangkat bahu. "Kenapa nggak Mas sama Alif aja?" sarannya dengan mata yang menunjuk ke luar, kebetulan sekali Alif berdiri di ambang pintu yang tidak tertutup, lalu Adnan mencari objek yang ditunjuk Gilang.
"Alif masih anak-anak, nggak boleh kerja. Ya walau pun cuma masak."
"Anak-anak?" tanya Gilang sambil terkekeh dan Adnan mengangguk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harta Tahta Alita
RomanceCOMPLETED ✓ Ini bukan cerita tentang perebutan harta, bukan juga tentang berebut kedudukan atau tahta. Tapi ini cerita tentang tiga laki-laki tampan dalam satu rumah yang berebut hati Alita. "Gue dulu, jadi Alita itu milik gue!" hardik pria yang men...
