22 AJA

6.6K 546 22
                                        


Entah apa yang merasuki Anthony pagi ini. Dirinya tampak sudah siap dengan segala kepentingan yang akan dibawanya ke kantor. Namun belum juga menunjukkan tanda-tanda akan segera berangkat.

Darres yang menatap gelagat aneh ayahnya itu pun heran. Anthony tampak seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.

Dilihatnya jam yang ada di pergelangan tangannya. Masih terlalu pagi untuk dirinya mengantar Camele  pergi ke kampus. Dan juga masih terlalu pagi juga jika Anthony berangkat ke kantor.

Namun biasanya Anthony juga sudah pergi di jam seperti ini.

Camele pergi ke kamarnya setelah makan pagi tadi selesai. Darres yang menunggu pun hanya bisa menyaksikan siaran kartun di televisi.

Darres melihat Anthony yang seperti memeriksa beberapa dokumen. Namun Darres tau betul bahwa pikiran Anthony bukan terarah pada kertas-kertas tersebut.

Mencoba untuk tidak peduli, Darres hanya fokus pada tayangan di televisi.

Sesekali Anthony melirikkan matanya ke atas. Sesuatu menahannya pergi terlebih dahulu pagi ini. Menggebu-gebu seperti akan mendapat kejutan besar.

Dokumen-dokumen di depannya hanyalah sebuah alibi. Anthony sedang bersembunyi dari perasaan yang tidak ingin ditunjukkannya secara langsung. Ciri khas seorang Anthony.

Hingga suara pintu terbuka langsung mengalihkan pandangan Anthiny cepat. Dan gerak-gerik itu dilihat dengan jelas oleh Darres.

Sedetik kemudian wajah ayahnya terlihat murung sesaat. Darres melihat siapa yang turun ke bawah, dan ternyata Camele.

'Papa kenapa sih aneh banget'. Gumamnya dalam hati.

"Loh papa belum berangkat, tumben. Nanti macet loh pa kalau kesiangan"

Melihat Darres dan Camele menatap dirinya bersamaan, Anthony pun menghela nafasnya.

"Hmmm ini papa mau berangkat"

'Arghh sial, kenapa dia belum turun juga. Aku gak tau mau ngasi alasan apalagi'

Dibereskannya semua dokumen yang sengaja ditebarkannya di atas meja. Anthony sudah berusaha menunggu Hardi turun ke bawah. Namun kenapa anaknya itu tidak turun-turun juga.

"Ya udah, papa berangkat dulu ya".

Ucapan Anthony memang ditujukan kepada kedua anak kembarnya. Namun matanya malah mengintip lantai dua, berharap pintu itu lekas terbuka.

Dengan lesu, ditentengnya tas kantor hitam itu masuk ke dalam mobil. Padahal Anthony ingin melihat Hardi pagi ini.

"Papa hati-hati ya di kantor. Jangan kecapean". Ucap Camele sambil merapikan dasi ayahnya.

Darres mengambil tangan Anthony dan menyalimnya. Camele mengikuti apa yang dilakukan abangnya itu. Namun Camele juga memberikan sebuah kecupan di pipi Anthony.

Tiba-tiba Anthony terpikirkan sesuatu yang membuatnya semangat kembali.

"Aduh papa lupa, ada dokumen papa yang tinggal di kamar"

"Udah biar Camele aja yang ambil pa. Bentar ya"

Anthony menarik tangan Camele lembut.

"Ehh ga usah sayang, biar papa aja. Nanti kamu ga tau dokumen yang mana"

Lalu kakinya melangkah lagi masuk ke dalam rumah. Menaiki tangga itu satu persatu. Anthony seperti remaja yang sedang menunggu pujaan hatinya. Sangat mirip sekali.

Selama di perjalanan hingga sampai ke kamar dan mengambil dokumen asal, Anthony terus merapalkan doa di dalam hati agar pintu yang diharapkannya terbuka segera terbuka.

PRAHARDI [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang