Keesokan harinya, mereka semua kembali ke Tokyo. Tentu saja Akatsuki sudah memohon maaf pada empunya pesta.
Kurama ikut dengan anak-anak kelas 3-E. Karasuma dan Irina kembali dengan mobil pribadi Karasuma. Pasangan Asano juga pulang dengan mobil pribadi.
"Kenapa pula Otou-san harus ikut dengan kami?" Karma merasa iritasi dengan ayahnya itu.
"Memangnya tidak boleh?? Aku kan hanya ingin menghabiskan waktu dengan kalian semua. Lagipula dengan begini aku bisa sedikit beristirahat," ujar Kurama.
"Tapi Otou-san merusak suasana kami..." Karma lagi-lagi mengusir ayahnya.
"A-apa...? Hiks... Yuki kau lihat adikmu itu..." Kurama berakting sedih.
"Otou-san, aktingmu buruk..." Akatsuki menatap malas ayahnya.
"Nyuyaaa... kau ini sungguh kejam... Padahal kau ini satu-satunya anak gadisku...." Kurama malah semakin overacting.
'Mirip Koro-sensei!!' batin anak kelas 3-E.
"Iya, iya, aku tahu aku seperti Shinigami. Lebih tepatnya Shinigami yang meniruku. Sayang sekali ya... Padahal dia itu orang yang menyenangkan..." Kurama melipat tangannya di belakang kepalanya.
'Bagaimana dia tahu?!' batin mereka lagi.
"Jangan membuat mereka menyesal..." Akatsuki menatap tajam ayahnya.
"Fufufu... Lagipula, semua itu memang sudah kau rencanakan dari awal kan??" Kurama menangkap basah anak gadisnya.
"Mau bagaimana lagi.... Sudah ku katakan sejak awal agar dia jangan membuat dirinya layaknya buronan dunia. Tapi dia malah melakukan sebaliknya.
Mau tidak mau ya aku harus mengatur ulang rencana, mau bagaimana pun rencanaku.. tidak ada pilihan lain selain kematiannya.
Dia juga yang memintaku agar melakukan sesuai rencanaku. Karna sudah pasti.... merekalah yang akan terkena imbasnya dan terakhirnya Shin-sensei harus berakhir di tanganku. Lebih baik dia berakhir di tangan mereka kan?" Akatsuki menyandarkan kepalanya di bahu Gakushū.
"Gakushū-kun... Kau pasti sudah melihat sisi psikopat anakku ini... Kau yakin tetap mau mempertahankan hubungan ini??" Kurama tiba-tiba mengalihkan topik.
"Selama dia memiliki prinsip yang sama dengan Karma, tak masalah bagiku," Gakushū menjawabnya santai.
"Fufufu, tidak salah memang aku mencari menantu... Jadi, Okuda Manami-san, kapan kalian bertunangan??" Lagi-lagi Kurama mengubah topik.
"Otou-san, kami masih mau menikmati masa bebas kami... Lagipula ayahnya masih belum menerimaku," Karma menjawab pertanyaan ayahnya.
"Kenapa? Memangnya kau kurang apa? Tampan, iya. Pintar, iya. Bisa melindunginya, iya. Pandai dalam berbagai hal, iya. Masa depan terjamin, iya. Lalu kenapa?? Kenapa Karma??!!" Kurama mengguncang tubuh anak lelakinya.
"Otou-san...." Karma melepaskan tangan ayahnya lalu memijat pelipisnya.
"Yang ayahnya tahu aku ini berandalan..." lanjutnya.
"APA?! KENAPA?! KARMA?! KAU BERKELAHI LAGI?! BAGAIMANA BISA ORANGTUANYA TAHU?!" oke Kurama benar-benar hampir memecahkan telinga mereka.
"Ne, paman... Semua orang di Kunugigaoka juga tahu kalau Karma ini berandalan. Tidak heran jika orangtua Okuda-san tahu juga mengingat mereka dari dulu ada di Kunugigaoka," Terasaka mulai kesal dengan Kurama.
"Siapa yang tanya padamu?! Aku kan bertanya pada anakku.." Kurama benar-benar membuat mereka kesal.
