Zahra sudah merebahkan dirinya di bolsak empuk miliknya. Di kamar ini, hanya ia seorang yang memakai bolsak. Zahra memilih tidur karena ia sedang halangan saat ini, artinya ia punya setengah jam untuk tidur, karena ia tidak bisa sholat.
Belum sepuluh menit ia tertidur, Fauziah datang ke kamar memanggil namanya.
"Zahra! Aku mau bilang sesuatu," ucap Fauziah semangat 45. Zahra yang merasa di guncangkan tubuhnya segera membuka matanya. Fauziah nampak sangat bersemangat.
"Apa Zia? Kembalian kamu belum di balikin sama Abip, tagih ke dia aja," ucap Zahra. Semalam, memang Fauziah meminta bantuan Zahra untuk memberikan uang Abip pada Abip.
Abip bahkan kaget ketika Zahra yang memberikan uang itu, apalagi ia baru pertama kalinya mendengar Zahra berbicara.
"Bukan itu!" Bantah Fauziah. Zahra kembali mengernyitkan kening tak mengerti.
"Ada yang suka sama kamu, loh! Namanya Azzam, kelas Agama," Zahra langsung bangun dari rebahannya, ia terkejut mendengar ucapan Fauziah. Bagimana bisa ada orang yang menyukainya, sedangkan Zahra selama ini tidak pernah bersosialisasi ataupun berbaur dengan angkatannya. Siapa lagi Azzam?
"Siapa dia? Aku nggak tau," ujar Zahra. Membuat Fauziah melongok tak percaya. Ini sudah hampir 4 bulan Zahra di sini, tapi ia masih belum mengenal angkatannya sendiri?
"Kamu beneran nggak kenal? Ya Allah..." Zahra hanya mengangguk saja.
"Oh, iya! Kamu ingat nggak, orang yang gantiin Aswan saat muhadarah bahasa arab?" Zahra nampak mengingat-ingat. Ia kemudian menggeleng.
"Astagfirullah, nanti deh Aku tunjukin," kesal Fauziah. Zahra mengangguk saja. "Tapi aku mau mastiin dulu, beneran dia suka sama kamu atau tidak, soalnya tadi dia nangkis kalau dia suka sama Zumi"
Zahra kemudian menutup dirinya dengan selimut nya.
"Terserah kamu, Zia"
***
"Azzam? Kamu beneran suka sama Zahra?" Tanya Fauziah. Ia sudah berada di dalam kelas, sedangkan Azzam berada di ambang pintu. Mereka tak saling menatap.
Di kelas hanya ada Anshori, Azzam dan Fauziah. Azzam menggaruk kepalanya saat mendengar ucapan Fauziah.
"Sudah jo, Zia! Ja usah bahas-bahas"
(Sudah Zia! Nggak usah di bahas) khilaf Azzam memakai bahasa tak baku itu lagi.
"Dia sukanya sama Zumi," jawab Anshori main nyelonong.
"Masa sih? Aku nggak yakin!" Bantah Fauziah. Azzam melirik ke arah Anshori, Anshori pun segera mengerti.
"Udah, bilang aja yang jujur, siapa tau Zahra bisa balik suka ke kamu," Anshori mengucapkannya tanpa sadar. Azzam kemudian menatapnya horor.
"Jadi beneran Azzam suka sama Zahra?" Tanya Fauziah mengerti. Anshori menutup mulutnya, sedangkan Azzam sudah menggaruk tengkuknya.
"Kamu suka sama Aku, kan?" Jebak Zia.
"Nggak!! Aku ngga suka sama kamu, kamu kenapa sih?" Jawab Azzam langsung.
"Nah! Kamu tinggal bilang nggak suka aja ribet banget, tuh tinggal bilang gitu doang. Terus kenapa kalau Zahra, kamu nggak mau?" Azzam langsung mati kutu. Ternyata Fauziah menjebak dirinya. Ia tak tahu harus mengatakan apa.
"Sumpah kamu?" Fauziah membawa Al-Qur'an ke arah Azzam.
"Kamu kenapa sih? Kepo banget? Sana pergi, ntar kita di sangka yang nggak-nggak lagi sama orang," kesal Azzam.
"Kamu sumpah dulu, setelah itu aku bakalan pergi. Sumpah Kamu nggak suka sama Zahra?" Azzam menjauh dari Fauziah.
"Aku nggak mau,"
"Tuh kan! Kamu nggak mau, artinya kamu suka sama dia kan?"
"Iyaaa! Aku suka sama dia! Udah sana, Awas yah kalau kamu sebarin ke orang-orang!" Ancam Azzam.
"Aku bakalan bantuin, kok!"
"Bantu apaan? Bantu supaya aku pacaran sama dia?" Semangat Azzam. Fauziah menatap sinis azzam.
"Enak aja, nggak bakalan yah. Kita itu santri, PACARAN LEBAY BULAN GAYA SANTRI!" Fauziah memeletkan lidahnya. Ia segera keluar kelas, dan pergi ke Koperasi. Saat itu juga, Zahra datang dari asrama, Azzam yang melihatnya langsung masuk ke dalam kelasnya karena malu.
"Sejak kapan kamu tau malu, Zam?" Ledek Anshori.
"Ssssssstttttttt!!!"
______________
VOTE DAN KOMEN DONG:))))
KAMU SEDANG MEMBACA
Allah With Azzam ✔
DuchoweKetenangan dalam hidup adalah hal yang selalu Zahra inginkan. Saat akan masuk pesantren artinya dia meninggalkan kegiatan kesehariannya yang introvert dan harus berbaur dengan banyak orang dan tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Zahra. Firasatny...
