34. Ciuman panas

1.4K 45 0
                                        

Jangan jadi silent readers yah ^_^

Seperti malam-malam sebelumnya, Alif masih berkutik pada ponselnya di saat yang lain sudah tidur. Ia menatap ponselnya yang dimiringkan dengan semangat yang berkobar bersama teamnya dalam permainan yang menggunakan internet. Hingga terdengar suara cekikikan dari Alita membuat fokusnya pecah.

"Shit!" umpatnya kala permainan selesai. Beberapa temannya mengejek dan ada pula yang memakinya habis-habisan, dia seorang gadis yang ikut dalam permainan dan satu team dengannya.

"Whatever! Lagi pula mata gue udah perih," gumamnya kemudian melempar ponselnya di atas kasur.

Alif beranjak dari kasur dan keluar dari kamarnya. Ia butuh air dingin untuk membasahi kerongkongan yang sedari tadi sudah terasa kering namun ia menahannya demi permainan di ponselnya, ia juga butuh sesuatu untuk mengganjal perutnya. Entah itu mi dalam cup atau buah-buahan.

Langkahnya terhenti ketika beberapa meter sebelum kamar Alita. Ia melihat kakak tertuanya, Adnan menggendong Alita.

"Apa setiap malam begitu?" batinnya. Ia melanjutkan langkahnya bersamaan dengan Adnan yang semakin dekat di pintu. Adnan terlalu fokus memandang wajah Alita yang memelas minta diturunkan hingga tidak menyadari keberadaan Alif.

"Ekhmm."

Suara deheman Alif mampu membuat Adnan tersentak dan reflek melepaskan Alita, hingga gadis itu terjatuh.

Tubuh Adnan mematung, sementara Alita mengusap-usap bokongnya dan matanya terbelalak saat menyadari keberadaan Alif.

Buru-buru Alita menegakkan tubuhnya dan menepuk-nepuk pakaiannya, berupaya debu-debu terhempas.

"Kenapa Alif selalu muncul di waktu yang gak tepat sih?" Adnan menggerutu dalam hati. Tubuhnya masih kaku. Ia bingung akan mengatakan apa kepada si Bungsu itu.

"Al ..." Sang empunya nama menoleh.

"Sampe sini aja yah," ucapnya sebelum meninggalkan Alita dan Alif tanpa menunggu persetujuan dari gadis itu.

Sementara itu, Alita masih berdiam diri. Ia meneguk kasar salivanya dan kemudian tertawa geli.

"Aku masuk ya, Mas. Selamat malam," ucapnya. Wajahnya menunduk kemudian segera memasuki kamarnya.

Setelah tinggal dirinya sendiri, Alif melanjutkan langkahnya menuju dapur. Ia mengambil botol dan langsung meneguk air di dalamnya sampai habis dalam sekali tarikan napas. Ia mengusap sekitar bibir yang terkena air.

Alif menerka-nerka Adnan dan Alita memiliki hubungan khusus. Apa yang mereka lakukan tadi terlihat manis sehingga pipi Alif bersemu saat mengingatnya.

"Andai gue di posisi Mas Adnan tadi," gumamnya.

Kemudian ia mengerjap dan menggeleng kasar beberapa kali, menepis bayangannya tadi. Ia mengingatkan dirinya sendiri yang sudah mengambil keputusannya untuk tidak mengharapkan Alita lagi.

***

Alita mendengus. Bisa-bisanya Adnan menjatuhkan dirinya di depan Alif. Memalukan!

Gadis itu mencari nama Future Husband di kontak ponselnya, lalu mencoba menghubungi pemilik kontak tersebut. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur saat panggilan menyambungkan.

"Mas tadi tega banget sih jatuhin aku," ucapnya saat panggilan terhubung.

"Maafin saya ya, Al. Tadi saya kaget banget," sahut seseorang di seberang sana.

Alita tak menjawab, "Sekarang masih sakit?" Adnan kembali bertanya.

"Atiiit," jawabnya dengan nada suara manja. Lalu panggilan terputus secara sepihak.

Harta Tahta AlitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang