*Perhatian: Author bakalan Pakek bahasa sehari-hari nya orang gorontalo di cerita ini. Tapi, bagi yang tidak paham tenang saja bakalan Author kasih tau.
Zahra sudah mempunyai teman di pesantren ini. Namanya Radiffa dan Arsyila. Difa dan Syila selalu berjalan dengan Zahra kemanapun dia pergi.
Ini sudah sekitar dua bulan Zahra di pesantren ini. Ia juga sudah mulai berbaur dengan teman seangkatannya, walaupun memang tidak terlalu akrab.
Zahra, Difa dan Syila keluar pesantren untuk pergi ke toko di luar pesantren. Setelah membeli barang yang di perlukan, mereka segera saja pulang ke pondok.
Saat hendak ke pondok, ternyata pintu samping asrama putri yang biasanya menjadi tempat lewat para santriwati untuk keluar di kunci.
"Jadi kita ikut depan?" Tanya Difa. Zahra mengangguk begitupun Syila. Mereka kemudian segera ikut gerbang depan. Ada dua gerbang utama di pesantren ini.
Gerbang utama sudah lama di tutup, karena adanya proses pembesaran pesantren. Sedangkan gerbang kedua, berada di belakang, tempat para santri untuk keluar masuk pesantren.
Mereka melangkahkan kaki, saat hendak masuk ke gerbang, banyak sekali santriwan seangkatan mereka sedang duduk di beton depan gerbang. Syila dan Difa sudah menahan malu, sedangkan Zahra dia terus saja berjalan. Toh, dia tidak mengenal mereka semua.
"Difa? Di torosiaje ada matahari?" Seorang santriwan mengusili Difa. Syila dan Difa kemudian berhenti, sedangkan Zahra, dia sudah duluan ke Asrama.
Di pesantren ini, para santriwan dan santriwati di perbolehkan saling bicara, akan tetapi tidak boleh terlalu lama.
"Nga kira torosiaje itu bukan bagian dari bumi?" Kesal Difa, sedangkan orang yang mengejek sudah tertawa.
(Kamu pikir, torosiaje itu bukan bagian dari bumi?')
"Santai uti, ta usah mahengo olo eii," Difa semakin kesal saja. Orang yang sedang mengejeknya saat ini adalah Ansori, pada awalnya dia memang pendiam, entah kenapa sekarang malah jadi cerewet.
(Biasa aja, nggak usah marah-marah juga,)
"Aswan, ngana pe cewe ee," celutup Mario. Kali ini Syila yang menjadi pusat pembicaraan. Syila kemudian tertunduk, kemudian segera mengajak Difa pergi.
(Aswan, Cewek kamu tuh)
"Jangan ba gara-gara, Rio! Kita mo dapat taapo!" Ancam Aswan. Membuat semua orang di situ tertawa. Sedangkan Difa dan Syila sudah pergi menjauh dari mereka.
(Jangan meledek, Rio! Aku hajar nanti,)
"Sudah saja, lebe bae torang somo ba ambe air sambayang pati ustad Nur. Somo ba antri panjang poli, so malas poli kita kalo bagitu," ajak Riki. Merekapun segera pergi ke arah rumah salah satu asatidz.
(Sudahlah, lebih baik kita ngambil wudhu di rumah ustad Nur sekarang. Ntar antrian panjang lagi, Aku jadi malas kalau gitu)
Air di asrama memang sedang mengalami kendala. Entahlah, ini memang sering terjadi. Bahkan, air untuk mandi saja susah sehingga banyak pula santri yang keluar asrama untuk menumpang mandi di rumah orang.
Sementara di sisi lain, saat Zahra sudah kembali duluan, Zahra bertemu dengan dua orang santriwan yang hendak keluar mengantar laundry. Salah satu di antara mereka adalah Farid.
"Aza!" Zahra menoleh, Ia kemudian berhenti. Sedangkan dua santriwan itu menghampiri dirinya. Farid kemudian tersenyum pada Zahra.
"Aku denger, saat hari santri nanti akan ada lomba. Kamu mau ikut cabang lomba apa?" Kepo Farid. Zahra kemudian menggeleng.
"Gak tau," jawab Zahra ketus. Farid kemudian menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Farid melirik ke sampingnya.
"Oh, iya! Za! Kenalin in-" ucapan farid terpotong.
"Duluan, Yah!" Pamit Zahra. Farid pun hanya bisa mengangguk, kemudian segera pergi ke laundry bersama temannya itu. Tiba di jalan, ia bertemu dengan Difa dan Syila.
"Difa! Titip salam buat Zahra, Yah!" Pekik Farid. Difa mendengus.
"Bilang sendiri aja! Nanti Zahra malah kesel," tolak Difa. Farid memanyunkan bibirnya. Difa dan Syila berjalan kembali menuju Asrama.
______________
JANGAN DULU DI HAPUS, INI MASIH BASA BASI. NANTI BAKALAN ADA KOK CERITA MENARIKNYA:)
VOTE DONG TEMAN-TEMAN:))
KAMU SEDANG MEMBACA
Allah With Azzam ✔
SpiritualKetenangan dalam hidup adalah hal yang selalu Zahra inginkan. Saat akan masuk pesantren artinya dia meninggalkan kegiatan kesehariannya yang introvert dan harus berbaur dengan banyak orang dan tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Zahra. Firasatny...
