Langit di atas cerah sekali. Suasana pagi yang menyejukkan juga menyelingi jatuhnya tanah itu untuk menutupi.
Tidak banyak yang berada disana. Karena ini adalah jam produktif orang-orang untuk bekerja maupun menuntut ilmu.
Ketika liang itu sudah tertimbun sempurna dan seorang pemimpin keagamaan menutup ritual pemberkatan untuk terakhir kalinya, tak ada isak tangis yang terdengar. Tak ada air mata yang menetes.
Hardi masih terdiam ditempatnya. Disampingnya Reihan hanya menatap gundukan tanah itu. Orang-orang mulai bepergian meninggalkan pemakaman.
Seorang lelaki berumur berjalan mendekati Hardi. Ditatapnya dua pemuda itu. Dia bahkan tidak tau yang mana wajah asli sang ahli waris.
"Untuk Prahardi, saya akan menelfon untuk semua yang harus diselesaikan. Saya turut berduka. Tetapi saya harus pergi terlebih dahulu. Permisi"
Lalu orang itu pergi. Meninggalkan Hardi dan Reihan yang masih terdiam membisu.
Reihan sekali lagi melirik Hardi. Dia tampak diam, namun Reihan tau ada luka yang sedang disembunyikan sendirian oleh sahabatnya itu. Menepuk pundak Hardi lembut. Reihan mencoba untuk memberikan ruang untuk Hardi sebagai waktu terakhirnya.
Reihan berjalan pergi ke mobil. Menunggu temannya itu dari dalam mobil. Menyaksikan Hardi yang langsung terduduk tanpa mengucapkan apapun dan hanya memandangi ukiran nama di atas kayu yang ditancap di atas tanah yang masih basah itu.
Reihan bisa melihat luka dari pancaran wajah Hardi meskipun dia tidak bersuara. Tetapi setetes air mata yang keluar dari mata Hardi seperti menandakan bahwa sakit yang dideritanya berat sekali. Dan dia sendirian.
Hingga Hardi masuk ke mobil dan tanpa mengucap apapun juga. Reihan berusaha memikirkan langkah selanjutnya. Dan yang terbesit di otaknya hanyalah membawa Hardi pergi dari tempat itu dan selalu bersamanya.
"Tolong Rei, bisa antar saya ke rumah?"
Reihan menatap Hardi sedih. Padahal rencananya dia akan mengajak Hardi ke suatu tempat untuk menghibur temannya itu.
"Ok, mungkin lo emang butuh waktu sendiri."
Reihan memegang bahu Hardi.
"Tapi kapan pun lo butuh seseorang, lo tau gue bisa diandelin. Tolong, jangan nyimpen semua nya sendirian Har. Ada gue disini"
Lalu dia tersenyum lembut. Menyalakan mesin mobil dan membawa Hardi pulang ke rumah.
----------------
Hardi menatap pintu rumah nya. Tampak mewah sekali. Namun semua hanyalah semu bagi dirinya. Semuanya tampak tidak nyata. Hidupnya. Orang-orang di sekitarnya.
Saat ini Hardi sedang tersesat di suatu titik yang sulit ditemukan. Hardi sedang tidak terkontrol oleh pikirannya sendiri.
Saat dibukanya pintu itu, Anthony berada di ruang keluarga. Menyaksikan siaran televisi padahal ini bukanlah hari libur.
Saat ini, Hardi berharap akan mendapat sebuah pelukan. Mendapat sebuah tempat untuk pulang. Mendapat sebuah perhatian dan juga perlindungan untuk menyadarkannya.
Hardi berharap sekali.
"Kau sudah kembali?. Saya baru saja akan pergi ke rumah sakit."
Hardi menatap Anthony terus. Bukan kata-kata itu yang diharapkannya. Hardi berharap Anthony akan menanyakan keadaannya apakah baik -baik saja.
"Kenapa? Kau tampak bersedih. Apa terjadi sesuatu?"
Iya. Itu adalah hal yang diharapkan Hardi dikatakan oleh ayahnya sendiri. Kakinya beranjak maju perlahan.
"Iya pa, Paman Esi meninggal pagi ini. Hardi baru saja kembali dari pemakaman."
Langkah Hardi terus berjalan perlahan. Anthony tersenyum simpul. Lalu sebuah kalimat menyakitkan yang keluar dari mulutnya membuat langkah Hardi terhenti seketika.
"Paman Esi?. Dia yang sering kau kunjungi itu ya?. Kudengar-dengar mayatnya harus bermalam di rumah sakit karena walinya tidak datang sama sekali. Aku mendengar dari pengacara yang kebetulan rekan kerjaku."
"Kasihan sekali ya dia. Padahal katanya dia hidup sebatang kara dan tidak punya keluarga lagi. Lalu dia mewariskan semua hartanya kepada wali yang bahkan tidak ada disaat-saat terakhirnya. Zaman sekarang memang banyak orang tidak tau diri. Aku kasihan sekali pada dirinya. Semoga Tuhan memaafkan orang-orang jahat seperti itu."
Saat itulah semuanya seperti hancur berkeping-keping bagi Hardi. Pendengarannya seperti berdenyit sakit sekali. Otaknya memaksa seluruh memori masa lalu yang menyakitkan. Diremasnya kepalanya kuat.
Matanya terpejam menahan sakit yang tiba-tiba menusuk kepalanya. Tubuhnya merosot jatuh kebawah.
Anthony menyaksikan semua itu terjadi. Sebuah perasaan aneh terselip begitu saja. Ada kepuasan dalam dirinya. Namun rasa menyesal itu juga datang.
Saat tubuh di depannya luruh ke lantai. Saat itulah Anthony pergi keluar begitu saja. Memanggil seorang anak buahnya untuk membawa tubuh ringkih itu ke dalam kamar.
Tanpa mengucap apapun lagi, Anthony pergi begitu saja dengan mobilnya. Melaju membelah jalanan dan meluapkan perasaan yang ada di dalam hatinya.
Meninggalkan perasaan hancur seorang anak. Dan tanpa sadar, menyebabkan sebuah trauma yang menyesatkan dan menghilangkan diri seseorang di dalam jurang yang sangat dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRAHARDI [Tamat]
Chick-Litini sedikit cerita yang kutuliskan tentang prahardi si manis yang memiliki hati setulus samudra dan tutur selembut sutra selamat memasuki dunia prahardi dan segala kepunyaannya Amaze cover by : @queenofdraw
![PRAHARDI [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/217298413-64-k59556.jpg)