Rumah Keluarga Asano

521 57 1
                                        

Seperti biasa, saat pulang sekolah Gakushū dan Akatsuki mengerjakan tugas OSIS mereka.

“Aaaggghhhh, kenapa bisa dokumennya sebanyak ini...??? Ini sih namanya semua tugas Kepala Sekolah dilimpahkan kepada kita....”

“Kau hanya mengerjakan setengah dari yang biasa kukerjakan, lagipula kau sendiri yang mengajukan diri jadi wakilku.”

“Hhahhh, pantas saja kau disebut si Tuan Sempurna. Kuakui kau memang sempurna, kau pintar, tampan, multitalenta, pandai berbisnis.”

“Hoho, tentu saja...”

“Aku yakin kau punya banyak kekasih dimana-mana.”

“Apa selama dua bulan lebih kau menjadi wakilku kau pernah melihatku dengan seorang gadis?”

“Hah..!!?? Jangan-jangan kau....” Akatsuki menutupi tubuh bagian depannya.

Gakushū melihat tingkah wakilnya itu, “AKU TIDAK HOMO BODOH!!” Gakushū melempar stiponya ke kepala Akatsuki, tapi berhasil ditangkapnya.

“Aku kan hanya menebak, tak ada salahnya kan?”

“Tentu saja salah, aku memiliki standar untuk gadis yang pantas bersamaku.”

“Oh ya??”

“Kau meragukanku??”

“Tidak, aku hanya kasihan padamu yang menjomblo karna standarmu itu.”

Jlebb, kalimat itu tepat mengenai batin Gakushū, “Aku memilih gadis yang memang pantas bersanding denganku.”

“Jadi bagaimana standar gadismu?”

“Yang pasti dia pintar, memiliki talenta, baik, pandai memasak dan mengurus rumah, bisa mengerti diriku dan menerimaku sebagai seorang Gakushū bukan sebagai ketua OSIS atau sebagai seorang Asano.”

“Aa, aku mengerti. Artinya, gadis itu harus bisa membantumu saat kau membutuhkannya, bukan hanya memanfaatkan kelebihanmu, kan?”

“Ya begitulah. Kau ini memang bisa mengeti dalam waktu singkat. Kau benar laki-laki, kan?”

Akatsuki melempar stipo milik Gakushū tadi, tapi Gakushū berhasil menangkapnya.

Bakkayaro...!!”

“Aku kan hanya bertanya, apa salah?”

“Tcih.... ne, berkas data siswa ada dimana? Kenapa tidak ada?”

“Oh iya, kemarin karna belum selesai, jadi kubawa pulang. Memang yang di mejamu sudah selesai??”

“Tentu saja sudah, makanya aku mau mengerjakan data siswa. Memang sudah selesai kau urus?”

“Belum, masih setengah. Kalau ayo ke rumahku.”

“Hah!!??”

“Tugas yang sedang kukerjakan ini belum selesai juga dan kau ingin mengurus data siswa. Jadi ayo ke rumahku.”

“O-oh baiklah,” Akatsuki dengan ragu membereskan mejanya.

“Tenang saja, aku ini tidak homo bodoh!!”

“Iya, iya..”Akatsuki membereskan mejanya dengan cepat, begitu pula dengan Gakushū.

Mereka berjalan ke rumah Gakushū, mereka berhenti di depan rumah yang besar dan Akatsuki sadar kalau rumah itu terletak satu blok dari rumahnya.

“I-ini rumahmu?”

“Tentu saja, ada nama Asano di pagarnya kan?” Gakushū membuka pintu rumahnya, mereka melangkah ke ruang tamu dan mendapati kepala keluarga Asano ada disana sambil membaca koran dan ada kopi di depannya.

“Kau pulang membawa teman, Asano-kun?”

“Mm, begitulah,” Gakushū tidak mempedulikan ayahnya dan menarik tangan Akatsuki agar tidak berlama-lama disana.

“Akabane-kun, kau disini saja,” Gakuhō sudah berdiri di depan mereka.

“Kami mau mengerjakan tugas yang kau berikan,” Gakushū menatap tajam ayahnya.

“Kerjakan disini, jangan di kamarmu.”

“Tcih, menyusahkan saja,” Gakushū melepas tangan Akatsuki dan langsung berjalan dengan cepat ke kamarnya.

Arigatō, Ji-san.”

“Mm, tak masalah lagipula ayahmu menitipkanmu padaku, tunggu saja dia disini.”

Gakuhō kembali duduk di tempatnya tadi dan Akatsuki duduk di depannya (di atas lantai). Gakushū kembali dengan membawa setumpuk berkas dan laptopnya bertepatan dengan ibunya yang datang dari arah dapur.

“Ehh, kita ada tamu ya...” ibu Gakushū nampak senang melihat ada tamu.

Gakushū duduk di samping Akatsuki, “Dia temanku, wakil ketua OSIS.”

“Ooohh... Heeee, kau ini Akabane Karma ya..?? Ternyata sudah jinak ya?”

“Semirip itukah kami, Oba-san?” Akatsuki memiringkan kepalanya.

“E-ehh?? Yuki-chan kah..?? Kenapa penampilanmu sangat mirip dengan adikmu itu?? Ada masalah lagi ya??”

“Yahh begitulah ^ ^. Banyak hal yang terjadi..”

Sōka, kuharap kalian berdua baik-baik saja... Aa iya, apa dalam waktu dekat kau ingin mengunjungi ibumu?”

“Mungkin nanti setelah ujian, Oba-san.”

“Kalau ingin mengunjunginya kabari aku ne~~Aa iya, akan kuambilkan cemilan untuk kalian.”

Arigatō, Oba-san ^ ^”
Ibu Gakushū kembali lagi ke dapur, Gakushū menghidupkan laptopnya begitu pula dengan Akatsuki.

“Kalian sudah saling mengenal ya?” Gakushū mulai penasaran.

“Ya begitulah, ibumu dan almarhum ibuku teman dekat sejak SMA, begitu pula dengan ayah kita.”

“Oh..”

“Buuu.... Shuu-kun, kau ini memang tak berperasaan, kau penasaran tapi sikapmu itu acuh... kusarankan jangan jadi seperti ayahmu...”

“Kenapa aku jadi dibawa-bawa?” Gakuhō melirik Akatsuki.

“Tentu saja... Ji-san pasti tak pernah bersikap layaknya seorang ayah pada umumnya, jangan ajari anakmu untuk jadi sepertimu...!!” Akatsuki meluapkan kekesalannya dan bahkan menunjuk-nunjuk seorang Kepala Keluarga Asano. Gakushū sampai terkejut melihat ada anak yang berani melawan ayahnya seperti itu.

“Kau berani bersikap seperti itu ya, Akabane-kun...” Gakuhō menatap tajam lelaki bersurai ruby tersebut. Refleks Akatsuki langsung bersembunyi dibelakang Gakushū.

“Gakuhō memang seperti itu, Yuki-chan...” ibu Gakushū membawa nampan yang di atasnya ada sirup dan biskuit.

“Tapi, Oba-san.... Ji-san benar-benar sudah berubah, tidak seperti Ji-san yang aku kagumi,” Akatsuki menatap ibu Gakushū dengan mata memelas.

“Kau ini masih saja cerewet ya, Yuki-chan...” ibu Gakushū mengusap pelan surai merah Akatsuki.

Mou, Oba-san.... seharusnya Oba-san marahi Ji-san, Ji-san jadi sangat kaku... sama sekali tidak cocok...” Akatsuki menyilangkan tangannya membentuk tanda X.

“Aku sedang mencobanya...” Gakuhō tersenyum penuh arti pada Akatsuki.
“Memang seharusnya begitu, kan? ^ ^”


To be Continued

26 Maret 2020

Me Gustas Tu (Asano x OC)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang