Susana koridor rumah sakit itu terasa lenggang. Lantai yang hanya berisi kamar-kamar terbaik itu yang hanya berjumlah 10 kamar, jadi jarang terlihat manusia yang berkeliaran kecuali disaat jam kunjungan oleh dokter maupun perawat.
Hardi mengusap matanya. Badannya terasa pegal karena hanya beralaskan kursi besi yang keras.
Hardi mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya. Dipandanginya sekitar, hingga berhenti pada sebuah jam. Sekitar 1 jam lagi, sekolah akan dimulai. Tetapi Hardi bingung apakah dia akan berangkat ke sekolah atau menunggu ayahnya dulu.
Mencoba meluruskan kakinya yang tertekuk sepanjang malam, Hardi melangkahkan kakinya ke kaca. Darres masih terlihat terlelap, tetapi tv di ruangannya menyala.
Hardi menyernyitkan dahinya.
'Mungkin kak Darres terbangun tadi pagi'
Hardi berniat masuk. Tapi diurungkannya. Hardi takut akan menimbulkan kegaduhan jika nekat menampilkan wajahnya di pagi hari seperti ini.
Tanpa disadarinya bahwa Darres tidaklah tertidur. Pria itu hanya berpura-pura memejamkan matanya saat melihat bayangan seseorang yang akan berjalan ke jendela kamar.
Darres tau itu Hardi. Darres sudah terbangun 5 menit lebih dulu dibanding Hardi. Berjalan sendiri ke toilet dengan ditemani oleh tiang infus miliknya.
Saat ingin kembali, Darres tak sengaja melihat ke jendela sekedar untuk melihat suasana diluar. Tetapi malah adiknya itu yang ada disana. Tertidur dengan sebuah jaket yang menyelimuti tubuhnya.
Darres mengintip sedikit, dirasanya Hardi sudah tidak melihat ke arahnya lagi. Dihembuskannya nafasnya gusar. Dia tidak tau mengapa dia harus menutup mata. Apa mungkin karena dia tidak ingin goyah saat melihat pengorbanan adiknya yang tidur diluar menjaganya?.
Sementara itu Hardi mencoba mengecek kantongnya. Meraba kursi dan membuka kantung plastik obatnya. Namun dia tidak bisa menemukan telepon genggamnya. Hardi mencoba mengingat-ingat kembali.
Dan sepertinya hp nya tertinggal di mobil Reihan. Saat terburu-buru keluar, mungkin saja hp nya terjatuh atau memang tertinggal.
Hardi menghela nafas. Padahal niatnya akan menelfon Anthony dan bertanya apakah dia harus berjaga lagi atau tidak.
Ketika Hardi sedang menundukkan kepalanya, terdengar suara kegaduhan. Seperti suara orang yang berlari dari kejaran polisi.
Hardi menaikkan kepalanya. Menatap seseorang yang berlari kearahnya di pagi-pagi seperti ini.
"Har... har Paman Esi, cek hp lo sekarang juga"
Reihan memberi telepon genggam milik Hardi dengan tergesa-gesa. Hardi bingung sekali. Reihan tampak sangat khawatir. Dan Paman Esi menelefonnya di pagi hari. Bahkan yang lebih mengherankan lagi, Reihan yang sudah bangun di jam seperti ini.
Raut wajah Reihan membuat Hardi langsung melihat telepon genggamnya itu. Sebuah pesan masuk muncul di layar. Hardi membaca pesan itu perlahan.
Dengan jantung yang mulai tak karuan detaknya. Tangan Hardi seperti tidak terasa lagi. Tubuhnya tiba-tiba mematung.
Hardi, saya pengacara yang mengurus ahli waris tuan Resi. Kenapa kamu belum datang juga ke rumah sakit?. Harus ada keluarga atau wali yang menandatangani surat kematian dari rumah sakit agar jasad nya bisa dibawa.
Saat itu waktu terasa berhenti bagi Hardi. Semuanya terasa memuakkan. Semuanya terasa menyakitkan.
Ingatan kelam itu tiba-tiba menerobos masuk dan menghancurkan semuanya. Pikiran Hardi terasa kosong.
"Ahahaha ini apa-apaan Rei? Siapa yang meninggal?. Ada-ada aja. Ini mungkin nomor penipu, kita harus hati-hati."
Reihan menatap Hardi dalam. Temannya itu tampak seperti orang yang tidak sadar. Reihan semakin sedih melihatnya.
"Har. Lo harus cepat ke rumah sakit itu sekarang juga Har. Rumah sakit butuh tanda tangan elo sebagai orang terdekatnya."
"Lo ngomong apa sih Rei?. Lo mabuk?"
Reihan menghembuskan nafasnya kuat. Pikirannya juga semakin kacau. Kenapa semuanya tiba-tiba saja terjadi bertubi-tubi kepada Hardi dari kemarin.
Reihan menarik tangan Hardi kuat. Ini adalah saat dimana Reihan yang harus bertindak untuk menyelamatkan temannya itu.
Sekarang semuanya terasa seperti teka-teki bagi Reihan.
Hardi.
Keluarganya.
Dan semua kenangan buruk yang dimiliki temannya yang satu itu.
Yang sebelumnya hanya seperti kertas putih baginya,
Ternyata kertas itu berisi banyak sekali tulisan di baliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRAHARDI [Tamat]
ChickLitini sedikit cerita yang kutuliskan tentang prahardi si manis yang memiliki hati setulus samudra dan tutur selembut sutra selamat memasuki dunia prahardi dan segala kepunyaannya Amaze cover by : @queenofdraw
![PRAHARDI [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/217298413-64-k59556.jpg)