Ketahuilah! Jejak dari kalian sangat berpengaruh dengan semangatku menulis. Maka dari itu, jangan jadi Silent Readers ya,-
•
•
•
Siang ini aku sudah di depan pintu rumah keluarga Bu Arumi bersama kakakku yang paling rese. Ya, siapa lagi kalau bukan Bang Andi?
Terdengar suara pintu yang terbuka setelah beberapa menit Bang Andi menekan tombol bel berkali-kali.
Gilang?
Dia yang pertama kali terlihat saat aku menginjakkan kembali kakiku di rumah ini.
Al, jangan senyum apa lagi sampai menunjukkan betapa girangnya saat bertemu kembali dengan pria tampan di depan ini. Ya, aku harus bersikap biasa-biasa saja.
Dengan sikap tenang, aku bisa melihat bahwa Gilang terlihat tidak percaya melihatku bersama Bang Andi. Hey, ayolah. Kakiku akan terasa pegal kalau dibiarkan terlalu lama berdiri di sini.
"Kalian udah dateng yah.." suara berat dan seksi itu membuatku langsung mencari asalnya. Pria tampan yang paling seksi di antara anak Bu Arumi itu melangkah menghampiri kami, "Ayo, masuk du ...."
"Al?" Alif memotong ucapan Mas Adnan. Ia berlari ke arahku sampai tidak sadar pundaknya menabrak lengan Mas Adnan hingga terhuyung. Untungnya, kaki Mas Adnan cukup kuat hingga mampu menyeimbangkan tubuhnya. Tapi-
Aku memejamkan mataku dengan rapat.
"Al, lo kemana aja sih?" Suara Alif sudah terdengar, akan tetapi kenapa aku tidak merasa pelukannya? Apa memang tidak jadi memelukku?
Aku membuka mata dan aku bisa bernapas dengan lega. Aku bersyukur karena Gilang menghalangi Alif yang mencoba memelukku. Aku tak bisa membayangkan kalau saja Gilang tidak menghalangi bocah itu.
Pipiku memanas saat Mas Andi sampai di depanku dan langsung menggenggam tanganku. Aku menoleh sekilas ke samping di mana Bang Andi berdiri dan seketika itu aku bisa melihat dari wajahnya bahwa ia terlihat mengkhawatirkanku.
Pria dewasa nan tampan juga seksi itu membawaku menghadap keluarganya, ia memintaku memberi penjelasan. Seperti biasanya, Gea menatapku sinis. Ia benar-benar tidak suka dengan keberadaanku di rumah ini. Walaupun begitu, aku harus bersikap manis padanya. Dan itu sungguh terpaksa.
Aku juga melihat pria yang ada di foto keluarga Bu Arumi. Ya, dia pasti Kim Heo Sung, suami Bu Arumi yang katanya usia Tuan Kim Heo Sung ini lebih muda beberapa tahun dari bu Arumi. Tuan Kim ini terlihat lebih muda dari usianya. Di rumah ini banyak pria tampan. Dan itu alasan mengapa aku ingin kembali ke rumah ini. Bertemu dengan tiga pria tampan, namun yang paling utama ialah agar bisa memiliki waktu bersama Mas Adnan.
Setelah Bang Andi berpamitan pulang, aku langsung membawa gelas-gelas kotor ke dapur untuk dibersihkan. Aku merasa ada seseorang yang berjalan mengekor di belakangku, akan tetapi aku tidak menghiraukannya dan terus berjalan sampai pada akhirnya aku dikejutkan sosok pria yang cukup tinggi berdiri beberapa meter dari tempatku.
Jadi dari tadi Gilang memerhatikanku diam-diam? Itu konyol!
Aku mengangkat dagu dan berjalan dengan mantap ke arahnya. Aku menghentikan langkah tepat di dekatnya dan menatapnya intens. Bisa dilihat dari wajah kalau Gilang merasa gugup. Aku menarik satu sudut bibirku kemudian berlalu meninggalkan. Aku berasumsi bahwa ia merindukanku dan tadi saat di ruang tamu pun ia mencuri-curi pandang seperti remaja yang baru pertama kali kasmaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harta Tahta Alita
RomanceCOMPLETED ✓ Ini bukan cerita tentang perebutan harta, bukan juga tentang berebut kedudukan atau tahta. Tapi ini cerita tentang tiga laki-laki tampan dalam satu rumah yang berebut hati Alita. "Gue dulu, jadi Alita itu milik gue!" hardik pria yang men...