"Aaghh cukup!!! Satu setan saja sudah membuat kami stress, dan sekarang malah ada tiga setan!! Tidak bisakah kalian dimurnikan??" Okano sudah kesal dengan keluarga Akabane ini.
"O-Okano-san tenang lah..." Kataoka menarik Okano agar kembali duduk.
"No,no,no... Aku, anak gadisku, dan anak lelakiku berbeda. Karma hanya berjulukan Setan Merah. Yuki berjulukan Wanita Iblis. Dan aku berjulukan Penguasa Neraka. HAHAHA..." oke Kurama memang ngeselin.
"TIDAK ADA YANG BERTANYA!!" teriak anak kelas 3-E bersamaan (min Karma, Okuda dan Kanzaki)
"Daripada itu... Kudengar walaupun kasus Koro-sensei dulu itu dipegang atasan Karasuma-sensei tapi Anda yang bertanggung jawab penuh kan? Kenapa begitu??" Isogai mengutarakan hal yang memang mengganggu mereka.
"Hmm, pertanyaan yang bagus... Etto.." Kurama menjeda kalimatnya.
"Isogai Yuma desu..."
"Ah, Isogai-kun.
Karna penelitian tentakel itu dulunya adalah tanggung jawabku dan istriku yang mencetuskannya. Tentu saja sebagai penanggung jawab dan sebagai seorang suami, aku harus bertanggung jawab kan??
Lagipula juga, aku dan Mirai memang sejak awal tidak ingin Karma terlibat masalah tentakel. Kami takut satu-satunya penerus nama Akabane berakhir seperti adik-adiknya. Wajar saja kalau kami sedikit membedakan Karma dan Yuki," Kurama sedikit mengecilkan suaranya dia akhir.
"Sudahlah... Aku tahu alasan Otou-san. Memangnya Otou-san pikir aku tidak melakukan yang kalian lakukan apa? Lagipula Karma bukan orang bodoh dan lemah," Akatsuki mulai merasa pening.
"A-Akabane-san... Hidungmu berdarah..." Hara yang pertama kali menyadari hal itu.
"Mm, apa?" Akatsuki mengusap pelan lubang hidungnya dan menjauhkan kepalanya dari bahu Gakushū.
"Ughh, kalian punya tisu?" Akatsuki memegang kepalanya yang semakin pening karna mengeluarkan banyak darah.
Semua anak perempuan langsung memberikan tisu mereka. Akatsuki mengambil yang terdekat dan mulai menyeka darahnya.
"Ugh, ittai...." gumam Akatsuki.
Kurama langsung mengambil tas anaknya itu dan mencari obatnya. Tentu saja di tas itu ada dua sampai tiga botol obat. Setelah membaca satu-persatu tulisan nama obatnya, Kurama menyimpan dua botol yang lainnya dan membuka botol obat yang di tangannya.
"Yang mana minum Yuki?" Kurama terlihat sedikit panik.
Karma menunjuk botol Akatsuki lalu pergi ke kamar mandi. Kurama paham keadaan putranya dan kembali mengurus putrinya.
"Yuki..." lirihnya.
Gakushū hanya terdiam sambil memegang satu tangan Akatsuki dan tangan yang satunya memijat pelan batang hidung Akatsuki agar darahnya berhenti keluar.
Akatsuki mengambil obat yang di berikan ayahnya dan meminumnya. Perlahan-lahan peningnya berkurang dan darahnya berhenti keluar.
Tanpa mereka semua sadari, Karma memuntahkan semua isi perutnya di kamar mandi. Ketakutan menghantuinya, dia takut akan kehilangan lagi. Dia takut tidak bisa melindungi orang yang disayanginya lagi. Dia terisak pelan dan memegang dadanya yang sakit karna rasa takutnya.
"Kumohon, jangan ada lagi yang pergi..." isaknya.
To be Continued
30 April 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Me Gustas Tu (Asano x OC)
أدب الهواة"Me gustas tu" berasal dari bahasa Prancis yang berarti "Aku menyukaimu", Me Gustas Tu juga merupakan judul lagu Gfriend. Asano Gakushū dan Akabane Karma kembali bersaing di SMA Kunugigaoka. Di tahun kedua mereka, kembaran si Setan Merah datang dan...
