Akatsuki masih tinggal di rumah Subaru, agensi Subaru adalah agensi tempat Akatsuki dulu bekerja, ketua agensinya juga menerima Akatsuki dengan senang hati karena Akatsuki lah yang dulu menaikkan nama agensi itu dengan bakatnya.
"Yuki, kau sudah minum susu?" Subaru meletakkan buah-buahan yang sudah dikupasnya ke depan Akatsuki.
"Oh, belum... Akan kubuat..." Akatsuki berdiri dan dibantu berjalan oleh Subaru karena usia kandungannya yang sudah enam bulan.
"Seharusnya kau duduk saja, biar aku yang buatkan..." Subaru memeluk (?) Akatsuki dari samping agar wanita itu tidak terjatuh.
"Buatanmu tidak enak... terlalu hambar..." protes Akatsuki.
"Maaf... Aku tidak terbiasa membuat susu seperti itu, tapi kalau meracik kopi aku ahlinya," Subaru menyombongkan bakatnya.
"Iya, iya... Itu karena dulunya kau bekerja di cafe keluargamu. Bagaimana kabar yang lainnya?" Akatsuki menuangkan air panas di gelasnya.
"Abang-abangku baik-baik saja, Shu-nii bahkan naik pangkat, dia yang sekarang memimpin divisi, Reiji-nii akan punya anak, Kanato-nii dan Laito-nii berencana untuk menikah, Ayato-nii masih playboy seperti biasa. Oh dan natal nanti kami akan kumpul di cafe, kau mau ikut?" Subaru membantu Akatsuki kembali ke ruang tamu.
"Mau sih, tapi kan... Saat natal nanti usia kandunganku tujuh bulan, sulit untuk bepergian.." Akatsuki nampak sedih.
"Baiklah, mungkin lain kali saja... Natal nanti kau akan ke rumah Jenderal?" tanya Subaru.
"Sepertinya begitu, kuharap semua berjalan dengan baik..." Akatsuki menghela napas lelah.
"Tidak bisakah si Asano itu kubunuh?" Subaru menawarkan apa yang sangat ingin dilakukannya.
"Entahlah... Rasanya ada yang aneh dengan sikapnya. Kalau memang dia mau pisah, sudah tentu pengacaranya datang kesini, kau juga sudah memberi alamat rumah ini padanya 'kan? Shuu bukanlah orang yang suka menunda-nunda. Aku sudah pergi dari rumah sejak enam bulan lalu, jadi tidak mungkin kalau pengadilan yang lama. Kau juga sudah melihat sekretaris Shuu 'kan? Gadis itu seperti sengaja sekali menjauhkanku dan Shuu, tapi sikapnya itu terlalu over acting. Jika Shuu memang tidak mencintaiku lagi, sudah pasti dia langsung mengatakan itu pada orangtuanya dan ayahku. Ughh, entahlah agak sulit berpikir rasional saat keadaanku seperti ini, yang ada aku malah akan terlalu terbebani..." Akatsuki menyesap susunya.
Akatsuki lalu mengambil potongan apel, "Kau suka sekali yang mengupas apel menjadi bentuk kelinci..." Akatsuki tertawa kecil melihat bentuk potongan apel itu.
"Bukankah imut?" Subaru ikut tertawa kecil.
"Jangan membuat seperti ini, aku kan jadi tak tega memakannya..." Akatsuki sedikit merajuk.
"Karena bentuknya imut jadi kau tertarik memakannya..." Subaru mencubit pipi Akatsuki yang semakin tembam karena hamil.
"Aku bukan anak kecil, tidak perlu membujukku makan buah..." Akatsuki memakan potongan apel itu.
Jika saja Subaru tidak mengingat kalau Akatsuki masih bersuami, dia pasti sudah 'menyerang' wanita ruby itu.
Di tempat lain......
"Begitulah... Kau mau mengakui kejahatanmu atau kau mau aku memakai cara kasar? Aku tidak peduli kau ini perempuan, bagiku jika memang salah maka aku akan berlaku adil pada laki-laki dan perempuan," lelaki itu sudah memegang pisau membunuh di tangan kanannya.
"Ku-kumohon... Ampuni aku... Aku hanya mengikuti rencana mereka..." gadis di depannya menangis ketakutan.
"Kau tahu? Masih banyak orang baik di luar sana yang ingin menjadi sekretarisku. Aku bahkan ingat ada teman dari adik iparku yang sangat cocok menjadi sekretaris. Nah, katakan siapa saja yang memiliki sangkut paut dengan rencana bosmu," lelaki itu mendekatkan pisaunya ke pipi sang gadis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Me Gustas Tu (Asano x OC)
Fiksi Penggemar"Me gustas tu" berasal dari bahasa Prancis yang berarti "Aku menyukaimu", Me Gustas Tu juga merupakan judul lagu Gfriend. Asano Gakushū dan Akabane Karma kembali bersaing di SMA Kunugigaoka. Di tahun kedua mereka, kembaran si Setan Merah datang dan...
