20 is T.W.E.N.T.Y

7K 613 58
                                        

Anthony memarkirkan mobilnya di sebuah rumah sakit ternama. Dipegangnya kemudi dengan ragu. Hingga beberapa saat kemudian, Anthony turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit tersebut.

Langkahnya sedikit tidak pasti. Anthony sebenarnya tidak yakin akan melakukan ini. Tetapi sesuatu hal memaksanya untuk datang kembali ke tempat ini untuk menemui seseorang teman lama.

Hingga langkahnya berhenti di sebuah ruangan bertuliskan 'Psikiater'.

Anthony masuk ke dalam tanpa membuat janji sebelumnya.

Seorang berjas dokter itu menatap Anthony yang masuk begitu saja. Tanpa ketukan maupun salam, Anthony lekas duduk di sebuah sofa yang telah disediakan.

"Astaga hampir aja gue lempar tong sampah ini ke elu. Masuk gada akhlak nya"

Anthony hanya diam tidak membalas perkataan tersebut.

"Woi. Ajigile nih bapak tua. Udah lama ga ketemu datang-datang malah kayak orang bisu. Lo gak ada niat meluk gue?"

"Kev, gue mau nanya sesuatu yang penting. Jadi, bisa stop act like a child? You're old sir"

"Yang penting gue jomblo"

Kevin Pelvis. Seorang ahli Psikiater yang namanya sudah melambung ke mana-mana. Hampir semua yang ditanganinya adalah orang-orang penting yang membutuhkan bantuan psikis yang tergolong berat maupun ringan.

Kevil Pelvis seorang teman lama Anthony di SMA dulu. Delapan tahun yang lalu, Anthony sering datang kesini untuk mengantar putranya, Hardi.

"Apaan? Tumben banget lo datang kesini lagi. Lagi ada masalah?"

Anthony menatap temannya itu. Sedikit keraguan muncul dihatinya. Apakah yang dilakukannya ini benar atau dia sedang dipengaruhi oleh inisiatif seprang ayah.

"Kev, kejadian sembilan tahun yang lalu lo ingat kan?. Satu tahun setelah kecelakaan itu gue anter Hardi ke tempat ini. Dia ngelakuin terapi selama setahun sama lo."

Raut wajah Kevin tidak berubah. Sebagai seorang psikiater yang sudah banyak menangani kasus seperti ini, Kevin selalu bisa menjaga situasi dan ekspresinya setenang mungkin.

"Dulu lo bilang, kalo dia udah sembuh seratus persen kan?"

"Iya, emang kenapa?"

"Tapii..tadi dia mulai lagi kev. Kenapa?. Lo yang bilang dia udah sembuh dari trauma itu"

"Lo ngungkit masa lalu lagi ke dia An?."

Anthony tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya butuh sebuah penjelasan dan bukan sebuah pertanyaan yang menyulitkan untuk dijawab olehnya.

Melihat yang ditanya hanya diam dan tidak akan menjawab, Kevin menghembuskan nafasnya pelan.

Dia memang seorang dokter. Namun dokter juga punya sikap yang berbeda jika memperlakukan ke seorang pasien ataupun orang lain.

Kasus dalam masalah ini, Kevin menganggapnya sebagai masalah nya juga. Anthony dulu adalah teman dekatnya. Kevin merasa dalam masalah ini dia bukan bertindak hanya sebagai seorang dokter. Melainkan seorang teman.

"Lo apain lagi dia An?. Tolong jangan buat masalah baru lagi diantara kalian. Gue udah bilang masalah itu jangan diungkit-ungkit lagi. Hardi masih kecil waktu kecelakaan itu terjadi dan itu bukan salah dia sama sekali. Lo bahkan gak bisa nyalahin anak sekecil Hardi yang bahkan gak tau apa-apa."

"Hardi punya pengalaman mengerikan dan seharusnya orang-orang disekitar dia bisa memberikan semangat dan hal-hal positive sama dia. Bukannya dapat tekanan dan juga kemarahan. Dia bahkan harus berurusan sama Psikiater selama satu tahun di umur dia yang masih sangat kecil."

PRAHARDI [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang