Part4. Bola

761 70 1
                                        

Hari-hari di isi dengan Matsama. Matsama adalah masa pengenalan santri baru. Tiga hari sudah berlalu. Pemilihan jurusan pun tiba. Mereka semua berada di Aula, Zahra bingung harus memilih jurusan apa.

Ia memang ingin masuk IPA akan tetapi juga ingin masuk agama. Ia melihat orang yang masuk kelas agama sangat banyak, mereka nantinya juga akan di uji sedangkan kelas IPA hanya sedikit.

"Za? Masuk IPA aja!" Ajak Farid. Zahra mendongak, entah kenapa ia lebih aman masuk IPA karena di situ ada Farid. Sedangkan di Agama, ia melihat ada beberapa orang yang tidak ia sukai. Akhirnya Zahra memilih masuk ke IPA.

Setelah pemilihan jurusan, mereka di perbolehkan kembali ke asrama, kecuali Santri yang ingin masuk kelas agama. Mereka masih akan di tes, apakah layak masuk kelas Agama atau tidak.

Tes telah berlangsung. Banyak sekali yang tidak lulus kelas Agama, kemudian di lempar ke kelas IPA dan IPS. Banyak yang menangis karena tidak bisa masuk ke kelas favorit mereka. Kebanyakan dari yang menangis itu adalah para Santriwati.

Banyak yang memohon pada ustad agar bisa di masukan ke kelas Agama. Akan tetapi Ustadz menolak dengan halus.

"Coba dulu di kelas yang sekarang," itu jawaban ustad kepada para murid yang memohon itu. Zahra sebenarnya bingung, kenapa harus sedih, mereka juga akan tetap mendapat pelajaran agama di sekolah ini kan?

Zahra sudah kelaparan. Ia memilih ke Koperasi untuk membeli makanan yang dapat ia makan.

***

Hari ini hari pertama kegiatan pembelajaran. Akan tetapi kebanyakan guru yang memulainya dengan perkenalan saja.

Zahra sangat malas sebenarnya dengan kegiatan pengenalan ini. Ia tidak menyukainya. Apalagi saat ini bergabung dengan kelas Agama, karena mata pelajarannya di gabung.

Tiba saat giliran Zahra untuk perkenalan. Ia maju ke depan kemudian memasang wajah datarnya.

"Perkenalkan nama Saya Ukhtiasyah Azzahara Abdullah, biasa di panggil Zahra, Asal sekolah MTs Muhammadiyah Jawa tengah, tanggal lahir delapan juli dan sekarang berumur 15 tahun," ucap Zahra. Lengkap, kan?

"Cieee artinya waktu rapat orang tua sama pimpinan pondok itu kamu Ultah, Yah?" Seorang Santriwan bersuara. Zahra meliriknya sekilas, kemudian memutar bola matanya malas.

"Pikir aja sendiri," jawab nya. Membuat seluruh orang di kelas melongo, bahkan ada yang saling berbisik bisik soal sikap Zahra. Zahra tak peduli. Biarkan saja mereka, kenapa Zahra harus pusing.

Zahra sedang duduk di depan masjid. Ia sangat kesepian saat ini. Entah kenapa, ia merasa ingin pindah saja. Setiap hari, ia menangis di tengah malam. Rindu akan Umi dan Abi nya.

Zahra juga tak suka menu makanan di pesantren ini. Sehingga ia jarang makan. Kadang sakitnya suka kambuh karena hal itu.

Tiba-tiba saja, sebuah bola mengenai kepala Zahra. Zahra kaget, sekaligus merasa sakit. Ia memegangi bagian depan kepalanya.

"Maaf, Za! Ana tidak sengaja!" Zahra menoleh ke arah orang itu. Itu adalah Farid yang sedang bermain bola volley dengan beberapa orang teman barunya. Zahra tak terima. Ia kemudian mengambil bola itu, dan berjalan menuju ke arah Farid.

"Jangan nangkis!" Bentak Zahra. Farid kemudian menyatukan tangannya sambil mengucapkan maaf. Zahra kemudian segera membuang bola itu tepat di kepala Farid. Farid meringis kesakitan karena hal itu. Zahra segera pergi dari situ, meninggalkan orang-orang yang sudah menatapnya bingung.

"Za? Zahra!" Panggil Farid. Zahra tidak mendongak sedikitpun, bodo amat lah:v

______________________

VOTE DAN KOMEN DONG:))

Allah With Azzam ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang