-Pasti suatu saat kita akan menangis, walau bahagia juga sedang datang secara tiba-tiba-
Camele berjalan dengan hati-hati. Waspada melihat ke depan, samping maupun ke belakang sesekali. Hatinya masih belum siap jika tiba-tiba adiknya muncul lagi. Camele tidak tau harus bersikap seperti apa.
Rasa-rasanya wajahnya sudah tak tau lagi mau diletakkan kemana. Kenapa tangan bodohnya itu tadi langsung memeluk Hardi dengan tanpa persetujuan.
Camele mengacak rambutnya yang terikat gusar. Namun sesekali dia juga tersenyum. Seperti perempuan yang sedang jatuh cinta lagi.
Hingga langkahnya sampai ke depan ruang rawat Darres dengan sempurna. Dengan cepat Camele membuka pintu, mengatur nafasnya dan segera berlari duduk di sofa empuk yang ada disana.
Darres menatapnya aneh. Tapi matanya malah tertuju pada kantong plastik yang ada ditangan Camele. Matanya menyipit memastikan apa isi belajaan adik kembarnya itu.
"Wah, ada pip mie. Lu emang the best lah mel. Tau aja abangnya pengen." Ucap Darres sambil menjilati bibirnya. Membayangkan betapa nikmatnya rasa pip mie tersebut masuk ke dalam mulutnya yang kering.
"Hah huh hah huh. Darres gue mau aer"
Melihat Darres yang tak akan menggubris perkataannya, Camele beranjak mengambil sendiri air dingin di kulkas mini yang ada di kamar tersebut. Diteguknya cepat hingga tak sadar air dalam botol itu sudah hilang setengah.
"Aduuh segarnya."
"Comel, bikinin pip mie nya buat gue dong satu"
"Ogah. Itu buat gue. Orang sakit makan bubur noh"
Camele menatap makanan runah sakit yang sudah tersedia dia atas meja. Seporsi bubur putih dengan berbagai sayuran dan juga buah-buahan.
Darres ikut menatap makanan yang ditunjuk Camele dengan dagunya. Matanya menatap horor seporsi bubur lengkap dengan sayur mayur.
"Huek,
Mending gue puasa aja daripada makan begituan. Cepet buatin gue itu. Gak pake lama"
"Hahaha. Enak aja lo. Gue mau buat punya gue dulu. Kaciaan delo abang aku yang malang. Udah terima nasib aja lo"
Darres menatap Camele tajam. Melihat adiknya itu berjalan ke arah dispenser. Menghidupkan air panas dan memasukkan bumbu-bumbu yang sudah disediakan.
Harumnya menjalar kemana-mana.
"Sial" gumam Darres menatap betapa adiknya menikmati santapan nikmat nya itu.
"Camele, jangan sampe gue lempar ya tuh mie nya. Bagi gk!?!? "
Camele menjulurkan lidahnya sambil mengacungkan jari tengahnya. Dia lanjut menyantap mie yang tersaji di depannya dengan hikmat tanpa peduli pada Darres yang terus menatapnya.
Melihat perangai Camele yang tak akan mau memberi sedikit untuknya, pandangan Darres lagi-lagi tertuju pada seporsi bubur dengan aneka sayur mayur. Darres menegak liur sambil bergidik ngeri.
Demi apapun. Darres tak kan pernah menyantap makanan itu walau dirinya harus menahan lapar seharian penuh.
"Memang adek kurang ajar"
Lalu keduanya hening sesaat. Hanya suara televisi yang memenuhi ruangan luas itu.
"Eh btw, kenapa tadi lo lari -lari kayak dikejar setan?"
Uhuk..uhuk..uhuk...
"Aduh. Uhukk. Air air"
Camele merampas gelas yang tadi diletakkannya di samping kakinya. Diteguknya air itu hingga habis tak bersisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRAHARDI [Tamat]
ChickLitini sedikit cerita yang kutuliskan tentang prahardi si manis yang memiliki hati setulus samudra dan tutur selembut sutra selamat memasuki dunia prahardi dan segala kepunyaannya Amaze cover by : @queenofdraw
![PRAHARDI [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/217298413-64-k59556.jpg)