"Terima kasih Zahra, karena telah mengurangi beban hidupku"
"Terima kasih Zahra karena telah mengasihaniku"
"Terima kasih Zahra karena telah membuat diriku tersadar atas kesalahan apa yang Aku lakukan"
"Terima kasih Zahra sudah hadir dalam hidupku"
"Terima Kasih Zahra karena telah sudi menemuiku untuk terakhir kalinya"
Multazzam Afrizal Abukasi
Kepada
Ukhtiasyah Azzahara Abdullah
"Sama-sama Azzam"
_Ukhtiasyah Azzahara Abdullah_
***
Tujuh tahun Kemudian
Zahra memegang buku diary yang sekarang menjadi miliknya. Itu adalah Diary Azzam, lelaki yang pernah singgah di hatinya. Isi Diary itu adalah seluruh ungkapan terima kasih Zahra dan keseharian menarik Azzam.
Zahra meletakkan diary berukuran sedang itu di samping kursi kemudinya. Ia keluar dari mobilnya dan masuk ke sebuah acara pernikahan yang di adakan resepsinya malam ini.
Tujuh tahun adalah waktu yang ia lewati dengan berbagai rintangan. Zahra sekarang adalah seorang dokter. Memang Ia tak menginginkan menjadi seorang dokter, akan tetapi motivasi itu muncul setelah kepergian Azzam. Ia ingin menolong semua orang dan mendengarkan keluh kesah mereka serta memberinya semangat.
Zahra sampai dengan selamat di Gorontalo. Ia kesini untuk datang ke sebuah acara pernikahan. Nampakya semuanya sudah selesai, menyisakan para tamu undangan yang hendak pulang dengan sungkem pada pengantin.
Zahra menghampiri kedua insan itu.
"Selamat yah, Fidiya"
Hari ini pernikahan Fidiya. Itu sebabnya Zahra rela dari semarang ke Gorontalo untuk menghadiri acara ini.
Fidiya menoleh ke arah Zahra kaget. Detik berikutnya Ia langsung memeluk Zahra saking bahagianya.
"Zahraaaa, makasih udah dateng. Aku seneng banget" Zahra membalas pelukan itu dan mengusap punggung Fidiya. Ia jujur sangat rindu dengan Fidiya. Apalagi setelah empat tahun Ia tidak menemui Fidiya, karena Fidiya memilih kuliah di Mesir.
"Selamat, yah" Zahra melepas pelukan itu.
Zahra beralih pada suami Fidiya, Zahra tersenyum kemudian menyatukan tangannya di depan dadanya.
"Selamat yah Gus Ali. Semoga kalian Samawa"
Gus Ali hanya tersenyum.
Gus Ali pada akhirnya menikah dengan Fidiya. Ia menemukan pasangannya setelah tujuh tahun lamanya.
Kematian Azzam membuat Zahra menutup hatinya untuk siapapun. Ia hanya ingin fokus pada Allah, bukan hambanya. Akhirnya Zahra menolak Ali.
Ali bisa mengerti, Ia juga mencoba ikhlas untuk semua ini. Ia yakin, jika jodoh pasti akan tetap bersama dan pada akhirnya setelah tujuh tahun, Ali menemukan pasangan hidupnya, yaitu Fidiya.
Semuanya terjadi atas kehendak Allah. Ali ataupun Azzam, bukanlah jodoh Zahra. Zahra akan selalu menunggu kapan jodohnya tiba, di saat Ia menunggu, Ia akan membantu menyelamatkan ribuan manusia dengan pekerjaan mulia milknya. Menjadi Dokter.
"Manusia bisa mencintai dan berharap bisa bersama orang yang di cintainya.
Tapi, terlepas dari semua itu
Ada Allah yang telah menentukan siapa
Jodoh kalian sebenarnya"
_Cicaaaaa_
__TAMAT__
MAKASIH BANYAK YANG UDAH MAU BACA SAMPAI END:)
INI HANYA CERITA FIKTIF ATAU KARANGAN, YAH! KARENA PADA DASARNYA DI PESANTREN AKU NGGAK ADA YANG SEPERTI INI.
AKU NGGAK BIKIN REVISI YAH, JADI KALAU ADA YANG SALAH LANGSUNG KOMEN AJA:)
AKU SENGAJA CEPET NAMATINNYA KARENA AKAN SEGERA KE PESANTREN LAGI:)
MAKASIH BANYAK BUAT KALEANN YANG SELALU NGEDUKUNG AKU:)
MAAF, SEMUA CERITAKU YANG KALIAN BACA AKHIRANNYA MALAH SAD ENDING. WKWKWK.
DAHLAH, SEMOGA SUKA DENGAN SEMUA KARYA AKU. BACA CERITAKU YANG NGGAK KALAH SERU DARI CERITA INI
-SMA UDAH NIKAH?
Sequel: -Please Papa. -For You Smile
Udah lengkap yah
-Raja Semesta Memilihmu.
Follow Watfpad Aku yah:)
Follow Instagram Aku juga yah:))
Baybay:)
Sampai jumpa di ceritaku selanjutnya, Muahh:)
Cicachaannn_
KAMU SEDANG MEMBACA
Allah With Azzam ✔
SpiritualKetenangan dalam hidup adalah hal yang selalu Zahra inginkan. Saat akan masuk pesantren artinya dia meninggalkan kegiatan kesehariannya yang introvert dan harus berbaur dengan banyak orang dan tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Zahra. Firasatny...
