29. Urusan dengan Gilang

568 36 0
                                        


Budayakan untuk meninggalkan jejak ya 💕

Selamat membaca 🤗

Kring kring kriing!

Bunyi Alarm yang menggila membuat Alita terkesiap, ia mengerjap agar matanya mampu beradaptasi dengan cahaya yang remang-remang dari lampu tidur di nakas.

Buru-buru ia beringsut duduk dan langsung membuat alarm berhenti berbunyi. Barulah ia meregangkan otot-otot tubuhnya.

Matanya membulat kembali. "Loh kok gue udah di sini sih?" gumamnya sambil menggaruk tengkuk leher yang sama sekali tidak gatal.

"Bukannya semalem gue kuliah yah? Terus Mas Adnan nganter dan ngejemput gue?" gumamnya lagi, bola matanya menyudut ke kiri, sedikit ke atas khas orang berpikir.

"Terus, kenapa gue bisa di kamar? Apa semalam gue emang gak kuliah? Ah, itu gak mungkin. Semalam gue ke kampus dan itu bukan mimpi."

Gadis itu menghembuskan napas kasar. Kini ia bisa mengingat terakhir kali sebelum ia di kamar. Ya, di tengah perjalanan dia menguap berkali-kali.

Tapi, bagaimana bisa gue udah ada di sini? Apa mungkin Mas Adnan yang gendong gue sampe kamar yah? Batinnya.

Pukul 05:30 usai salat subuh, Alita bergegas ke dapur. Ia membuat dua porsi nasi goreng sederhana untuknya dan juga Bi Asih.

Alita mulai menuangkan minyak sayur ke dalam wajan. Gadis itu melihat layar ponsel untuk melihat resep nasi goreng sederhana.

Ia menaruh irisan-irisan bawang merah dengan mata yang masih tertuju pada ponsel, yang diletakkan tidak jauh dari kompor sedangkan tangannya memegang spatula.

Gadis itu tersentak. "Noda minyak itu susah loh hilangnya." ujar Adnan yang tiba-tiba sudah ada di belakang Alita mengenakannya celemek. Gadis itu menunduk, pipinya memerah seperti udang rebus. Ia merasa dipeluk Adnan walau pria itu hanya mengenakannya celemek saja.

"Modus tuh." Suara bass itu membuat Alita dan Adnan tersentak dan spontan menengok ke belakang.

"Modus?" Adnan mengulang, alisnya terangkat.

Gilang mengangguk. "Kamu cemburu, kan? Mas tadi cuma pasangin celemek aja." Adnan berusaha menyindir Gilang karena ia sendiri memang sengaja memakaikannya celemek agar bisa dekat dengan gadis itu.

Sementara Gilang yang mendengar sindiran tersebut hanya bisa menggeram pelan. "Pinter banget sih ngelempar baliknya," gumam Gilang dalam hati sambil menatap tajam Adnan yang sudah kembali menghadap sesuatu yang dimasak Alita.

Gilang semakin memanas saat Mas Adnan berdiri di belakang Alita mengajarinya memasak, sangat dekat.

Sementara Alita. Ia malah senang walaupun Adnan hanya sekedar mengarahkan tangannya saja. Pipinya memerah. Untung saja Adnan berada di belakangnya sehingga pria itu tidak dapat melihat pipinya yang bersemu.

"Ekhmmm."

Mendengar deheman Gilang, Adnan menjauh sedikit dari gadis itu. Ia merasa tidak enak kalau dipantau terus oleh adiknya itu.

"Al ... Kamu cukup tunggu sekitar kurang lebih lima menit, lalu langsung disajikan di piring. Nanti kamu bawa ke meja makan ya. Kita sarapan bareng," ucap Adnan, lalu pria itu memutar tubuhnya.

"Tapi, Mas." Baru empat langkah menjauh, Adnan langsung menghentikan langkah dan menoleh menatap Alita.

"Bukannya aku gak boleh makan di situ."

Adnan tersenyum. "Boleh, Al. Yang lain sarapannya agak siangan," ujarnya. Alita mengangguk sambil tersenyum. Gadis itu menatap punggung Adnan yang semakin menjauh.

Harta Tahta AlitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang