“Mau kemana lo, Vie?” tanya sang adik, Genta yang sedang rebahan di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Vievy yang sudah berpakaian rapi seperti mau pergi jadi berhenti di depan pintu lalu menoleh kepada Genta.
“Gue mau ke pensi sekolah. Di ajak Zaidan,” balas gadis itu santai lalu beranjak meraih sepatu converse putihnya dari rak sepatu. Kemudian ia duduk lesehan di teras untuk memakai sepatu tersebut.
“Dih lu nggak malu ke sana?” tanya Genta lagi, kali ini membuat Vievy jadi gemas ingin menabok adiknya itu tapi ia urungkan niatnya karena malas bertengkar. Gadis itu menoleh sedikit ke arah Genta.
“Ngapain malu sih?” kata Vievy meninggikan suara, “Gue udah nggak peduli sama kata-kata orang, yang penting gue bahagia!”
Genta jadi terkekeh, “Iye iye, bagus dah kalo lo udah sadar. Gue cuma nggak pengen aja ngeliat lo sedih lagi, Vie. Biar bagaimana pun lo itu kakak gue satu-satunya.”
Vievy mencibir tak percaya, “Tumben lo ngomong yang ngenakin kayak gitu? Mentang-mentang gue udah mau pergi ke Paris ya lo jadi baik-baikin gue gini?”
Genta memutar bola matanya kesal dengan reaksi kakaknya tersebut, “Serah lo.”
Vievy berdiri setelah sepatunya telah terpasang sempurna. Kemudian ia pamit kepada Genta lalu segera berjalan keluar pagar. Vievy memutuskan untuk jalan kaki saja ke sekolah, sekalian mengenang memori-memori indah masa SMAnya yang harus berakhir lebih cepat dari yang seharusnya.
Vievy tidak apa-apa dengan hal itu. Kini hatinya sudah tak memiliki rasa dendam lagi. Berkat serentetan kejadian yang menguji batinnya, Vievy jadi belajar banyak. Vievy belajar tentang ketenangan hati. Tentang menghadapi masalah. Tentang kesabaran. Tentang cinta.
Sesuatu yang tidak mungkin ia peroleh dengan belajar di sekolah. Sesuatu yang lebih penting untuk ia ketahui agar dapat menjalani hidup dengan baik. Vievy benar-benar sudah membaik sekarang. Rasanya seperti baru saja hidup kembali. Menyegarkan.
Ponsel Vievy berdering menandakan panggilan masuk, dengan sigap gadis itu meraihnya lalu menekan tombol hijau. “Ya, kenapa Dan?”
Iya. Zaidan yang telepon. Di sela-sela kesibukannya, lelaki itu masih sempat menghubungi Vievy. Padahal Vievy sudah bilang padanya untuk tidak mencemaskan dirinya dan fokus saja menjadi panitia acara pensi.
“Mau aku jemput nggak, Vie?” kata Zaidan di seberang sana langsung menawarkan.
“Nggak usah. Kamu kan lagi sibuk di sekolah, lagian aku udah mau sampe kok ini lagi jalan kaki,” balas Vievy tak ingin merepotkan. Vievy merasa dirinya sudah banyak merepotkan Zaidan selama ini, dia tidak ingin mengganggu kesibukan lelaki itu.
“Bener? Emang nggak bareng Okta?” Zaidan masih ingin memastikan.
"Beneran. Aku nggak bareng Okta soalnya dia nggak naik mobil, mobilnya Langit mogok jadi mereka pake motor."
Zaidan ber-oh ria seperti paham dengan penjelasan Vievy. Namun selanjutnya ia kembali menawarkan diri untuk menjemput Vievy membuat gadis itu mengelus dadanya. Terkadang Zaidan bisa berubah menjadi lelaki super perhatian yang membuat Vievy jadi kewalahan menghadapinya.
Vievy menghembuskan napas panjangnya, bersiap untuk mengomel. “Nggak papa! Udah kamu fokus aja jadi panitia, nanti aku kabarin kalau udah sampe sekolah. Bye!”
Vievy segera mematikan sambungan telepon tersebut sambil tersenyum geli membayangkan wajah Zaidan yang mungkin jadi kesal karena ia yang seenaknya memutuskan. Vievy memandang kejauhan, melihat bangunan sekolahnya yang semakin dekat. Gadis itu mempercepat langkahnya tak sabar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vievy [COMPLETED]
Ficção AdolescenteSudah bertahun-tahun Vievy hidup dibayangi dengan masa lalunya. Sembunyi dalam kepribadian juteknya yang seakan menjadi tameng. Tameng dari segala keingintahuan orang-orang tentang masa lalunya. Hidup Vievy memang tidak pernah tenang. Namun gadis it...
![Vievy [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/96958223-64-k940009.jpg)