Part39. Kabulkan Permintaannya

211 20 1
                                        

Zahra duduk di bandara sejak siang. Ia ternyata harus menunggu lebih lama untuk penerbangan selanjutnya, semua itu karena Zahra telat di pesankan tiket oleh Abi-nya sehingga Zahra menunggu penerbangan selanjutnya yang sekitar setengah jam lagi akan lepas landas.

Abi-nya telah duluan pergi sekitar tiga jam yang lalu. Zahra tidak masalah jika sendiri.

Zahra melirik jam tangan miliknya. Waktu menunjukan sholat Isya, Zahra memilih beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju musholah terdekat.

***

Ali berlari masuk ke bandara. Ia melirik sana-sini, nampak sangat panik Ia menghampiri seorang petugas di bandara itu dengan tergesa-gesa.

"Pak, pesawat yang akan menuju ke Aceh sudah berangkat?" tanya Ali dengan nafas yang tak beraturan.

"Sudah, Pak. Sekitar tiga jam yang lalu"

Ali terdiam. Ia mendadak merasa tercekat nafasnya,

"Makasih, yah"

Seusai mengatakan itu, Ali beranjak dari tempatnya. Ia terduduk dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Semua terasa terlambat dan itu nyata.

Ia tidak bisa membawa Zahra menemui Azzam, apa yang akan Ia katakan pada Azzam nanti? Bahkan di saat seperti ini, Ali tidak bisa menuruti keinginan Azzam itu?

"Maaf,"

Ali terdiam, Ia mengangkat kepalanya karena merasa mendengar suara yang amat familiar tertangkap oleh telinganya. Ia melihat sekarang seorang gadis berpakaian muslimah dengan jaket tebal sedang meminta maaf pada seorang Ibu karena menjatuhkan barangnya.

"Iya, tidak apa-apa"

Gadis itu tersenyum kikuk. Ia kemudian membiarkan Ibu itu berjalan, dan ketika gadis itu menatap ke kursi tunggu bandara Ia amat terkejut melihat Ali.

"Gus Ali?"

"Bunga!"

Ali langsung berlari menghampiri Zahra, Ia langsung mendekap Zahra. Sangat erat, hingga rasanya Zahra ingin ambruk karena di peluk tiba-tiba. Zahra melototkan matanya dan hendak melepas diri dari Ali.

"Bukan muhriimm!!!" kesalnya mendorong Ali. Ali merasa terdorong dan menahan agar tubuhnya tidak jatuh. Ali menatap Zahra dengan rasa menyesal.

"Afwan, Saya tidak sengaja. Saya refleks"

Zahra hanya mengangguk saja. Kemudian segera merapikan gamisnya.

"Ngapain kesini?" tanya Zahra bingung. Kenapa juga Ali bisa disini? Membuat Zahra kaget setengah mati.

"Harusnya Saya yang bertanya. Kamu sedang apa disini?"

Zahra terdiam. Ia juga bingung harus menjawab apa, tapi apa bisa dia berbohong sekarang? Sepertinya tidak.

Lagi pula, jika Ali tahu dan menghalanginya apakah Zahra akan membatalkan rencananya pindah? Tentu tidak, Kan.

"Zahra mau pergi ke Aceh, mau pindah kesana"

"Kenapa tidak memberi tahu saya?"

"Tidak penting"

"Saya tidak penting dalam hidup Kamu?"

"Iya,"

"Tapi Saya menganggap Kamu penting di hidup Saya"

Zahra terdiam. Ini gombalan atau apa sih? Zahra sendiri bingung. Apakah Gus Ali datang kesini hanya untuk mengatakan itu? Sangatlah tidak penting.

A

li melihat wajah dongkol Zahra. Ia menghela nafas, kemudian menunduk.

"Azzam masuk rumah sakit,"

Detik berikutnya wajah Zahra nampak pucat dengan wajah kaget. Ia melihat Ali yang tampak murung, bisa Zahra tebak pasti Azzam masuk rumah sakit karena drop.

"Ka-kapan?" tanya Zahra.

"Pagi tadi, sekarang dia ingin melihat Kamu. Itu permintaannya,"

Wajah Zahra mendadak sedih, matanya nampak berair dengan otaknya yang masih memikir ulang ucapan Ali. Zahra tidak ingin berfikir negatif soal kata 'permintaannya' Zahra tidak berharap itu maksudnya adalah permintaan terakhir.

Kenapa saat masih di pesantren Ia tidak mendapat kabar apapun? Kenapa Ia tidak tahu bahwa Azzam masuk rumah sakit.

Di hari kepindahan Zahra, ternyata Azzam juga masuk ke rumah sakit, tempat yang tidak pernah ingin Azzam kunjungi lagi.

Ali melihat Zahra yang nampak sedih, satu tetes air mata berhasil meluncur dari matanya. Ia menatap Ali, menatap mata Ali untuk pertama kalinya. Zahra mencari kebohongan tapi pada faktanya Ali tak akan mungkin berbohong.

Zahra menguatkan hatinya. Ia harus segera
Menguatkan dirinya, Ia tidak ingin lagi ada selintas pikiran soal Azzam pada saat Ia beribadah itu sebabnya Ia tidak ingin menemui Azzam.

"Zahra nggak bisa,"

Ali kaget mendengar jawaban Zahra. Ia tak percaya ketika Zahra mengucapkan hal itu, seakan-akan Zahra bukanlah dirinya.

"Kenapa? Saya mohon Bunga, bantu Saya" pinta Ali memohon samping menyatukan kedua tangannya bahkan berlutut di depan Zahra.

"Percuma Gus Ali kesini, Zahra nggak akan mau ketemu sama dia. Zahra hanya ingin pergi dari sini, Zahra hanya ingin melepas diri dari belenggu pikiran soal Azzam" jawab Zahra mantap.

Ia kemudian berjalan membelakangi Ali yang nampaknya masih kaget.

"Saya rasa Kamu mempunyai hati yang lembut, bukan berhati keras. Apakah kamu tega membiarkan Azzam meninggal tanpa melihat Kamu yang terakhir kalinya?"

Zahra terhenti. Ungkapan Ali membuat hatinya mendadak sakit, semua itu membuatnya menangis. Ali menyebut kata 'meninggal' Zahra tidak menginginkan itu.

Ia mengepalkan kedua tangannya dengan air mata yang kian mengalir.

"Di harapkan kepada penumpang Sriwijaya Air dengan tujuan Aceh untuk segera masuk ke dalam pesawat"

Pengumuman itu membuat Zahra terdiam. Ali merasa ingin menangis, Ali berharap Zahra mau ikut dengannya. Tapi nyatanya Zahra tak berbalik ke arahnya. Ali merasa putus asa kemudian tertunduk.

"Gus Ali!"

Ali melihat Zahra berlari ke arahnya dan menghampiri dirinya.

"Ayok, kita temui Azzam!"

































__________

Vote Komennya teman-teman:)))

Menuju Ending nih:)))

Semoga suka yahhh^^

Allah With Azzam ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang