"Banyak hal sederhana di dunia. Salah satunya; mencintai manusia yang gak tau hatinya untuk siapa. Hal sederhana, tapi paling ampuh bikin patah hati berhari-hari."
HESPER
[Butuh asupan spam komen di paragraf cerita.]
"Al, lo masih inget buku saku kita, kan?"
Pertanyaan itu terlontarkan dari mulut Tara sewaktu mereka sudah berada di samping bagasi. Altara membalikkan badannya, menatap lembut gadis yang masih menyisakan ruam rindu di hatinya.
"Kenapa?"
Tara menatap snikersnya, meringis kecil, ragu ingin mengatakan hal ini atau tidak, ditatapnya mata Altara dengan lekat-lekat, "Jangan marah ya, tapi?"
Altara mengangguk, "Nggak marah."
Tara berlari ke arah bagasi, mengambil buku yang dia taruh meja pendek seukuran dengkul kaki di sudut ruangan. Sedikit berdebu karena sebulan dibiarkan menatap di sana sendirian. Tara menyapu pelan debu dengan tangannya lalu kembai berlari ke hadapan Altara sambil menujukkan lembaran pertama.
"Lo dapet poin 100. Ditambah 70 waktu itu jadi 170. Berarti lo dihukum, kan?"
Altara terkekeh mendengar pertanyaan lugu Tara, wajah gadis itu terhalang lembar buku yang tertulis; saling ninggalin satu sama lain 100 point. Itu peraturan yang dia buat, tapi dia langgar juga. Jadi, hukuman pantas dia terima. Lalu kemapa gadis ini masih bertanya?
"Mau hukum apa?" tanya Altara sambil menutup buku itu dan mengambil alihnya dari tangan Tara.
"Gue mau shampoan di salon sambil dipijet manja, lo minta ke mba salonnya lo yang nyampoin gue ya, ya, ya?"
"Iya."
Tanpa banyak berpikir lagi, Altara memakai helm fullfacenya, menancapkan kunci motor dan menguakkannya. Duduk di jok depan, mulai mengeluarkan motornya dari bagasi, tersenyum dari balik helm kala mendengar sorakan gembira Tara.
Tara mengambil helmnya dan memakai helm itu setelah duduk di jok motor belakang. Altara dan Tara dengan motornya mulai melaju membelah jalan menuju salah satu mall.
***
Di mall, mereka berdua berjalan menuju salah satu salon di dalam sana. Altara berjalan lebih dulu seperti biasa, sedangkan Tara mengikutinya dari belakang dengan tergesa-gesa, "Heh, emang lo tau salonnya ada di mana?"
"Enggak. Kan lo tau."
"Yaudah gue yang di depan, kenapa gue yang ngikutin lo gini?"
Altara memberhentikan langkahnya. Membiarkan Tara berjalan lebih dulu di depannya. Langkah gadis itu pelan, memaksa kaki Altara untuk berjalan sangat pelan mengikutinya.
Seorang cowok berjalan berlawanan arah dengan mereka. Matanya terlihat menatap ke sisi kanan dan kiri tiada henti. Sampai akhirnya bola mata itu menatap Tara di depannya, cowok itu berjalan pasti ke hadapan Tara.
"Tau tempat ramen nggak?" tanyanya.
Tara berhenti, raut wajahnya menampakkan bingung sebelum akhirnya dia menjawab dengan anggukan, "Tau."
"Di mana? Gue nyari-nyari gak nemu."
"Di lantai empat. Lantai dua emang nggak ada."
"Boleh minta tolong anter nggak?"
"Nggak. Lo cari sendiri aja di lantai empat, kita ada urusan juga, bukan cuma lo doang," celetuk Altara yang kini berdiri di samping Tara. Tangannya mengenggam tangan Altara dan menarik pelan, seolah menyuruh Tara untuk tetap berjalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
HESPER (SELESAI)
Novela Juvenil[BEBERAPA PART DIPRIVATE, FOLLOW DULU BARU BISA BACA] ⚠️UDAH SELESAI⚠️ Kita memang sama. Memiliki sinar cahaya. Namun, apa kita bisa merangkai rasi bersama? Bintang bisa redup kapan saja. Dan, faktanya dia memang benar benar sedang meredup. Apakah b...
