Harapan dan kenyataan

21 0 0
                                        

"Jika masih belum selesai menulis satu cerita, jangan libatkan tokoh lain untuk menjadi alur cerita"

***

Minggu pagi

Lauren dan daren seperti biasa menghabiskan waktu bersama lagi di hari libur ini, dari pasca pria itu meminta nya 'backstret dengan nya semakin hari mereka semakin dekat saja seperti prangko tapi itu hanya berlaku di luar sekolah ketika di saat sekolah jangan kan bertegur sapa pria itu tak pernah menoleh sedikit pun padanya.

Kadang banyak pertanyaan yang setiap detik nya ada di benak lauren. Kenapa? Kenapa? Kenapa pria ini meminta nya menjalin hubungan tapi tanpa ikatan?

Kenapa dia tak mau memberi warna pasti pada lauren yang perlahan terjebak di zona pria itu? Kenapa di sekolah mereka tampak seperti orang asing? Apa dia hanya ingin mempermainkan lauren saja? Tapi kenapa? Apa alasan nya?

Kenapa tiap melihat wajah nya yang dia lihat bayangan dari masalalu nya? Sebenar nya ini itu kenapa? Pertanyaan pertanyaan itu seperti lagu yang terus di putar ulang tak henti henti.

"Kita mau kemana?"

"Ke rumah aku"

"Ngapain"

"Bunda sama adek aku selalu nanyain kamu terus"

Memang semenjak daren dekat dengan lauren perlahan sikap dinginnya pada keluarga nya perlahan luntur tergantikan oleh dirinya yang dua tahun lalu yang begitu humoris, hangat, dan terbuka.

Selama di dalam perjalanan menuju rumah cowo itu tak ada yang memulai pembicaaran jadi hanya keheningan yang menyeteru diantara mereka.

Keduanya sampai di depan rumah pria itu, daren langsung keluar membukakan nya pintu pada lauren dan langsung mengengam erat tangan mungil itu. Sang empu yang tangan nya di gengam erat tak berkutik sama sekali entah lah dia merasa nyaman jika pria itu ada di samping nya.

Ceklek

"Asalamualaikum"

"Waalaikum salam, kak mana pesenan bunda"

"Ini bun pesenan ya" sahut cowo itu sambil merilik lauren sekilas, yang di lirik tampak tak paham sedikitpun dia hanya tersenyum ramah pada sisil.

"Sini sini calon mantu bunda"

"I iya tan"

"Isshh kamu ma ya udah di bilang jangan panggil tante pangil bunda aja" sahut nya riang sambil merangkul lauren dan mengajak nya duduk di sofa.

"Tan eh maksud aku bun, etta mana ko gak kelihatan?"

"Hmm dia lagi pergi sama kakak nya" ucap nya kikuk

"Kakak nya? Bukan nya daren barusan masuk kamar ya?"

"Ahk udah lah gak penting, mau bantu bunda bikin cake gak?"

"Ayooo" Sahut nya antusias pasal nya itu hobby lauren kalo berkunjung ke rumah sahabatnya dan sudah lama tak membuat cake lagi setelah dia gak pernah datang lagi ke rumah si cacing kremi itu.

Daren sudah selesai membersihkan dirinya, dia melangkah kan kaki nya ke bawah lagi, matanya mengedar pandang mencari lauren dan bunda nya yang tak ada di sofa, seingat dia tadi sebelum pergi ke kamar mereka lagi berdua ngobrol di sofa sekarang mereka pergi kemana.

Destiny, Why me?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang