21. Dedek gemes

1K 56 0
                                        

Gea masih tertawa dengan tangan yang memegang perut, bahkan saat ia sampai di kamarnya ia tetap masih tertawa. Ini luar biasa. Melihat seorang Adnan, kakak tertua yang terkesan tenang, cuek dan selalu menjaga 'image' tapi tadi bertingkah aneh. Benar-benar aneh seperti bukan dirinya yang berprofesi sebagai Dosen, ditambah lagi kakak tertuanya itu terkesan sempurna.

Tawanya terhenti tatkala melihat meja tempat ia berdandan berantakan. Gea melangkah cepat memeriksa barang-barangnya dari mulai laci dorong di meja tempat dandan, lemari pakaian sampai meja nakas di samping tempat tidurnya. Dan semuanya aman. Tidak ada barang berharga yang hilang hingga ia bisa tidur dengan nyenyak setelah perjalanan dari Korea ke Indonesia yang cukup melelahkan.

***


Semua berkumpul di meja makan, tidak terkecuali Adnan. Pagi ini ia sudah menyunggingkan senyum seperti sedang kasmaran hingga membuat Alif bingung saat melihatnya. Kemarin pria itu merasakan hal sama sepertinya karena Alita tak lagi di rumah ini, tapi sekarang wajahnya terlihat sumringah.

Mungkin ada seseorang yang spesial di kampus hingga membuatnya bersemangat, pikir Alif.

Alif masih menoleh ke samping kiri, dimana ada Adnan duduk di kursi yang menghadap sisi meja lain meja, hingga tangan kanan Alif yang memegang garpu dengan robekan roti di jari-jari garpu tersebut tidak masuk ke mulutnya yang terbuka dan malah terkena pipi kanannya.

Di seberang sisi meja, Gea dan Gilang yang hendak tertawa tertahan karena Arumi mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya dan menggoyang-goyangkannya ke kanan dan ke kiri, tanda larangan hingga akhirnya mereka hanya menahan tawa dengan menutup mulut dengan telapak tangannya.

“Kamu mikir Mas apaan, Dek?” tanya Adnan setengah tertawa.

“Bukan apa-apa, Mas,” jawab Alif sambil meluruskan wajahnya dan ketika matanya bertemu dengan Gilang dan Gea, Alif membelalakan mata seakan mengatakan 'Ketawa aja sepuas kalian.'

Selera makan Alif hilang. Ia memutuskan untuk langsung pergi dari tempat ini. “Ma... Ayo, berangkat,” katanya sambil menatap Arumi.

“Mamah gak berangkat ke kantor. Alif berangkat sama Pak Maman aja. Hari ini Mama mau mesra-mesraan sama Appa kalian,” jawabnya seraya mendekatkan kursinya ke kursi Heo Sung.

“Iihh, geli.” Lalu tawa hangat semua anggota keluarga ini memenuhi ruangan.

“Kalo gitu Alif berangkatnya bareng Mas Adnan aja deh. Gak papa kan, Mas?” Adnan mengangguk sambil tersenyum. Pria itu sama sekali tidak keberatan kalau dimintai adik bungsunya itu karena memang sayang, bahkan melebihi Gea dan Gilang.

“Assalamu'alaikum,” ucap Alif sebelum berlalu meninggalkan meja makan disusul Adnan.

Gea terkekeh saat menyadari liptint yang dioles tipis pada bagian dalam Alif. “Kayak cewek aja,” batinnya.

Liptint?” batinnya lagi.

Kali ini matanya membulat lebar. Ingatan Gea semalam muncul. Pelaku yang membuat meja hiasnya berantakan itu Alif, pikirnya.

“Woy!! Alif!!! Balikin liptint gu—  hmmpp.” Gilang berhasil membungkam mulut Gea dengan telapak tangan kirinya, sementara tangan kanannya merangkul kuat pundak Gea hingga sulit bergerak.

Gea memukul lengan Gilang sekuat tenaga dan bertubi-tubi namun pria itu tetap tidak melepaskannya.

“Gilang,” lirih Arumi. Akhirnya Gilang melepas mulut Gea. Gilang mendesis kesakitan sambil mengelus-elus kulit tangannya yang memerah.

“Rasain! Siapa suruh lo bekap mulut gue!” Gea melipat kedua tangan di depan perut, senyum miring tercipta di bibir tipisnya.

“Lo berisik sih.”

Harta Tahta AlitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang