“Al, kamu udah sadar?" tanya Bi Asih tatkala aku membuka mata, setelah mereka membawaku ke bangku empuk yang terletak di ruang favorit keluarga ini.
Dari pertanyaan dan mimiknya, aku berasumsi bahwa ia masih ketakutan dan ragu, apakah ragaku masih ditempeli setan atau sudah 100% sadar.
“Iya, Bu. Emang tadi aku kenapa?”
Maafkan aku, Bi Asih. Terpaksa aku harus berbohong, hehe.
“Tadi kamu kesurupan,” jelasnya, ia langsung berdiri memeragakan diriku saat sedang melamun, Bi Asih mengombang-ambingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri kemudian ia berhenti dan mendongakkan wajahnya sambil melenguh.
“Haha... Haha.” Aku tidak bisa menahan tawa melihat wanita paruh baya itu. Jadi, tadi aku seperti itu? Astaga.
Bi Asih duduk sesudah memeragakannya, ia menghela napas panjang guna menetralkan napasnya. Memang di usianya itu mudah merasa lelah bila dia terlalu aktif.
“Al,” panggil Bi Asih sambil menebar pandangan ke segala sisi rumah ini, terutama pada bagian atas. Gara-gara aku berbohong, Bi Asih jadi ketakutan begitu.
“Kenapa, Bu?” tanyaku pura-pura polos.
“Jangan-jangan rumah ini ada pendatang baru dan jangan-jangan ...,” ucapnya menggantung. Kini pandangannya beralih kepadaku.
“Jangan-jangan apa, Bu?” Lagi-lagi aku harus berpura-pura ikut ketakutan, padahal aku tahu bahwa di rumah ini tidak ada mahluk halus yang mengganggu.
“Mahluk halus itu suka kamu, Al,” lanjutnya setengah berbisik, matanya melirik kanan-kiri seakan sedang memastikan mahluk halus yang dimaksudnya tidak mendengarnya.
Aku hanya diam, mau tertawa tapi takut bertambah dosaku.
“Al, sebaiknya kamu mandi kembang tujuh rupa aja,” usulnya.
Aku menggeleng. “Apa gak musrik nantinya?”
“Hmm... Iya, sih.” Bi Asih manggut-manggut. “Bagaimana kalo kita kasih tau mas Adnan aja? Dia pasti bisa bantu. Cari pak Ustad buat ngusir hantu misalnya.”
Gawat! Itu ide yang buruk. Mas Adnan yang pintar pasti tidak akan langsung mencari Ustad, mungkin ia akan menulusurinya langsung terlebih dahulu. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
“Gak usah, Bu.”
“Al... Ini demi kebaikan kamu, demi kebaikan kita semua yang tinggal di rumah ini.”
Aku beringsut duduk lantas mengulurkan tangan, menggenggam kedua tangan bi Asih yang sedang ketakutan. Sungguh, aku tidak tega melihat wanita paruh baya yang duduk di hadapanku yang menyandarkan tubuh di tangan bangku empuk.
“Bu, Al janji nggak akan biarin setan itu kembali lagi kesini,” ucapku lirih.
Bi Asih menatapku spontan, wajahnya malah semakin panik. Aku bingung kenapa ia belum juga tenang?
“Itu mahluk tak kasat mata, bagaimana bisa kamu memastikan setan itu gak bakal ke sini lagi, Al?”
Aku menghela napas panjang kemudian tersenyum. “Al, pernah diajarin Papa doa untuk membuat benteng agar tidak ada mahluk halus yang jahat masuk.”
Bi Asih terdiam.
“Ibu gak usah khawatir lagi, ya,” kataku sambil mengusap lembut punggung tangannya.
Akhirnya senyum simpul tercipta di bibir Bi Asih. Kurasa, Bi Asih kini tidak merasa takut lagi. Untuk yang kedua kalinya aku berbohong perihal doa membentengi mahluk halus, itu juga demi kebaikan agar Bi Asih tenang kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harta Tahta Alita
RomanceCOMPLETED ✓ Ini bukan cerita tentang perebutan harta, bukan juga tentang berebut kedudukan atau tahta. Tapi ini cerita tentang tiga laki-laki tampan dalam satu rumah yang berebut hati Alita. "Gue dulu, jadi Alita itu milik gue!" hardik pria yang men...
